Website Kuliah: Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Selasa, 11 Juni 2024

Tingkatan Wara'

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Sifat Wara' (kehati-hatian)
Al-Imam Ghazali menyebutkan WARA' ada 4 tingkatan:

1. Wara' Adil/ paling rendah(Wara' Wajib): Meninggalkan apa-apa yang telah diharamkan menurut fatwa fuqaha, seperti: meninggalkan mengerjakan riba dan muamalah yang fasid/rusak.
2. Wara' Shalihin(Sunnah) : yaitu meninggalkan sesuatu yang ada kemungkinan haram(tidak pasti, yang meragukan kehalalannya) Seperti: tidak bekerjasama dengan orang yang sebagian kecil hartanya itu ada yang haram, karena kuatir yang diserahkannya itu bagian harta yang tidak halal.
3. Wara' Muttaqin(Wara yang fadhilah, keutamaan) : Meninggalkan sesuatu yang jelas-jelas halal, karena khawatir kalau itu membawa kepada yang keharaman, (tidak apa2, tetapi khawatir ada apa2) Misal memakai pakaian yang bagus, tidak mau karena takut nanti membawa kesombongan 
4. Wara' Siddiqin(wara Afdhal, paling utama) : Meninggalkan sesuatu yang bebas dari resiko, nyata-nyata halal, tidak membawa kepada yang haram. Tapi mendapatkannya itu, dengan jalan tidak ada niat taqwa kepada Allah Swt.
 
والله أعلم
Share:

Senin, 04 September 2023

Kenapa menjawab salam malah mendapatkan dosa?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

TATA CARA MENJAWAB SALAM

 

Lafadz arab اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ merupakan lafadz yang disunahkan untuk memulai salam ketika bertemu dengan orang lain.

Pada saat mendengar orang lain mengucapkan salam atau lafadz:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

pada orang yang mendengar lafadz arab tersebut memiliki kewajiban untuk mengucapkan lafadz :  وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ .

"Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahannya terlimpah juga kepada kalian.

Diantara wali-wali Allah Swt. ada yang tidak mau memberi salam. Kemudian ditanya orang, bukankan memberi salam adalah Sunnah Nabi Saw? Jawabnya; “Benar sunnah nabi, akan tetapi kasih sayang terhadap hamba Allah, itupun merupakan sunnah Nabi”. Kenapa sebabnya, “ketika aku memberi salam banyak orang yang salah dalam menyahut salam, sehingga menjadi dosa baginya”.

 Salah satu keliru dalam menjawab salam adalah “وَعَلَيْكُمْ سَلاَمْ” Kadang-kadang kita dengar yang sudah jadi Ustadz/Guru, seperti itu juga keliru. Rumus Nahwu(bahasa arab) dimana?

Firman Allah Swt:

 وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan(Islam)yaitu salam, dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau (sekuranggnya) balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86).

 Cara menjawab salam yang benar  ada 2(dua) macam : 1) yang lebih baik atau sekurangnya 2) yang sama.

Jika sahutan salam itu kurang dari  yang memberi salam pertama, berarti belum gugur kewajibannya(masih berdosa). Karena memberi salam hukumnya sunnah, sedangkan menjawab salam itu hukumnya wajib. Tapi pahalanya lebih besar yang sunnah(yang memberi salam) ketimbang yang menyahut(meskipun hukumnya wajib).

Misalnya: Orang lain mengucapkan salam atau lafadz pendek السَّلَامُ عَلَيْكُمْ“ sampai itu saja, maka orang yang mendengar lafadz arab tersebut memiliki kewajiban untuk mengucapkan lafadz(minimal sama) “وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ” lebih baik sahutannya dengan “وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهُ” atau lebih sempurna “وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ”.

Jika memberi salam lengkap “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ” maka dijawab minimal “وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ” atau dilengkapi“وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه ُوَرِضْوَانُهُ

Penting :

Lafadz “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ“ ada alif dan lam, jika menjawab salam tidak pakai alif dan lam adalah “وعليكم سلام” dalam tata bahasa arab, itu maknanya berbeda.

Jika pakai alif lam Lafadz “السَّلَامُ عَلَيْكُمْ“  adalah lil kamal, artinya “salam yang sempurna”- diterjemahkan secara Nahu, “Keselamatan dan kesejahteraan yang sempurna atasmu (ini makna do'anya)”. Jika menyahut tanpa alif dan lam “وعليكم سلام” diterjemahkan "maka atasmu pun keselamatan dan kesejahteraan (salam) yang biasa-biasa saja."

