Website Kuliah: Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Minggu, 21 Juni 2020

CARA MENJAGA DIRI DARI SEGALA DOSA DAN MAKSIAT

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

CARA MENJAGA DIRI  DARI SEGALA DOSA DAN MA'SIAT



Jalan Pertama menuju Allah Adalah Taubat, sambil menjaga diri dari Segala dosa dan ma'siat dgn Cara:
1. Selalu dalam keadaan Suci/Wudhu, karena Allah Swt. menyukai orang-orang yang suci
2. Meninggalkan bergaul dengan Orang Fasik(seperti orang  fasik sebab berdusta, meninggalkan shalat, tidak jujur, dll), karena berteman dengan orang fasik akan menimbulkan seseorang berani melakukan dosa.
3. Meninggalkan tempat-tempat yang mudah menimbulkan banyak maksiat/dosa, tempat tuhmah(تهمة)', mudah terjadinya perbuatan dosa, seperti warung, pasar, di pinggir-pinggir jalan. "kadang org katuju mawarung, kada mau baik". 
Atau tempat-tempat yang menimbulkan nafsu birahi, seperti menuju toko yang dijaga perempuan,  maka pilihlah yang ditunggu oleh laki-laki agar selamat dari 
dosa. Demikian juga tempat lainnya seperti: mall, diskotik, dll.
4. Meninggalkan makanan yang haram dan/syubhat. Bilamana makanan haram/syubhat masuk kedalam tubuh manusia, maka energinya yang dikeluarkannya mengarah kepada perbuatan yang haram, sehingga sulit menjaga diri dari yang haram. Hal ini dikarenakan sumber tenaganya dari yang haram/syubhat.

Sebagaimana diungkapkan: "Anak Zina, adalah paling jahat diantara tiga orang(Ayah, Ibu, dan Anaknya)". Hal ini dikarenakan bahwa Ayah dan Ibunya bisa bertaubat kepada Allah Swt. Sementara anak mereka dari bibit yang haram, sehingga sangat sulit bagi anak tersebut menjadi orang yang baik/jauh dari dosa.
ولد الزنا في النار
"Anak zina masuk Neraka" Sebab pada umumnya tingkahlaku dan sifatnya kepada hal yang haram dikarenakan berasal dari bibit yang terlarang.

Dengan demikian makanan ataupun minuman yang haram, sangat berpotensi bagi pengkosumsinya untuk melakukan ma'siat/dosa.

5. Puasa, merupakan perisai yang membentengi dari dosa, seperti berkata bohong, melihat hal yang diharamkan, dsb.
6. Menyendiri/Khalwat, yaitu tidak banyak bergaul dengan orang lain kecuali hal yang sunnah dan wajib.
7. Mengekali "Musyaratah"مشارطة"/selalu mensyaratkan diri, yaitu berjanji pada diri untuk tidak melakukan dosa dan kemaksiatan. Musyarathah dapat dilakukan pada setiap pagi(setelah shalat subuh) dan sesudah shalat magrib.(Bagi orang yang melaksanakan suluk diwajibkan melaksanakannya setiap hari). Contoh lafadz Musyarathah:
a. "Wahai diriku-janji di hadapan Allah- hari ini/malam ini, jangan handak berbuat maksiat"
b. "Wahai diri, kamu hari ini mesti berjanji lawan aku, Jaaangan handak memandang yg haram, jaangan handak mendengar yang haram, jaangan handak melangkah ketempat yang haram, jaangan handak menyakiti makhluk Allah Swt"
c."Wahai diriku ayo berjanji hari ini, jaangan handak ma'siat pd Allah, Jangan handak macam-macam(dzalim) dengan makhluk Allah, hari ini engkau mesti taqwa pd Allah Swt"
d. Wahai diriku hari ini berjanji tidak mau berbuat yang dilarang Allah, tidak mau melakukan hal yang tidak ada manfaatnya. Aku akan melakukan semua perintah Allah dan Aku berbuat sesuatu yang bermanfaat.
-Bila berjanji seperti ini, Insya Allah akan ditolong Allah Swt untuk menyempurnakan janjinya, karna hal ini berhubungan dgn NIAT YG BAIK.
8. Selalu Muraqabah/مراقبة , yaitu selulu merasa bahwa dirinya diawasi Allah Swt., dilihat Allah Swt. dimanapun dia berada, selalu merasa didengar dan diketahui oleh Allah Swt. 
Muraqabah mencakup dua makna: a. Mengintai diri berdasarkan musyaratah td(melaksanakan janji diri berbuat kebaikan dan tidak akan berbuat dosa/ma'siat); dan atau b. Selalu merasa diawasi Allah Swt.
9. Muhasabah/محاسبة-/memeriksa(evaluasi diri), Selalu menghitung diri, yaitu menghitung-hitung apa yang telah diperbuatnya  berdasarkan apa yang dia telah janjikan dalam "musyaratah" apakah ada maksiat atau kebaikan.  Muhasabah dapat dilakukan pada setiap pagi dan sore. Pahala bermuhasabah sangat besar dibandingkan dengan baca yasin/tabarak.

