Website Kuliah: Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Sabtu, 20 Februari 2021

Bagaimana Cara Bernazar? Jangan Beramal Tanpa Ilmu

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Syarat Sah Nazar:

1. Harus dilafadzkan/dituturkan/diucapkan, Contoh: "Aku wajibkan atasku Shalat Dhuha", kalau di dalam Hati, maka  TIDAK SAH Nazarnya
2. Sesuatu yang diNazarkan adalah Perkara Sunnah. Seperti puasa/shalat sunnah, Sadakah, dll. Nazar Tidak Sah kalau ditunjukkan pada perkara MUBAH(seperti:"Kalau aku lulus kuliah, Aku baGundul(kepala)", "Kalau  nilaiku A, aku Makan Soto Banjar", dll), demikian juga tidak Sah Nazar pada hal-hal yang Wajib; Makruh; apalagi pada perkara yang Haram.

Nazar ada 2 macam:

1. Nazar Muallaq/Bergantung, contohnya: "Apabila lulus Ujian, aku akan mentraktir kawan sekelasan(bersedekah)"
2. Nazar Munajjas/Muthlak/Secara Langsung/tanpa persyaratan,  Contohnya:" Aku Wajibkan atas diriku Sembahyang Tahajjud"

-Orang-orang Shaleh(Suluk perjalanan mendekatkan diri kepada Allah), mereka  banyak menazarkan perkara sunnah, agar mereka dapat membiasakan, tidak lemah, perhatian, disiplin, rajin untuk beribadah kepada Allah Swt., Seperti menazarkan untuk selalu shalat berjama'ah, shalat rawatib qabliyah&ba'diyah, puasa/shalat/sedakah sunnah lainnya...

Sumber : Pengajian ke 5  Kitab Taqrirat Sadidah  Al-Mukarram Guru K.H. Muhammad Bakhiet.A.M.

Semoga bermanfaat...Aamiin.
Share:

Kamis, 11 Februari 2021

PERUMPAMAAN KEHIDUPAN DUNIA

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

PERUMPAMAAN KEHIDUPAN DUNIA


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (45) الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا (46) 
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, ke­mudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, teta­pi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pa­halanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harap­an.


Ayat 45 Surah Al-Kahfi memaparkan perumpamaan yang berlaku umum. Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw. memberi perumpamaan kepada manusia seluruhnya tentang masa wujud, daya tarik, dan keindahan kehidupan dunia, yakni bahwa dunia adalah serupa dengan air hujan yang Allah turunkan dari langit dan menyirami tumbuh-tumbuhan, lalu air itu bercampur dengan tanah yang mengandung benih tumbuh-tumbuhan yang berada dalam tanah sehingga benih itu tumbuh subur menghijau dan matang, lalu dengan amat cepat tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering kerontang, diterbangkan oleh angin. Demikian Allah Mahakuasa menghidupkan dan mematikan, menyuburkan tumbuhan dan melayukannya, dan demikian juga sifat dan kesudahan kenikmatan hidup duniawi. Memang Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ayat 46 menyebut dua dari hiasan dunia yang sering kali dibanggakan manusia dan mengantarnya lengah dan angkuh. Di sini dinyatakan bahwa: Harta, yakni segala sesuatu yang memiliki nilai material, baik uang, bangunan, binatang, sawah ladang, kendaraan, dan lain-lain, demikian juga anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Kesemuanya tidak abadi dan bisa memperdaya manusia, tetapi amalan-amalan yang kekal karena dilakukan demi karena Allah lagi saleh, yakni sesuai dengan tuntunan agama dan bermanfaat, adalah lebih baik di sisi Allah serta lebih dapat diandalkan untuk menjadi harapan. (M. Quraish Shihab, Al-Lubab: 299-300)
Share:

Jumat, 05 Februari 2021

PAKAIAN ATRIBUT KEAGAMAAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Padahal Penduduk Indonesia Mayoritas menganut agama Islam,  sedikit tertahan untuk menjalankan ajaran agama yang dianutnya

Kalau menjalankan syariat, seperti menutup aurat, diwajibkan oleh Agama. Termasuk amar ma'ruf bagi yang memerintahkannya. Jika misalkan membiarkan si anak  yang muslim membuka aurat(misalkan tanpa pakaian Islami yang menutup aurat) berarti membiarkan kemungkaran. Apa jadinya nanti kemungkaran dibiarkan secara struktur? 

 نعوذ بالله من ذلك

Kalau pendidikan tak boleh melarang dan tak boleh mewajibkan soal pakaian atribut keagamaan(berdasarkan keyakinan agamanya masing-masing), ini tak lagi mencerminkan pendidikan. Memang usia sekolah(sebenarnya termasuk orang dewasa) itu perlu dibiasakan bahkan dipaksa melakukan yang baik(مجاهدة النفس)dari perintah agama karena untuk pembiasaan karakter mulia. 
Sebagaimana konsep pendidikan Imam Al-Ghazali, dalam pendidikan diperlukan muzahadatunnafsi (مجاهدة النفس), kesungguhan dalam melatih diri. Setiap diri manusia perlu membiasakan sifat-sifat ataupun perbuatan-perbuatan terpuji, seperti menutup aurat, berpakaian sesuai anjuran agama. Walapun pada awal pembiasaan agak berat melakukan perbuatan kebaikan. Namun dengan kesungguhan hati, berjuang melawan hawa nafsu, akhirnya perbuatan baik itu menjadi jadi diri akhlak mulia.

Share:

Selasa, 02 Februari 2021

Mencintai saudara kita, sama seperti cinta pada diri sendiri

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Mencintai saudara kita,  Seperti Mencintai Diri Sendiri
 
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)



فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ (رواه مسلم)

"Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dam hari akhir, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” 


Contoh: 
-Ketika dibeli sesuatu dia cerewet, batawar banar, namun begitu dia menjual(pedagang) mendapat keuntungan yang berlipat ganda.(Celaka, tidak mencintai saudaranya-Imannya lemah)
-Contoh lain: Menjual sepeda dengan keuntungan 100 ribu. Apakah kita senang seandainya dia yang membelinya? Jika tidak senang, berarti dia tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

-Kitalah yang menjadi ukuran, bukan ukuran Si Pembeli (APAKAH SENANG ATAU TIDAK): Contoh: modal 10 ribu, dijual menjadi 100 ribu. Hal ini dipertimbangkan bagaimana seandainya dia yang membelinya 100 ribu, sedangkan dia tahu modalnya hanya 10 ribu. Senang atau tidak?
Share:

Sabtu, 30 Januari 2021

Fudhail bin Iyadh, Bekas Perampok yang Jadi Gurunya Imam Syafi'i

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Fudhail bin Iyadh Bertaubat karena mendengar Bacaan Al-Qur'an

Fudhail bin Iyadh adalah salah seorang guru Imam Syafi'i. Sebelum dikenal sebagai ulama besar pernah menjadi perampok. 

Di wilayah Khurasan (Asia Tengah), pada abad kedelapan hiduplah seorang perampok, Fudhail bin Iyadh. Sosok yang biasa melakukan kejahatan di rute antara Abu Warda dan Sirjis itu amat ditakuti. Jangankan bertemu muka. Siapapun pengelana jalur itu bila mendengar namanya disebut saja sudah merinding ketakutan.