Ingat sahutan yang benar “وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ” Wa ‘alaikumussalaam. Karena orang yang memberi salam pakai Alif Lam السَّلَامُ عَلَيْكُمْ jangan وعليكم سلامWa ‘alaikum  salaam(keliru)

Semoga bermanfaat... Silahkan amalkan..


Penulis: Abdullah, Ilmu dari Paguruan

Share:

Selasa, 28 Februari 2023

Livel Bujukan Syaitan dan Penangkalnya

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu pengetahuan melawan Livel-livel Bujukan Syaitan:

1. Membujuk "janganlah beribadah" 
Jawab:
ومالي لا أعبد الذي فطرني وإليه ترجعون
Aku perlu beribadah sebagai bekal di akhirat
2. Beribadahlah pada akhir hayatmu, nanti saja kalau sudah tua, karena dipandang diakhirnya.
Jawab: Umurku tidak tahu, panjangkah atau pendek!
3. Segeralah beribadah! agar Ibadah terburu-buru dan tergesa-gesa.
Jawab: Aku menyembah Allah dengan perlahan, karena tergesa-gesa dari Syaitan.
4. Ayo beribadah, kalau takdirmu keneraka, pasti kamu keneraka.  Hal ini agar melemahkan semangat beribadah.
Jawabnya: Benar saja sudah ditaqdirkan, tapi taat itu tanda kebahagiaan/syurga(الطاعة دليل السعادة), Tiap-tiap orang itu dimudahkan untuk sesuatu yang telah ditakdirkan kepadanya(syurga/neraka)(كل ميسر لما خلق له). Urusan perkara takdir, hanya diketahui Allah, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Swt.

Setelah 4 livel di atas dapat dilalui, Syaitan akan membujuk agar dapat menggugurkan pahala ibadah manusia: 

5. Disanjung syaitan agar ibadahnya  tidak ikhlas, karena manusia atau pujian makhluk
Jawab: Aku beribadah dengan taufik, pertolongan Allah(بالله), karena Allah, bukan karena makhluk selain Allah(لله), kuserahkan semua ibadahku kepada Allah(إلى الله).
Share:

Senin, 28 Maret 2022

Tama' vs Tafwid/pasrah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tama' dan Tafwid

Tama' adalah mengharapkanya sesuatu yang belum tentu baik, seperti mengharapkan kekayaan, miskin, menjabat/berkedudukan,  tanpa menambahkan  "Insya Allah" atau  syarat "Jika itu baik", sesuai pengetahuan Allah Swt. Jadi, tama' adalah menentukan pilihan kepada sesuatu yang belum tentu membawa kebaikan baginya.

Lawan dari tama' adalah Tafwid/pasrah(تفويض), yaitu menyerahkan kepada Allah Swt untuk memilihkan sesuatu terbaik untuk dirinya. Tafwid juga bermakna meninggalkan memilih sesuatu yang mengandung kekhwatiran(tidak tahu baik buruknya baginya, seperti luas rezeki, kaya, panjang umur, sehat, dll/perkara yang mubah ataupun sunnat. Meninggalkan memastikannya(tidak tama'), semua itu pilihan terbaik dipasrahkan kepada Allah Swt . Dengan demikian, tafwid/pasrah adalah menginginkan peliharaan kepada Allah Swt terhadap sesuatu yang menjadi kemaslahatan bagi dirinya.

الطمع : Sangat ingin
Share:

Senin, 14 Maret 2022

Istiqamah Shalat Tahajjud

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

CIRI SEMPURNA KEBAIKAN SESEORANG ADALAH DAPAT MELAKSANAKAN SHALAT TAHAJJUD SECARA ISTIQAMAH

Diriwayatkan bahwasanya dari sahabat RA, menyebutkan tentang keindahan kepribadian Abdullah bin Umar di sisi Rasulullah saw, lalu Nabi bersabda :

نعم الرجل هو، لو كان يصلي باليل

"Abdullah bin Umar itu Baik orangnya, apalagi kalau beliau bangun shalat di waktu Malam"

-Sejak saat itu Abdullah bin Umar, tidak pernah meninggalkan Shalat Malam

Hal penting dapat diambil pelajaran :

-Pentingnya Shalat Tahajjud Salah satu Indikator kesempurnaan sifat baik seseorang
-Orang yang baik cirinya dpt melaksanakan Shalat tahajjud dilakukan dgn Istiqamah.
-Hasan Basry berkomentar:"Sulit Istiqamah Shalat Tahajjud, jikalau masih ada dosa besar yg belum diampuni Allah.