-Dari pagi s.d sore/magrib s.d subuh apakah sudah pas semua janjinya sudah ditepati.
-Misalnya ternyata ada yang tidak tepat janji, jam sekian...sekian... ada melihat yang haram atau memperbuat yang dilarang, kemudian bermujahadah berjuang memperbaiki yang tadi.>>> dengan menghukum (معاقبة)
10. Selalu menghukum(معاقبة) terhadap maksiat yang ia lakukan, yaitu memberikan sangsi pada diri bilamana melakukan suatu kema'siatan. 

Contohnya:
-Karna dia jam sekian ... berdusta maka diwajibkan atas dirinya baca Fatihan 100 x.
-Matanya berhubung siang tadi di pasar ada melihat yang diharamkan Allah Swt.(muhasabah), maka kamu wahai "mata" malam ini akan aku hukum, malam ini mesti dengan melihat/membaca Al-Qur'an selama 1 jam.(Muaqabah)
-Ternyata ada berkata yang haram, seperti berbohong! Ikam menyalahi janji ada berkata-kata yang haram. Malam ini engkau aku hukum, engkau mesti berzikir 1000 x sebagai gantian dari berucap yang haram/kotor.
Muraqabah merupakan salah satu persyaratan agar kita bisa "musyahadah" kepada Allah Swt.

Bila semua ini dilakukan, akan bisa mengurangi segala kema'siatan. Jika diri kita dibiarkan tanpa kendali, peraturan, dan tanpa sangsi, maka diri akan lepas dan terjerumus pada banyak  perbuatan dosa, walaupun sebenarnya dia punya ilmu. Setiap perbuatan dosa, akan mendekatkan seseorang pada Neraka: sejengkal, sedepa, bahkan lebih mendekat beberapa kilometer, sampai tidak ada jarak antara dirinya dan neraka kecuali kematian(neraka sudah menunggunya). Demikian juga perbuatan baik akan mendekatnya kesyurga.

"Tatkala dosa itu kian berlapis-lapis, tentu akan makin menancap kuat di dalam hati. Dan pada saat itu, hati akan buta sehingga tidak mampu mengetahui kebenaran dan kebaikan agama. Masalah akhirat akan dianggapnya remeh, sementara urusan dunia dianggapnya besar dan amat penting. Akibatnya, fokus perhatiannya hanya terbatas pada dunia saja. Maka, manakala pendengarannya diketuk dengan masalah akhirat dan bahaya yang akan terjadi nanti, pasti akan masuk lewat satu telinga dan akan segera keluar dari telinga lainnya, sama sekali tak berbekas di hati, dan tidak mampu menggerakkan hati untuk bertobat serta meraih hal-hal yang telah hilang itu." (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Keajaiban Hati, h. 49)

Agar bisa selalu memelihara yang difardhukan Allah Swt. dan segera berbuat kebaikan:

1. Adab Dzahir: a. Cari tempat yang baik yang dicurahkan rahmat Allah Swt.(bukan tempat ma'siat); dan b. Akrab/berteman dengan orang shalih

2.  Adab Bathin:a. Cinta akhirat; dan b. Merasa tidak panjang umur (قصر الأمل) (tidak merasa panjang umur). Karena itu,  batas usia tidak bisa diketahui, bisa saja kapanpun Allah Swt bisa memanggilnya atau mencabut nyawanya . 
Merasa hidup tidak akan lama lagi(قصر الأمل) merupakan sifat terpuji. Dengan mengekali sifat ini, seseorang bisa Istiqamah dalam kebaikan dan rutin dalam beramal ibadah.

Lawan dari sifat ini adalah sifat panjang angan-angan, yaitu merasa hidup masih panjang(طول الأمل)/Hidup masih lama jauh dari kematian, masih lambat meninggal dunia, umur masih panjang 2/3/5/10/15  tahun lagi atau bahkan lebih panjang lagi umurnya. Ini merupakan penyakit hati, Seperti Usamah dianggap Nabi Muhammad Saw. merasa panjang umur, karena berani berhutang selama satu bulan. Sifat panjang angan-angan mengakibatkan seseorang tidak bisa rutin dalam beribadah,  tidak bisa istiqamah dalam kebaikan, tidak bisa meninggalkan dan mengendalikan syahwat dunia, tidak bisa lurus menuju jalan akhirat,dan merasa berat dalam melakukan kebaikan. (Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah adab suluk murid, 34-35)


والله أعلم

Semoga kita bisa mengamalkan. Aamiin...

Sumber: Risalah Adab Sulukil Murid, Pengajian Guru KH. Muhammad Bakhiet AM. dan Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © Web Kuliah Abdullah | Powered by Blogger | Design by ronangelo Theme Editor: Abdullah Jejangkit | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com