Pada suatu malam ketika ia hendak mencuri di rumah seseorang, ia mendengar pemilik rumah sedang membaca Alquran. Ayat yang dibaca adalah surat Al-Hadid 16: 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

Artinya, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk menundukkan hatinya  mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”


Mendengar bacaan ayat itu, Fudhail bin Iyadh terkesima, membekas di hatinya, dan hatiinya seakan luruh dan benar-benar tunduk pada peringatan Allah SWT. Dari lidahnya terlontar kata-kata yang berasal dari batinnya, ''Ya Allah, sudah tiba waktunya bagi kalbuku ini untuk tunduk dan bersimpuh di bawah ridha dan karunia-Mu.''  Akhirnya Fudail bin Iyadh  bertaubat dan menuntut ilmu, hingga menjadi Ulama besar di zaman itu.
Share:

Jumat, 29 Januari 2021

KH. Muhammad Muhsin (Ulama Kota Palangka Raya)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

KH. Muhammad Muhsin (Ulama Kota Palangka Raya)


KH. Muhammad Muhsin dilahirkan di Taniran Kandangan pada tanggal 9 september 1967. Beliau berasal dari keluarga yang latar belakangnya adalah alim ulama. Ayah beliau bernama KH. Jamaluddin.
KH. Muhammad Muhsin dibesarkan di lingkungan pendidikan agama dan  sangat kuat dan patuh dalam menjalankan syariat Allah SWT.
KH. Muhammad Muhsin dalam perjalanan beliau menuntut ilmu agama dimulai  sejak kecil berada pada asuhan orang tua sendiri. Sehingga orang tua beliau yang pertama kali mengajarkan agama kepada KH.Muhammad Muhsin secara langsung. 
Dalam menuntut ilmu beliau berguru pada KH. Zaini bin Abdul Ghani(Guru Sekumpul) dan beliau juga melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren terkenal di Kalimantan Selatan yaitu  Pondok Pesantren Darussalam Martapura Kabupaten Banjar. Guru Muhsin berhijarah di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah sejak tahun 1994.
Awal mulanya beliau berhijrah di Kota Palangka Raya yaitu, sebagai Ta'mir/kaum Masjid Sabilal Muhtadin selama lima tahun dan KH. Muhammad Muhsin juga orang pertama yang menjadi kaum Masjid Sabilal muhtadin. Disitu juga KH. Muhammad Muhsin ikut membantu memeriahkan masjid dengan cara membawa anak-anak dan remaja disekitar Masjid untuk sama-sama belajar seni habsy, dan juga mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak atau remaja Masjid Sabilal Muhtadin. 
KH. Muhammad Muhsin mulai dakwahnya di Kota Palangka Raya sejak tahun 1995, sejak itu masyarakat disekitar Kota Palangka Raya mulai  mengundang beliau untuk mengisi acara-acara keagamaan seperti acara Maulid Nabi, Isra’ mi'raz, Nuzulul Qur’an dan acara-acara keagamaan lainnya. Dengan berjalannya waktu beliau mendapatkan banyak usulan dari masyarakat Kota Palangka Raya lebih-lebih masyarakat di sekitar Masjid Sabilal Muhtadin untuk membangun sebuah majelis ilmu yaitu majelis taklim, nama majelis taklim yang ditetapkan adalah Majelis Ta'lim Ar-Raudhah, usulan tersebut bisa direalisasikan pada tahun 2005 namun kendalanya adalah terkait dengan dana sehingga majelis taklim Ar-Raudah yang dirintis belum bisa berjalan dengan baik, sehingga di tahun 2006 Majelis Taklim Ar-Raudhah tersebut bisa berjalan dengan baik. Beliau wafat , 18 Januari 2021, 5 Jumadil Akhir 1442 H. Pukul 14.40 WIB dan dimakamkan di Kubah Taniran Kandangan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Tengah.
                                 
Share:

Sabtu, 23 Januari 2021

Kategori orang yang mampu berhaji

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Kategori orang yang mampu berhaji (wajib):

Seseorang memiliki rumah(ataupun harta lainnya, seperti mobil, tanah, barang jualan, dan kebun), seandainya rumah/harta itu dijual, maka dia punya biaya dan mampu melaksanakan kewajiban haji. Walaupun ketika ia pulang, tidak memiliki rumah/menyewa. 

Tidak termasuk harta untuk dia  berusaha seperti memiliki toko. Karena Toko untuk berusaha diwajibkan dalam agama untuk nafkah keluarga, sedangkan memiliki rumah tidak diwajibkan.
  
Menurut Ulama :

لو تعارض الحج و شراء المسكن، قال الشيخ أبو حميد من أئمة  الشافعية يصرفه للحج

Kalau punya uang, namun hanya cukup beli rumah saja atau berhaji saja. Sehingga terjadi delimatis, antara berangkat melaksanakan Haji atau Beli Rumah, menurut Abu Hamid Ulama Syafi'iiyah :"Gunakanlah uang itu untuk berhaji"

Begitu juga punya Rumah, jika dijual rumah itu,  maka dengan uang hasil penjualannya  ia bisa melaksanakan Haji. Maka dia wajib menjual Rumah itu untuk Naik Haji. Demikian juga delimatis antara memilih kawin atau Naik Haji, maka pilihlah Berhaji.

Orang yang sebenarnya mampu melaksanakan Haji, namun ia enggan melaksanakannya, maka dia diancam oleh Allah Swt dengan Mati Su'ul Khatimah(dicabut Iman)/mati Yahudi atau Nasrani(Berpotensi akan keluar dari Islam).

Rasulullah sendiri memandang haji sebagai ibadah mulia yang sangat penting. Rasulullah dalam sebuah hadits mempersilakan umatnya yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji tetapi tidak melaksanakannya untuk mati sebagai non-Muslim.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا)


Artinya, “Rasulullah SAW bersabda:"Siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitullah dan ia tidak juga berhaji, maka ia boleh pilih mati sebagai Yahudi atau Nasrani. Allah berfirman dalam Al-Quran, ‘Kewajiban manusia dari Allah adalah mengunjungi Ka’bah bagi mereka yang mampu menempuh perjalanan,’’” (HR A-Tirmidzi dan Al-Baihaqi).

هذا الحديث رواه الترمذي (812) ، والبزار (861) ، والطبري في "تفسيره" (6/ 41) ، وابن أبي حاتم في "تفسيره" (3/713) ، والبيهقي في "الشعب" (3692) من طريق هِلَال بْن عَبْدِ اللَّهِ ، مَوْلَى رَبِيعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ البَاهِلِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الهَمْدَانِيُّ ، عَنْ الحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا) .


Besarnya Pahala Haji Mabrur(Haji yang diterima Allah Swt):

"Haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga dan dia seperti terlahir dari perut ibunya bersih tanpa dosa" Do'anya dikabulkan selama 40 hari sejak datang dari tanah suci.

Syarat untuk memperoleh Haji yang mabrur diperlukan:

1. Niat yang ikhlas (tanpa campuran lain, seperti sambil berdagang, menjenguk keluarga, agar dipandang orang lain);
2. Dana haji dari harta yang halal;
3. Melaksanakan tata cara haji dengan benar.

Syarat wajib haji ada lima macam, yaitu: Islam, balig, berakal, dan mampu. Mampu tidak hanya segi biaya tapi mencakup keamanan dan kesehatan, sehingga ia bisa menunaikan haji dengan sebaik-baiknya.


والله أعلم
Share:

BIMBINGAN AMALAN RUTIN MEMBACA AL-QUR'AN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN WIRID BACA AL-QUR'AN

Hendaklah seseorang yang ingin dicintai dan dikasihi oleh Allah Swt. memperbanyak membaca Al-Qur'an, merenungi maknanya, dan membacanya dengan tartil serta membesarkan kalam Allah Swt.

A. Amalan harian 7 Surah yang menyelamatkan (السبع المنجيات) yang dibaca tiap malam:

1. Alif Lam Mim As-Sajdah

Siapa yang mengamalkan membaca tiap malam "Surah Alif Lam Min As-Sajdah", maka  dia mendapatkan  : 1. Ilmu yang Yakin; 2. Diberikan kekuatan Islam, Iman, dan Tauhid.

2. Yasin
3. Ad Dhukhan
4. Al-Waqiah
5. Al-Mulk
6. Al-Insan
7. Al-Buruj

Jika tidak bisa baca semuanya, ambil lima surah:

1. Alif Lam Mim As-Sajdah
2. Yasin
3. Ad Dhukhan
4. Waqiah
5. Al-Mulk

Atau ambil empat surah:

1. Alif Lam Mim As-Sajdah
2. Yasin
3. Al-Waqiah
4. Al-Mulk

Tidak mampu juga, ambil tiga surah:
1. Alif Lam Mim As-Sajdah
2. Yasin
3. Al-Mulk

Atau tidak mampu juga, ambilah dua surah:
1. Alif Lam Mim As-Sajdah
2. Al-Mulk

Dari Jabir ra.: “Bahwasanya Nabi Saw. setiap malam tidak akan tidur, sebelum membaca kedua surat (yaitu:) As-Sajdah dan Al-Mulk/Tabaarak", (HR. Turmudzi).