Semoga Bermanfaat
(lih. Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, 16-17)
Share:

Selasa, 22 Februari 2022

Adab Bertetangga

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Adab Bersosial: Hak Terhadap Tetangga

Tetangga memilik Hak yang Berat, untuk mengetahui baik/tidaknya seseorang dapat dilihat bagaimana dia bersosial menurut pandangan tetangga sekitarnya.

Minimal melaksankan 3 adab terhadap tetangga, jika dia telah melaksanaknnya berarti dia telah menjalankan hak tetangganya:

1. Jangan menyakiti tetangga(baik perkataan, perbuatan, atau hal ihwal lainnya)

Seperti menghibah, fitnah, menyakiti tetangga, limbah usaha(baunya mengganggu, misal air limbah, kotoran,suara binatang peliharaan, ganguan suara sarang burung walet), menghidupkan suara motor/mesin/TV/MP3 yang suaranya mengganggu, Batukangan/perbaikan rumh(suara keras) disaat jam Istirahat, bau makanan yang menusuk tanpa berbagi, dll.

2. Menyandang/menahan gangguan tetangga. Membuat kita tidak enak:  tidak protes atau dgn lapor-melapor.

3. Berbuat baik kepada tetangga.
Minimal berdoa untuk tetangga.

Jika salah satu saja dalam 3 hal tersebut  tidak dilaksanakan, berarti dia dianggap tidak menjalankan hak tetangganya... 

Memenuhi hak tetangga merupakan kewajiban sangat disunnahkan, sebagaimana Nabi Muhammad Saw., tiada henti-hentinya  dipesani oleh malaikat Jibril untuk menjaga, dan memperhatikan hak tetangga, sehingga Beliau menyangka bahwa sesungguhnya tetangga akan menjadi Ahli warisnya(walaupun tidak berkeluarga) ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hak tetangga.


Share:

Jumat, 05 November 2021

Kenapa jadi Galau?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

GALAU

Syaikh Ibnu Atha'illah atau Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam hikam mengungkapkan:

مَا تَجِدُهُ الْقُلُوْبُ مِنَ الْهُمُوْمِ وَالْأَحْزَانِ فَلِأَجْلِ مَا مُنِعَتْ مِنْ وُجُوْدِ الْعِيَانِ

Apa yang dirasakan oleh hati dari berbagai macam kesusahan dan kesedihan itu karena hati itu masih tertahan belum bisa melihat Allah(dengan mata hati).
 

Adanya kelesusahan dan kesedihan baik di dunia atau di akhirat itu semua dikarenakan orangnya selalu melihat pada dirinya sendiri (tidak melihat Allah) dan masih menggantung bersama nafsunya (tidak menggantung dengan Allah). Inilah yang mencegah seorang hamba dari mendapatkan Allah.

Selama kita belum bisa merasakan keberadaan Allah bersama kita dan belum bisa meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah akan senantiasa menolong kita dalam menghadapi berbagai problematika kehidupan, maka selama itu pula hati kita akan selalu diselimuti keresahan dan kegelisahan. Ketidaktenangan akan terus mengiringi langkah kita.

Derajat "Iyan" adalah maqam yang paling tinggi, yaitu langsung melihat  keberadaan Allah(dengan mata hati)

Derajat minimal adalah berada pada maqam "Yakin" diantaranya yaitu meyakini kepastian bahwa Allah pasti berbuat baik kepada hamba-Nya., apa-apa yang ditakdirkan Allah kepadanya adalah pasti baik untuknya, walaupun bertentangan dengan keinginannya(nafsunya). Allah Swt pasti tidak akan membiarkan pahala dan balasan kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.
Dengan demikian, maka kuatkan iman dengan derajat minimal, yaitu sampai pada derajat "Yakin"

Imam As-Syibli seorang Ulama ahli Tasawwuf mengatakan : Barang siapa yang benar-benar mengenal Allah maka hatinya tidak akan pernah risau untuk selamanya. 

Inilah makna dari firman Allah swt.:

الا بذكر الله تطمئن القلوب
Ingatlah hanya dengan dzikir/ingat pada Alloh Hati ini bisa tenang.


Share:

Selasa, 02 November 2021

Karakter Seseorang Terlihat pada Tiga Tempat

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tanda orang baik atau buruknya seseorang Tersingkap pada tiga tempat

Untuk melihat tanda orang baik, diantaranya:

،قال رجل لعمر بن الخطاب رضى الله عنه: إن فلان رجل صدق فقال له عمر : هل سافرت معه؟قال لا، هل كانت بينك وبينة معامله؟قال لا، هل ائتمنته على شىء؟ قال لا، فقال له عمر : فأنت الذى لا علم لك به، أراك رأيته يرفع رأسه ويخفض فى المسجد.