Hadis lain menyebutkan "Barangsiapa membaca dua surat, yaitu surat Tabarakalladzi dan Alif Lam Mim Sajdah di antara Maghrib dan Isya, seolah-olah ia shalat sepanjang malam pada malam Lailatul-Qadar.  Sabda beliau lainnya, "Barangsiapa membaca dua surat tersebut, makaa ditulis baginya tujuh puluh pahala dan dijauhkan dari tujuh puluh keburukan." Riwayat lain menyebutkan, “Barangsiapa membaca dua surat tersebut, ditulis baginya pahala beribadah pada malam Lailatul-Qadar."
(Lihat :Mazhahirul-Haq dan Muhammad Zakaria, Fadhilah Amal, h.63)

Terakhir PALING MINIMAL membaca tiap malam surah :

1. Al-Mulk

Dari Nabi Saw., bahwasanya beliau bersabda: “Surat Al-Mulk itu, dapat memberi syafa'at kepada pembacanya sampai diampuni dosanya”. (HR. Turmudzi).

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Bahwasanya suatu surat di dalam Alquran mempunyai 30 ayat, yang memberikan syafaat kepada pembacanya sehingga diampuni oleh Allah dosa orang itu, yaitu: Tabarakal-lazi bi yadihil-mulk, Maha Suci Allah yang ditangan-Nyalah segala kerajaan.” (HR. Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Saya gemari supaya surah ini (Tabarakal-lazi bi yadihil-mulk) terdapat di setiap hati orang mukmin.” (HR. Al Hakim)

Nabi Saw bersabda: “Barang siapa membaca Tabarakal-lazi bi yadihil-mulk (Surah Al-Mulk) setiap malam, maka Allah Ta'ala akan menyelamatkannya dari siksa kubur.” (HR. An Nasa'i)
Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda:“Bahwasanya satu surah dari kitab Allah yang isinya 30 ayat, dapat memberikan syafaat pada seseorang pada hari kiamat, mengeluarkannya dari neraka dan memasukannya ke surga yaitu  surah "Tabarak".” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan beliau menghasankannya)

Kalau mampu mengamalkan tujuh surah, maka bacalah semua surah itu.  Atau ia hanya bisa membaca ketujuh surah itu secara rutin pada setiap malam Jum'at dan tidak  mengapa untuk di malam lainnya, ia hanya membaca empat surah. Yang penting adalah mengamalkan surah tersebut secara rutin. 
Seperti perkataan para Aulia Allah Swt:

"ما وصلنا إلا ما وصلنا بكثرة الأوراد، ولكن بمداومتها"
"Tidaklah kami sampai-kepada derajat/kedudukan yang kami telah sampai kepada derajat itu- dengan memperbanyak Wirid(amalan rutin), tetapi dengan mengekalkannya". 
Sedikit saja amalan, tapi kekal-rutin Istiqamah-, sehingga mengantarkan mereka pada derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

B. Bacalah Al-Qur'an tiap hari secara tertib(batarus) dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An Naas. 

Kita bisa menargetkan sekali khatam keseluruhan Al-Qur'an per tiga bulan. Atau ia jika tidak mampu khatam dalam tiga bulan bisa saja enam bulan atau paling minimal satu kali  dalam setahun untuk mengkhatamkannya. Semakin banyak khatam dalam setahun, maka akan semakin bagus. 
Kemudian bacalah Al-Qur'an  sambil merenungkan maknanya dan menjalankan adab-adabnya.

C. Adab bathin dalam membaca Al-Qur'an:

1. Hadir Hati(حضور القلب)/khusu' dia sedang baca Al-Qur'an. Apa yang di mulut begitu juga di hati.
2. Memahami kandungan maknanya(التفهم), walaupun sambil membaca terjemah Al-Qur'an atau bisa juga langsung paham dengan penguasaan Bahasa Arab(bagi orang yang berilmu);
3. Perasaan membesarkan/Ta'dzim Ayat Al-Qur'an yang dibaca (التعظيم), rasam terhadap kalam Allah Swt. Sebagiamana dapat dianalogikan-yang tentunya berbeda-, ketika seseorang membaca al-Qur'an dibanding dengan dengan membaca Surat Kabar;
4. Khauf(الخوف)/perasaan takut pada Allah Swt di saat membaca Ayat Al-Qur'an yang bercerita tentang siksa, kesengsaraan, ancaman, dan keburukan;
5. Berharap(الرجاء) kepada Allah Swt, yaitu mengharap termasuk golongan orang-orang yang diceritakan Allah Swt. dalam Ayat yang bercerita tentang rahmat, kasih sayang, nikmatbakherat, dan syurga; 
Sebagai contoh: ketika membaca ayat yang paling nikmat dalam Surah Al-Fatihah: (الرحمن الرحيم), tentu hati kita berbunga-bunga, hati merasa senang karena Allah maha pengasih dan maha penyayang. Kemudian kembali rasa takut ketika membaca (مالك يوم الدين), Raja pada hari kiamat. dst.
6. Niat menjunjung/akan melaksanakan perintah (نية الامتثال)Allah Swt. dari Ayat yang sifatnya memerintahkan; dan
7. Niat akan menjauhi larangan Allah Swt(نية الاجتناب) jika yang dibaca itu adalah ayat yang sifatnya melarang. 

Walaupun hanya membaca beberapa ayat, namun dilakukannya dengan adab/cara demikian, maka pahalanya lebih besar dari pada membaca Al-Qur'an keseluruhan yang tanpa mengetahui maknanya. Kita akan mendapatkan pahala yang tidak terhingga.

Membaca Al-Qur'an tiap satu huruf adalah 10 pahala, bagi orang yang membaca Al-Qur'an tidak tahu apa-apa, tidak paham apa yang dibaca, tidak paham maknanya. Bisa dilipatgandakan sampai 700 hingga tak terhingga. 
Adapun kebaikan orang yang membaca Al-Qur'an beserta dengan adab batin tersebut, maka pahala tiap satu huruf Al-Quran tidak ada yang tahu bilangan berlipat gandanya pahala itu, kecuali Allah Swt(Tidak 10 atau 700 lagi).
Membaca al-Qur'an satu ayat dengan paham maknanya beserta melaksanakan adab dhahir dan bathinnya, maka pahalanya lebih besar dari pada membaca Al-Qur'an satu khatam(berlalu tanpa mengetahui maknanya dan adab sempurna). Seperti perbandingan seseorang yang memiliki uang cuma 10 lembar saja tetapi seratus ribuan, dengan orang  punya uang satu kabat(satu ikat)yang hanya ribuan saja.

Janganlah membaca Al-Qur'an seperti orang-orang yang lalai. Mereka membaca Al-Qur'an dengan lisan yang fasih dan nyaring, sementara hatinya kosong dari mengagungkan Allah Swt dan khusu'(adab-adab bathin). Mereka tidak mengetahui maknanya serta tidak paham. Jika mereka mengerti maknanya tentu mereka mengamalkan, karena Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya apabila ia mengetahui  dan tidak mengamalkannya, maka tidak ada perpedaan antara orang Jahil dan orang berilmu(mengetahui) itu perpedaan, melainkan bahwa hujjah Allah Swt. lebih kuat(lebih berat) atas orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya itu. Dalam hal ini, tentu orang jahil lebih baik keadaan dari orang tersebut. Dapat dikatakan :
"كل علم لا يعود عليك نفعه، فالجهل أعود عليك منه"
"Tiap-tiap ilmu yang tidak kembali manfaatnya kepadamu, maka kejahilan lebih berguna bagimu dari pada ilmu itu"

والله أعلم

Sumber:  Risalah adab sulukil murid, h. 23.
Share:

Selasa, 19 Januari 2021

WASPADA: MERASA UMUR MASIH PANJANG

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

WASPADA MERASA UMUR MASIH PANJANG

Sifat terpuji: Merasa Hidup tidak akan lama lagi(قصر الأمل), Umur di dunia sangat pendek, Usia tidak diketahui, Bisa Saja kapanpun Allah Swt bisa memanggilnya, mencabut nyawanya . Sehingga ia bisa Istiqamah dalam kebaikan dan rutin dalam beramal ibadah.

Sifat Tercela: Merasa hidup masih panjang(طول الأمل), Hidup masih lama jauh dari kematian, masih lambat meninggal dunia, umur masih panjang 2/3/5/10/15  tahun lagi atau bahkan lebih panjang lagi umurnya. Hal ini mengakibatkannya tidak bisa rutin dalam beribadah,  tidak bisa istiqamah dalam kebaikan, tidak bisa meninggalkan dan mengendalikan syahwat dunia , tidak bisa lurus menuju jalan akhirat,dan merasa berat dalam melakukan kebaikan. (Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah adab suluk murid, 34-35)

Share:

Minggu, 17 Januari 2021

Ma'rifat Adalah Sesuatu yang paling Berharga

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

MA'RIFAT KEPADA ALLAH SWT ADALAH PALING BERHARGA

Ma'rifah kepada Allah seperti mutiara yang mahal, tidak akan diberikan kepada sembarang orang, kecuali kepada orang mampu menjaganya. 
Seperti pula ma'rifat itu minuman lezat yang tentu tidak akan dituangkan kecangkir yang masih kotor/bau tidak enak, kecuali dibersihkan terlebih dahulu.

Demikianlah  ma'rifat kepada Allah Swt, tidak bisa dicapainya dengan Ilmu. Setinggi apapun ilmu kita pelajari, tidak akan membuahkan hasil ma'rifat, tanpa diiringi dengan pembersihan diri/hati dari hal-hal yang dianggap Allah Swt marusak ma'rifah itu sendiri.

Allah Swt. tidak akan menaruh ma'rifat kepada hati orang yang tidak punya akhlak, hati orang yang kotor, hati org yang masih suka dendam, iri dengki yang sangat jauh dari ma'rifat kepada-Nya.

Catatan: Abdullah Jejangkit
Share:

Nabi Sang Pemilik Sifat Kesetiaan

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

محمد صلى الله عليه وسلم *صاحب الوفاء*
Nabi Muhammad Saw adalah *Shahibul Wafa= Orang yang punya sifat Kesetiaan* artinya: *Beliau Mencintai seseorang beserta mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang beliau cintai itu*
Sebagai contoh adalah Nabi Muhammad Saw. mencintai Istrinya Siti Khadijah Ra. beserta mencintai apa yang dicintai Siti Khadijah Ra, sehingga walaupun Siti Khadijah telah meninggal dunia, beliau tetap ingat dan berbuat baik terhadap orang-orang yang dicintai oleh Siti Khadijah. Begitu juga jika kita mencintai orangtua, walaupun mereka telah meninggal dunia, semestinya kita mencintai sahabat maupun orang-orang yang mereka cintai di diwaktu masih hidup.
Share:

Minggu, 03 Januari 2021

Wasiat Nabi Khidir As. kepada Nabi Musa As. tatkala mereka akan berpisah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Wasiat Nabi Khidir kepada Nabi Musa As. tatkala berpisah:


*لا تطلب العلم لتحدث به، واطلبه لتعمل به*
Janganlah kamu mencari Ilmu, karena untuk membicarakannya
(berpidato/ceramah). Tuntutlah ilmu itu karena untuk mengamalkannya.

Wasiat Nabi Khidir As lainnya kepada  Nabi Musa As.:
1. Jadilah engkau manis muka, janganlah sering tertawa (pananawa);
2. Janganlah suka bercanda(bagayaan);
3. Janganlah berjalan pada sesuatu yang tidak perlu; dan
4.Janganlah terlalu menyalahkan orang yang telah bersalah, tapi tangisilah atas kesalahan dirimu.

Nama Nabi Khidir As. adalah Abul Abbas, Balya  Bin Malkan, Khidir As. Beliau merupakan keturunan Nabi Nuh As. Ayahnya adalah Raja-raja yang Zuhud.

مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 659)
روي أن موسى عليه السلام لما أراد أن يفارق الخضر قال له: أوصني، قال: لا تطلب العلم لتحدث به، واطلبه لتعمل به. وقيل: إن الخضر لما أراد أن يفارق موسى قال له موسى:
أوصيني، قال: كن بساما ولا تكن ضحاكا، ودع اللجاجة ولا تمش في غير حاجة، ولا تعب على الخطائين خطاياهم، وابك على خطيئتك با ابن عمران

فَوَجَدا عَبْداً مِنْ عِبادِنا وهو الخضر واسمه: بليا بن ملكان، وكنيته أبو العباس وهو من نسل نوح، وكان أبوه من الملوك الذين تزهدوا وتركوا الدنيا.
مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 655)

Lihat Sumber: Tafsir Marah Labid, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Surah Al-Kahfi : 82
Share:

Kamis, 31 Desember 2020

JALAN CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN PALING CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT. 

Bersungguh-sungguhlah menjaga hati:

1. Menjaga hati dari was-was, seperti keragu-keraguan masalah rezeki, seperti keraguan di hati "kalau aku tidak berangkat bekerja, bisa tidak dapat duit, "kalau aku tidak berusaha bagaimana nanti aku makan dan manafkahi anak dan Istriku". Yakinlah di hati: "Besok nanti seandainya aku, anak dan Istriku ada umur, rezeki itu pasti ada, karena Allah Swt yang menentukan, memberi rezeki pada hamba-Nya, dengan cara dan jalan yang dikehendaki-Nya, Allah Swt juga yang menyampaikan kepadaku". 
Lebih parah lagi jika seseorang mengkwatirkan masalah rezeki orang lain, seperti anak dan cucunya. 

"ما قدر الله لك يصل إليك بسبب أوجده لك، وما لايقدرلك لايصل إليك"

"Sesuatu yang Allah Swt tentukan(seperti rezeki) untukmu, pasti sampai kepadamu dengan sebab yang Allah Swt.  ciptakannya untukmu. Adapun sesuatu yang tidak ditaqdirkan untukmu, tidak akan sampai kepadamu"

Yakinlah, rezeki kita sudah dijamin Allah Swt. Rejeki yang dijamin (الرزق المضمون) adalah Allah Swt. tidak menjamin punya rumah, kendaraan, toko, kebun, dan lainnya. Yang dijamin adalah kita pasti hidup berdasarkan umur yang ditetapkan, dijamin rezeki untuk bisa tegak beribadah kepada-Nya, baik melalui bekerja atau tidak, diam dimana saja, di hutan, pasar, kamar, dan tempat lainnya" 
Allah Swt. pasti memberikan kekuatan pada kita, kemampuan tegaknya tubuh hingga bisa beribadah. Sedikitpun kita tidak boleh ragu-ragu, tidak boleh bergolak, bergoncang di dalam hati terkait rezeki (yang dijamin)ini. (lihat: Al-Ghazali, Minhajul A'bidin, h. 64)

Keraguan masalah ini bisa membawa mati tidak membawa Iman.

2. Menjaga hati dari penyakit hati, seperti Iri, dengki, sombong, ujub, ria, tidak enak melihat orang lain bahagia/beruntung, dll.
3. Menjaga hati dari geritik hati yang jahat, seperti sangka buruk dengan Tuhan, atau sangka buruk dengan manusia-walau tidak tertentu orangnya. Misalnya: Seseorang sedang sakit dan  berobat sudah kemana-mana, namun tidak sembuh-sembuh sehingga muncul geritik hati "Aku bisa diperbuat orang, diparang maya orang, kenapa berobat tidak mau sembuh"(buruk sangka pada makhluk Allah Swt.); "Dulunya tokonya sangat laku dan banyak pelanggan, namun sekarang tidak laku lagi" kemudianvmuncul geritik hatinya: "Aku ini bisa diletakkan orang pembenci di toko ini,  dulunya rame berjualan, sekarang sepi sekali" atau "Aku ini boleh jadi diperbuat orang"

Semua itu harus  awasi dengan "muraqabah", seperti anda katakan :"Mungkin rezekiku berkurang di sini",  Jika belum berobat belum sembuh, janganlah anda berkesimpulan buruk sangka pada orang lain, tapi dimungkinkan obatnya belum pas, sehingga belum sembuh sakitnya" 

Janganlah buruk sangka pada makhluk Allah Swt, perkara ini tidak boleh, Allah  Swt. lah yang memperbuat semuanya. Manusia tidak memiliki daya upaya.

4. Pengawasan langsung "muraqabah" di hati, agar jangan sampai masuk sesuatu dari was-was, penyakit hati geritik jahat tersebut di atas. 
Karena jika sudah masuk was-was, penyakit hati, geritik jahat di atas-walaupun sebentar-maka jika sudah tertanam di hati akan sulit mengeluarkannya/membersihkannya, hingga dapat merusak hati.  Pikirannya  bisa berkembang berbagai macam sangka buruk dan penyakit hati. Dinasehati  tidak mempan dan keras kepala, karena sudah tertanam di hati.

Seperti di hatinya berkata:"Siapa yang memperbuat aku ini? Bisa si pulan..., karena diundang tidak mau datang."(sangka buruk)
Tindaklah  segera dengan "muraqabah": Allahlah yang mengatur segalanya, manusia tidak berdaya upaya. 
Beberapa penyakit hati di atas adalah seperti suatu penyakit yang apabila ada gejala, segeralah diobati. Karena penyakit yang apabila sudah parah, maka akan sulit disembuhkan.

Bersungguh-sungguhlah membersihkan Hati, karena hati merupakan tempat pandangan Allah Swt. Oleh karena itu lakukanlah hal berikut.

1. Hindarilah cenderung kepada keinginan-keinginan dunia, yaitu keinginan-keinginan yang melalaikan kepada Allah Swt., sesuatu yang dapat merusak hati dan merusak agama, melengahkan, merepotkan dan lupa pada Allah Swt., tidak karuan dalam shalat/ibadah(seperti lupa rakaat, terlambat shalat, tidak khusu', contohnya adalah sahabat nabi mewaqafkan kebunnya kepada kaum muslimin, karena kebun itu melalaikannya tatkala shalat, terlambat/mengganggu dalam beribadah, seperti tegesa-gesa dalam shalat, membuat lengah pada ketaatan Allah swt. Demikian juga sesuatu yang membuat sengketa, permasalahan, dan ma'siat. 
Carilah dan inginilah  sesuatu hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Sungguh-sungguhlah membersihkan hati dari sifat dendam. Yaitu menyimpan kemarahan, yang biasanya dikarenakan ada orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, menganiayanya, namun dia belum kesampaian untuk membalasnya. Mestinya akhlak mulia dianjurkan untuk memaafkan terhadap orang yang menyakiti dan mengganggunya itu , karena:
المؤمن ليس بحقود
"Orang mu'min bukanlah pendendam"

3. Khianat, yaitu dalam hati ada niatan tidak baik terhadap orang lain.  Diriwayatkan ada sahabat yang dikatakan nabi saw: akan datang ahli syurga(datanglah seorang laki-laki ikut majelis nabi , 3 kali berturut-turut itu saja orangnya). Abdullah bin Amr meneliti orang tersebut dan bermalam dirumahnya hingga tiga hari. Ternyata dia tidak banyak shalat dan ibadah. Orang tersebut memberitahukan amalannya satu hal yang pokok, yaitu: "Aku ini tidak ada di hati berniat jahat pada orang lain", yaitu tidak ada berkeinginan pada orang lain  terjadi keburukan, seperti kalah, rugi, celaka, jadi malu, dapat sengsara, dan keburukan lainnya.  Aku berhendak baik terhadap kaum muslimin, seperti: menginginkan mereka beruntung, mendapat kebaikan, menang, ahli ibadah" 
4. Menipu terhadap kaum muslimin; Sangka buruk terhadap sesama muslimin; hendaknya bermaksud baik; kasih sayang terhadap mereka; ber'itiqad baik terhadap mereka(lawan dari buruk sangka) misalnya kita berkeyakinan bahwa si Pulan itu baik(padahal orang itu jelek di sisi Allah Swt). Walaupun sangka baiknya itu keliru, tetaplah ia berpahala. Namun jika kita buruk sangka-walaupun benar yang disangkakannya itu(misal si Pulan itu maling)- tetaplah dia berdosa, bahkan lebih besar lagi dosanya jika sangkanya itu tidak benar.

5. Mencintai saudaranya muslimin seperti mencintai dirinya sendiri dari kebaikan, yaitu menginginkan kaum muslimin mendapat kebaikan sebagaimana dia dapat kebaikan, seperti: dapat rezeki, dapat ilmu, dan kebaikan lainnya. Dan dia benci/tidak suka bagi saudaranya muslimin tertimpa sesuatu yang dia tidak suka dari kejahatan/keburukan. Seperti: Tatkala dirinya tertimpa musibah(suatu keburukan), dia berharap agar musibah itu tidak ditimpakan terhadap saudaranya muslimin. Demikan juga jika terkena tipu, dibodohi, rugi. Ia berharap hal itu tidak ditimpakan kepada saudaranya muslimin. 
Hal sangat tercela adalah berkeinginan supaya orang lain tertimpa keburukan, seperti: celaka, rugi, bangkrut dan lainnya.

Nilai memperbaiki hati dengan sifat-sifat terpuji ini sangat tinggi nilai pahala dan kedudukannya di sisi Allah Swt. dibandingkan ibadah Dzahir anggota tubuh seperti baca Al-Qur'an, Shalat,  puasa. Ibadah Dzahir akan lenyap pahalanya, jika hatinya punya suatu penyakit, seperti sangka buruk, dendam, ria, ujub, kejam, bengis, karena sifat buruk ini akan menghapus dan menggugurkan pahala amal ibadahnya.

Sumber: Imam Abdullah  Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 12.

والله أعلم
Share:

Rabu, 30 Desember 2020

Umur sudah tua: Tetapi tidak ada muncul Dorongan Yang Kuat di Hati untuk lebih mendekat Kepada Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Awal Pertama Mendapat Hidayah Allah Swt.

Seseorang hamba mendapatkan *dorongan yang kuat* yang dilontarkan ke hati hambaNya. Sehingga mengejutkan, menggoncangkan, dan mendorongnya untuk mendekat dan beribadah kepada Allah Swt. dan berpaling dari dunia, menjauh dari orang-orang yang disibukkan keduniaan dan kesenangannya serta menumpuk harta, dan jauh dari terpedaya dari dunia.

Berapa banyak orang umurnya sudah mencapai  60-80 an bahkan lebih, akan tetapi tidak ada muncul "dorongan yang kuat" untuk lebih dekat dengan Allah Swt.

Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 7.

Share:

Selasa, 29 Desember 2020

ILMU PENANGKAL BUJUKAN SYAITAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu untuk melawan berbagai macam bujukan Syaitan.

Melawan syaitan perlu ilmu. Jika tidak berilmu, maka ia mudah tergoda, terbujuk dengan rayuan syaitan yang menyesatkan. Syaitan menjerumuskan manusia agar tidak taat kepada Allah Swt dan meninggalkan Ibadah(kebaikan).

Sejatinya setiap manusia itu ditempeli setan dari bangsa jin. Setan inilah yang membisikkan hawa jahat dan kemaksiatan kepada yang bersangkutan dan kerap disebut dengan qarin.   

Keberadaan qarin yang mengganggu manusia tersebut dengan pengecualian Rasulullah Saw. Tak ada satupun setan yang mampu mengganggu Rasul. Bahkan, dalam banyak riwayat disebutkan qarin yang mengikuti Rasul tersebut memeluk Islam.  
Riwayat Abdullah bin Mas’ud yang dinukilkan Imam Muslim menyatakan bahwa setiap orang mempunyai qarin dari bangsa jin. Sahabat menanyakan, "Termasuk engkau wahai Rasulullah? “ 
Rasul menjawab, "Iya hanya saja Allah Swt. melindungiku kemudian dia berislam dan tidak memengaruhiku kecuali kebaikan.” 

Riwayat lain dari Muslim juga menyebutkan qarin yang menempel ke manusia itu bukan saja dari bangsa jin tetapi juga ada yang berasal dari bangsa malaikat.
 
Syaitan membujuk manusia  dengan ungkapan yang dilontarkan ke hati manusia melalui geritik hati. Livel-livel bujukan itu adalah sebagai berikut.

1. Syaitan membisiki di hati manusia dengan ungkapan:
(لا تعبده)"Janganlah kamu beribadah; Janganlah kamu berbuat baik, Tidak perlu bersedekah; tidak usah berpuasa; Banyak orang yang meninggal dengan baik, padahal dia malas beribadah!; dan geritik jahat lainnya.

Bila ada bisikan syaitan seperti itu, maka lawanlah dengan Ilmu! Katakanlah di hatimu:
ومالي لا أعبد الذي فطرني وإليه ترجعون
"Buat apa aku tidak menyembah/beribadah kepada orang yang telah menciptakanku"

Aku perlu beribadah sebagai bekalku di akhirat kelak. Jika aku tidak berbuat baik, bagamana nanti aku di akhirat tanpa bekal!

Kemudian jika ia mampu menangkal bujukan itu.  Syaitan akan menggoda dengan bujukan selanjutnya. 
"Benar perlu beribadah dan bekal untuk di akhirat kelak, tapi:
2. Beribadahlah pada akhir hayatmu, nanti saja kalau kamu sudah tua, karena yang dipandang tuhan adalah beribadah diakhir nanti.(اعبده في آخر حياتك، لأن الأعمال بالخواتم)
Nanti saja kamu beribadah, nanti bila umur sudah 60 an baru kamu beribadah. Karena amal itu yang dipandang di akhir. 

Tidak mengapa biar banakal(jadi orang jahat/fasik), nanti hendak mati baru kamu Insyaf(taubat). Nanti saja kamu beribadah, kamu masih muda dan umurmu baru 30 tahun. Orang mati ada yang umurnya mencapai 70 an, bila umurmu 65 an baru kamu mulai beribadah, mulai mengaji, mulai baca al-Qur'an, dan mulai shalat malam/tahajjud.

Banyak manusia yang terjerumus denganbbujukan ini. 

Jawablah dengan Ilmu: "Wahai syaitan, umurku tidak tahu, panjangkah atau pendek!" 
 (الأمر لا أدري، أ طويل أم قصير؟)
Benar saja ada orang yang meninggal dunia umurnya mencapai 70 an tahun, tapi kawanku ada yang meninggal waktu muda, padahal umurnya baru 30, 25 an tahun. Kalau aku menunggu umur 60, boleh jadi aku mati umur 50 tahun, atau besok sudah mati, bagaimana nantinya tanpa bekal?

Kemudian, jika manusia itu tetap bersikeras untuk beribadah, maka syaitan membisikinya lagi:

3. Segeralah beribadah!(عجل بالعبادة!). Bisikan ini bukannya perkara baik. Karena ibadah yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya ibadah itu tidak sah atau tidak benar. 

Ibadah itu diperlulan, tapi mesti dengan pemikiran. Pertimbangkanlah ibadah mana yang lebih utama dan lebih prioritas untuk dikerjakan. Ibadah itu punya martabat, sehingga perlu dipilih&dipilah mana yang perlu disegerakan/didahulukan.

Jawablah: Aku menyembah Allah  Swt. dengan perlahan, karena tergesa-gesa itu dari Syaitan
(أعبده بالتأني، لأن العجلة من الشيطان). 
Misal: Ada uang seratus ribu, ayo segeralah sedekahkan! Mestinya dipikirkan dulu, diberikan kemana? Tidak sembarangan untuk memberikannya. Apakah dia punya hutang?(hutang mestinya dulu dibayarkan). Siapa yang paling berhak menerimanya? Yang paling utama dan urutannya yang mestinya didahulukan misalnya terkait penyerahan infak atau sedekah adalah: 1. Harta diberikan untuk kewajiban nafkah; kemudian 2. Memberikan kepada orang tua kita. dst.

Adapun syaitan memerintahkan yang penting bersedekah dan cepat-cepat. Akhirnya sedekahnya tidak diterima Allah Swt., karena dia meninggalkan yang lebih utama. misalkan bersedekah, tapi hutang tidak dibayar.
 
Jika hal itu bisa diatasi. Kemudian syaitan berbisik di hatinya:

4. "Ayo silahkan beribadah sekuat tenagamu!, Kalau takdirmu keneraka, pasti kamu keneraka juga nantinya.  Bilanya kamu beruntung, pasti ke syurga, bilamana taqdirmu celaka, walau bagaimanapun kamu pasti ke neraka".
Hal ini agar melemahkan semangatnya untuk beribadah dan dia hanya berpegang pada taqdir saja (padahal tidak ada yang tahu takdir seseorang, kecuali Allah Swt). 
Inti bujukan syaitan itu adalah agar manusia tidak beribadah.

Jawablah dengan Ilmu: "Benar saja itu wahai syaitan, orang yang taqdirnya keneraka, pasti nantinya masuk neraka.  Akan tetapi Nabi saw. mengatakan "Taat itu adalah tanda keberuntungan/kesyurga
(الطاعة دليل السعادة). Demikian juga informasi Nabi saw.:"Tiap-tiap orang itu, dimudahkan berbuat sesuatu yang dia ditakdirkan umtuk sesuatu itu(syurga/neraka)(كل ميسر لما خلق له). Jika seseorang ditaqdirkan ke Neraka, maka ia mudah berbuat ma'siat, dosa, berarti taqdir orang ini adalah ke Neraka. Jika ia ditaqdirkan ke Syurga, tentu ia mudah berbuat taat/kebaikan dan beramal ibadah untuk mati ke syurga. 

Urusan perkara takdir, hanya diketahui Allah, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Swt. Jadi aku mesti taat kepada Allah Swt. "Wahai syaitan, urusan aku ini apakah ahli neraka atau ahli syurga, itu merupakan perkara gaib yang ditakdirkan Allah terdahulu. Tidak ada seseorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah Swt. Pokoknya aku beribadah, karena taat itu adalah tanda terdahulunya taqdir keberuntungan, sedangkan ma'siat tanda kecelakaan.

Taat merupakan tanda yang sangat menunjukkan atas terdahulunya taqdir keberuntungan. Tidak ada jarak antara orang yang taat dan syurga, melainkan ia mati atas ketaatan. 
Ma'siat merupakan tanda yang paling menunjukkan atas terdahunya taqdir celaka
 "Kalau aku ma'siat, berarti aku ini taqdirnya celaka!" Tidak ada jarak antara orang yang ma'siat dan neraka, kecuali dia mati dalam ma'siatnya.

Setelah 4 livel di atas dapat dilaluinya, usaha syaitan gagal untuk menjauhkan manusia untuk beribadah(taat). Syaitan akan berusaha dan membujuk agar ibadah yang dilakukan manusia itu tidak berpahala. Melakukan hal yang bisa menggugurkan pahala ibadahnya, ataupun agar ibadah itu tidak diterima Allah Swt. 

5. Syaitan berbisik:"Kamu sudah ahli ibadah, kamu berilmu, kamu agung dan dimuliakan orang. Semakin banyak beribadah, tentu kamu dihormati orang-orang dan diagungkan mereka. Rajin-rajin beribadah dan perlahan, kamu sangat bagus. dst.

Semua itu merupakan bujukan syaitan agar ibadahnya tidak ikhlas, karena manusia atau pujian makhluk. 
Jika Ia mengakui/menyetujui atau mengiyakan bisikan syaitan itu, maka ibadahnya tidak ikhlas, sehingga ibadahnya tidak berpahala, dikarenakan selain Allah Swt.

Bilamana ada bujukan syaitan seperti itu, maka jawablah: (أعبده بالله ولله وإلى الله)Aku beribadah itu dengan taufik/pertolongan Allah(بالله), Aku beribadah karena Allah, bukan karena ingin disanjung, dihormati, karna makhluk selain Allah(لله), Aku beribadah kuserahkan kepada Allah(إلى الله), terserah Allah menilainya.

Bila ia sudah mampu mengatasi demikian, berarti dia mengalahkan syaitan. Sehingga Ibadah yang dilakukan dengan benar dan mendatangkan manfaat baginya. 
Dengan demikian melawan syaitan  diperlukan Ilmu pengetahuan. Jika tidak berilmu, tentu akan terbujuk dengan tipu daya syaitan.

والله أعلم

Sumber: Risalah Adab suluk murid.

Share:

Senin, 28 Desember 2020

Ibadah Tafakkur tentang kehidupan dunia dan akhirat

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tafakkur(memikirkan)Tentang keadaan  Dunia dan Akhirat

A. Tafakkur tentang Dunia (yaitu sesuatu sebelum mati (ما قبل الموت)):

1. Tentang susah payahnya dalam kehidupan dunia; 

الدنيا دار كد وهم وتعب ولا راحة إلا في الجنة 
Dunia ini adalah negeri yang susah payah

2. Dunia tidak akan dibawa ke akhirat;
3. Dunia itu Tidak ada tempat/sesuatu yang 100 % nyaman,  karena itu pasti susah, cacat dan celanya

B. Tafakkur Akhirat(sesudah kematian/ما بعد الموت):

1. Berpikir semakin hari, kita semakin dekat dengan Akhirat/kematian; 
2. Berfikir Tubuh semakin dekat dengan akhirat, hendaknya hatipun demikian,  semakin dekat dengan kubur/kematian/akhirat. Kubur adalah bagian dari akhirat. Semakin hari dunia semakin ditinggalkan, sehingga dekat dengan ajal kematian. Hendaknya  tubuh dan hati berbarengan menuju dan mendekati akhirat, jangan sampai HATI ditinggalkan karena terikat kuat dan terperdaya oleh dunia yang fana ini(sangat rugi, kesusahan diakhirat), sementara tubuhnya saja berangsur-angsur menuju kematian. Tubuh kita semakin hari, semakin menjauhi dunia demikian juga seharusnya hatipun semakin menjauhi dunia. Pikirkankan agar hatinya agar semakin fokus pada bekal akhirat, memikirkan apa yang akan disiapkan untuk akhirat.

"Manusia yang paling rugi(celaka) adalah Manusia yang tubuhnya semakin dekat dengan kubur/kematian, namun hatinya semakin menjauh dari kubur"

"Sejahat-jahat orang yang tua, adalah orang tua yang masih merasa muda. Umurnya sudah tua, misal umurnya sudah berumur 50 tahunan, tapi hatinya masih seperti umur 30 tahunan, menginginkan ini dan itu seperti anak muda. Paling baik pemuda adalah pemuda yang  hatinya seperti orang tua- hatinya seperti orang yang berumur 60 an, hatinya selalu mengingat kematian dan akhirat"

3. Keadaan Akhirat kelak, bagaimana huru hara hari pembalasan. 

Merasa hidup masih lama tinggal di dunia ini (طول الآمل) merupakan penyakit hati yang membinasakan, merasa umur masih panjang(lawas lagi hanyar mati), hidup masih kira-kira masih  5/10/15 tahun lagi, atau bersiap-siap untuk umur di hari tua nanti hingga lupa hal yang paling penting yang semestinya disiapkannya dengan serius(bekal untuk akhiratnya) , PADAHAL  belum tentu dia akan menemui  hari TUA NANTI. Hal ini yang banyak memperdaya kehidupan manusia.

Manfaat dari berfikir tentang dunia dan akhirat itu adalah menimbulkan sifat terpuji, yaitu berpaling dari dunia dan berhadap kenegeri akhirat. 

Dunia semakin jauh berpaling kepadanya  dan akhirat pasti ditemui.

Hendaklah berfikir apa yang sudah anda siapkan untuk bekal akhirat, karena kematian Nyata dan Pasti. 

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, 

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسوا

artinya: hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah amalan shalih apa yang telah kalian persiapkan sebagai bekal untuk hari akhirat dan menghadap Allah Rabb kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 235).

Hendaklah anda perhatikan kebaikan dan keburukan yang anda akan peroleh kelak. Hendaklah memikirkan apa buah yang diperoleh dari amalan kelak di hari kiamat. Apakah akan menuai hasil yang baik ataukah malah akan membahayakan karena kejelekan yang dilakukan.

Jika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan di hadapannya dan jadi tambatan hati, terus bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan menuju akhirat. Bersungguh-sungguhlah dengan melakukan banyak amalan yang dapat mengantarkan pada kesamatan di akhirat kelak.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah jadikan akhirat sebagai tujuan. Begitu pula jika kita diberi karunia materi dan rezeki yang melimpah, jadikanlah itu sebagaimana perantara menuju kebaikan dan bekal menuju alam akhirat. 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw. bersabda,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465.)

Berpikir tentang dunia dan  akhirat ini, berfaedah agar dapat berpaling pada dunia dan menghadap kenegeri akhirat. Maka seyogyanya untuk bersemangat menyiapkan bekal akhirat, karena seseorang Nyata akan  menghadapi Akhirat itu. 

Semoga kita semakin memperhatikan amalan kita sebagai bekal di akhirat kelak.

والله أعلم


HINANYA CINTA DUNIA

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا ، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ. رواه مسلم

"Dunia bagaikan sesuatu yang manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berkuasa didalamnya, maka perhatikanlah apa yang kalian perbuat, berhati-hatilah terhadap dunia, dan waspadailah para wanita."
📚{ HR. Muslim }

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ. رواه مسلم

"Demi Allah bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, sesungguhnya aku takut dibentangkannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, kalian saling berlomba didalamnya sebagaimana mereka berlomba untuk mendapatkannya, hingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” 
📚{ HR. Muslim }

إنَّ مِمَّا أخافُ عليكم مِن بعدي ما يُفتَحُ عليكم مِن زهرةِ الدُّنيا وزينتِه. متفق عليه

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah ketika ditampakkan kepada kalian keindahan kehidupan dunia, dan kemewahannya.” 
📚{ Muttafaqun 'Alaih }

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ ، وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ ، فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى . أخرجه الحاكم

“Barangsiapa yang mencintai akhirat-nya niscaya ia mengorbankan dunianya, dan barangsiapa yang mencintai dunianya niscaya ia mengorbankan akhiratnya, maka utamakanlah sesuatu yang kekal (akhirat) daripada yang bakal sirna(dunia).” 
📚{ HR. Hakim }

حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الْآخِرَةِ ، وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الْآخِرَةِ. رواه أحمد

“Pahitnya dunia adalah manisnya akhirat, dan manisnya dunia adalah pahitnya akhirat." 
📚{ HR. Ahmad }

الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا . رواه مسلم

Orang-orang yang kaya di dunia mereka adalah orang-orang yang miskin di hari kiamat kecuali orang yang berpesan: Keluarkan ini sekian, keluarkan itu sekian.”
📚 { HR. Muslim } 

مَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الْآخِرَةَ جَعَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْغِنَى فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَنَزَعَ الْفَقْرَ مِنْ بَيْنِ عَيْنَيْهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا غَنِيًّا ، وَلَا يُمْسِي إِلَّا غَنِيًّا . وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا جَعَلَ اللَّهُ الْفَقْرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا فَقِيرًا وَلَا يُمْسِي إِلَّا فَقِيرًا . وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

“Barangsiapa yang niatnya untuk akhirat, pastilah Allah menjadikan kepuasan di hatinya, mengurus segala urusannya, dan mencabut kefakiran darinya, dan didatangkan dunia untuknya secara paksa, dan tidak lewat kepadanya waktu pagi kecuali dia dalam keadaan kaya, dan waktu sore kecuali dia dalam keadaan kaya. Dan barangsiapa yang niatnya ditujukan untuk dunia, pastilah Allah menjadikan kemiskinan selalu berada di depan matanya, dan tidak lewat kepadanya waktu pagi kecuali dia dalam keadaan miskin, dan waktu sore kecuali dia dalam keadaan miskin. .”
📚{ HR. Thabrani }

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ. رواه ابن ماجه

"Tinggalkan kemewahan dunia, Allah akan mencintaimu, dan tinggalkan (serakah) pada sesuatu yang dimiliki manusia, engkau akan dicintai manusia.”
📚{ HR. Ibn Majah }


الدُّنْيَا دَارُ مَنْ لا دَارَ لَهُ ، وَمَالُ مَنْ لا مَالَ لَهُ ، فَلَهَا يَجْمَعُ مَنْ لا عَقْلَ لَهُ وعليها يحزن من لا علم له وعليها يحسد من لا فقه له وبها يفرح من لا يقين له. رواه أحمد

"Dunia adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak memiliki tempat tinggal, & harta bagi orang yang tak memiliki harta, orang yang mengumpulkannya adalah orang yang tak memiliki akal, orang yang bersedih atasnya adalah orang yang tidak memiliki ilmu, orang yang iri atas barang duniawi adalah orang yang tidak memiliki pemahaman, & orang yang gembira terhadap nya adalah orang yang tidak memiliki keyakinan."
📚{ HR. Ahmad }


Share:

Minggu, 27 Desember 2020

Jika belum, laksanakanlah sekarang Juga! Niat ketika Balig (Awal Dewasa umur +- 15 Tahun)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

JANGAN LUPA NIAT KETIKA BALIG

"Segala amalan diberikan ganjaran mengikuti Niatnya"

-Berbuat kebaikan secara spontan, tidak sempat niat "seperti menjawab salam, menolong secara spontan, menutup aurat(menjunjung perintah Allah)dll perkara kebaikan(wajib/sunnah)" Menurut mazhab Syafi'i : tidak dapat pahala(harus ada niat,muqaranah  Niat), dan Menurut Mazhab Hanafi : Berpahala, karena sudah termasuk menjunjung perintah Allah dan RasulNya, namun perlu niat pokok secara global ketika Ia Memasuki/tatkala Balig(dewasa)

-Oleh karena itu, Sangat penting Tatkala Balig berniat(Niat Pokok) dgn sungguh-sunguh dalam hati(karna mengundang pertolongan Allah, serta pahala), Contoh: "Mulai hari ini aku berniat sengajaku menjunjung  perintah Allah dan Rasul-Nya  dan Menjauhi segala yang Dilarang Allah dan Rasul-Nya" kalau belum berniat??? dari sekarang niatkan sungguh-sungguh

- Setiap perkara Mubah agar menjadi kebajikan/pahala harus disertai niat yang baik(semua mazhab, tanpa niat baik tidak mendapatkan pahala), Contohnya:
1. Makan niatnya: memperkuat diri untuk mengabdi kepada Allah, Mensyukuri NikmatNya, Menunaikan Hak Badan perlu diberi makan, Menjunjung perintah Allah(كلوا واشربوا...)
2. Tidur niatnya: Supaya enak kuat beribadah tatkala bangun, Menunaikan hak tubuh untuk Istirahat, Menjujung perintah Allah "setiap sesuatu ada hak yang harus dipenuhi"hak tubuh/mata

-Dalam Thariqah ada bimbingan Guru, mewajibkan berniat setiap pagi(bukan hanya waktu balig)selesai shalat subuh meniatkan mensyaratkan diri"Musyaratah/مشارطة": Berjanji dengan diri sendiri "Wahai diriku, kita bersyarat berjanji bahwa kita hari ini akan melaksanakan apa-apa yang disuruh Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah"  niscaya Ia akan ditolong Allah, dimudahkan untuk berbuat baik.

-Niat kebaikan harus dilatih oleh setiap Muslim, agar menjadi kebiasaan(mendarah daging), kalau tidak dibiasakan akan menjadi sulit..

Semoga bermanfaat,...

Sumber Pengajian Ke-18 Guru Muhammad Bakhiet, Kitab Bustanul Arifin, Imam Nawawi, h. 65-66.
Share:

Sabtu, 26 Desember 2020

TATA CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIRATUL IHRAM

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

TATA CARA SHALAT/MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIRATUL IHRAM DAN MELETAKKANNYA

(Mengangkat Tangan Bermakna pertanda menyerah di hadapan Allah/Menyisihkan hal-hal yang mengganggu di hadapan Allah Swt), di antaranya:

1. Mulai Membaca "الله أكبر" ketika tangan sejajar dengan bahu, hingga bacaan takbir berakhir hingga turun(tangan di atas pusat di bawah dada);
2. Membaca "الله أكبر" hanya ketika tangan sejajar dengan bahu;
3. Membaca "الله أكبر" dimulai ketika mengangkat tangan sampai tangan sejajar bahu;
4. Membaca "الله أكبر" ketika mengangkat tangan sampai tangan berjuntai rata, kemudian baru meletakkan tangan sedikt kekiri di atas pusat di bawah dada).
5. Membaca "الله أكبر" dimulai ketika mengangkat tangan hingga bacaan berakhir sampai meletakkan di atas pusat di bawah dada.

Sumber lihat:

1. Pengajian Kitab Shalat dari  Ihya Ulumiddin ke-7,menit 30 s.d. 32.30. Guru  Bakhiet

https://youtu.be/M6Hnq9nHz

2 . Pengajian ke-18, Bidayatul Hidayah, Al-Ghazali, Guru Bakhiet.

Semoga Bermanfaat... Aamiin
Share:

Selasa, 13 Oktober 2020

Do'a dan Tawassul ketika memulai Pengajian

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا وحبيبنا ومولانا وقرة أعيننا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.  رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي، رب زدنا علما وارزقنا فهما آمين يا رب العالمين.
 سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ اَكْبَرُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ،  الْعَزِيْز الَعَلِيْمِ عَدَدَ كُلِّ حَرْفٍ كُتِبَ  أو يُكْتَبُ أَبَدَ الْآبِدِيْنَ وَدَهْرَ الدَّاهِرِيْنَ.
سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا أنك أنت العليم الحكيم، ولا ، حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

 (Dengan menyebut Nama Allah, Maha suci Allah, segal puji bagi Allah dan tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur, Maha Agung, Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, sebanyak huruf yang telah tertulis dan yang akan di tulis selama-lamanya sepanjang masa).

 أما بعد...
فقال المؤلف رحمه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه في الدارين، رب يسر واعن.

Mari kita mulai membaca ..... dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada ....Imam Al-Ghazali(contoh)

إِلَى رُوْحِ نَبِيِّناَ وَشَفِيعِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَـْيهِ وَسَـلَّمَ، وإلى أرواح الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَـلِينَ، وإلى الأولياء وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ ، وإلى أرواح العلماء المجتهدين والمؤلفين والمصنفين خُصُوصًا إِلَى روح ... حجة الأسلام أبي حامد الغرالي ... قدس الله سره ونور ضريحه وأعاد علينا من بركاته ونفعنا بعلومه و إلى أرواح أموات المسلمين والمسلمات خصوصا إلى أرواح مشايخنا ومعلمينا وإلى أرواح آبائنا وأمهاتنا وأجدادنا وجداتنا وأساتيذنا ومشايخنا وإخواننا  وأخواتنا وأصدقائنا لهم جميعا الفاتحه شيئ  لله لهم الفاتحة...


Share:

Minggu, 11 Oktober 2020

Bertasawwuf itu Mengalami, bukan sekedar teoretis!

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Bertasawwuf adalah mengalami bukan teoretis semata!

"Orang yang membaca terlalu banyak ilmu tapi tidak diamalkan Ilmunya, hal ini justru bisa menimbulkan kebingungan pada dirinya sendiri.  Dia seakan-akan mutar-mutar tidak bisa keluar dari kebingungannya. Oleh karena itu, ibadah menjadi penting sekali dalam mengalami/merasakan(dzauq)pengamalan ilmu, baik ibadah ritual maupun non ritual" (inilah pengalaman bertasawwuf). 

Memiliki banyak teoretis tentang tasawwuf, tidak akan menjadikan anda seorang Sufi, jika tidak memiliki pengalaman mengalami langsung(beramal).  Terdapat perbedaan antara seseorang tahu tentang hakekat Zuhud, syarat maupun sebab-sebabnya  dengan Ia ada dalam keadaan Zuhud.


الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُوْنٌ، وَالْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَكُوْنُ

‘Ilmu tanpa amal itu gila, dan ‘amal tanpa ‘ilmu tidak ada gunanya(Al-Ghazali, Ayyauhal Walad)


فعلمت يقينا : أنهم أرباب أحوال لا أصحاب أقوال ، و أن ما يمكن تحصيله بطرق العلم فقد حصلته و لم يبق إلا ما لا سبيل له بالسماع و التعلم ، بل بالذوق و السلوك 

"Dengan demikian, aku yakin bahwa para sufi adalah para pemilik ahwal, bukan sekadar pandai beretorika. Bagian dari tasawuf yang memungkinkan dicapai dengan ilmu maka aku telah mencapainya. Tinggal bagian yang tidak dapat dicapai dengan hanya mendengar dan mempelajarinya, tetapi harus dengan rasa dan suluk"(Al-Ghazali, المنقذ من الضلال:98)

والله أعلم
Share:
Copyright © Web Kuliah Abdullah | Powered by Blogger | Design by ronangelo Theme Editor: Abdullah Jejangkit | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com