Diceritakan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seorang laki-laki berkata kepada Umar, “Sesungguhnya si Fulan itu orangnya baik.” Umar bertanya,
 
“Apakah engkau pernah berpergian bersamanya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya, 

“Apakah engkau pernah bermuamalah (berbisnis) dengannya?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” Umar bertanya, “Apakah engkau pernah memberinya amanah?” Lelaki itu menjawab, “Belum pernah.” 

Umar berkata, “Kalau begitu engkau tidak memiliki ilmu tentangnya. Barangkali engkau hanya melihat dia salat di masjid.”

Dari perkataan Umar tersebut. Sebab ketika kita sudah dekat dengan seseorang, Allah suka membuka sedikit atau mengizinkan terbukanya siapa seseorang itu, dalam tiga tempat seperti yang dikatakan Umar.

1. Saat sedang dalam perjalanan, termasuk perjalanan dinas bersama(pegawai). Misalkan bagi yang pelit bisa kelihatan. Seperti bekal kue yang dia bawa disimpan terus. Tetapi giliran temannya yang membuka bekal, dia ikut mengambil, dan bekalnya sendiri dibawa pulang kembali. Lalu, saat membayar ongkos, bayar parkir, bensin atau makanan , tangannya seolah tersangkut di dalam sakunya sehingga lama mengeluarkan uang, supaya dibayari temannya. Belum lagi keluh-kesahnya. Misalnya, “Jalan-jalan bikin lelah, capek.” Padahal dia sendiri yang ingin jalan-jalan. Hingga kalau sudah kelelahan emosinya akan tampak, begitu juga keegoisan, keserakahan, dan lain-lainnya. Karena dalam safar itulah, misalnya, orang yang tidak sabar akan terbuka ketidaksabarannya. Sebetulnya bukan Allah yang membukanya, tapi dia yang membuka sendiri sehingga Allah mengizinkannya terbuka. 

2. Dalam muamalah (bisnis). Biasanya di sini tersingkap juga kelakuan asli seseorang. Seperti omongan palsu, keserakahan, kelicikan, ingin untung sendiri, dan banyak hal lain, seperti utang piutang tidak membayar(seakan akan lupa), pinjam-meminjam,dst. Orang bisnis manis di awal, pahit di tengah, dan muntah-muntah di belakang. Pernah ada sejumlah orang yang pendidikannya tinggi dan bicaranya bagus datang mengaji/pengajian, lalu mengajak bisnis. Awalnya bagus, tapi setelah sebulan langsung menghilang. Kita yang ditipu tidak rugi, tapi yang pasti rugi adalah yang menipu. 

3. Ketika diberi amanah, banyak contohnya: Seperti disuruh masuk mengajar pukul delapan, tapi datangnya pukul sembilan kurang seperempat. Padahal akhir pelajaran/perkuliahan pukul sembilan, sehingga dia mengajar cuma seperempat jam. Atau, saat dititipi sesuatu, dipakai saja olehnya, ketika meminjam barang tidak dikembalikan, atau pegawai/pns administrasi yang punya tugas mestinya standby di kantor malah sering tidak ada dan sulit dicari padahal sudah dapat gaji bahkan tujangan lainnya, dst.

Seseorang ketahuan  aslinya dalam perjalanan, muamalah, dan saat diberi amanah karena dia membuka dirinya sendiri. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar menjaga diri dalam tiga tempat itu. Tempat yang mudah bagi kita membuka apa saja yang telah ditutupi oleh Allah SWT.

Imam Al-Ghazali mengungkapkan dalam Ihyanya:

ولا تعول على مودة من لم تخبره حق الخبرة بأن تصحبه مدة في دار أو موضع واحد فتجربه في عزله وولايته وغناه وفقره أو تسافر معه أو تعامله في الدينار والدرهم أو تقع في شدة فتحتاج إليه فإن رضيته في الأحوال فاتخذه أبا لك إن كان كبيرا أو ابنا لك إن كان صغيرا أو أخاك إن كان مثلك فهذه جملة آداب المعاشرة مع أصناف الخلق
(إحياء علوم الدين: ٢٠٩ المجلد الرابع دار المهاج)

Janganlah menyandarkan kasih sayang(mencintai seseorang) dengan seseorang yang belum benar-benar kau ketahui. Akan tetapi buktikan terlebih dahulu, yaitu bergaul dengannya dalam beberapa waktu untuk menguji perilakunya:
 1).Berinteraksi/berbisnis dengannya menggunakan dinar dan dirham(uang); apakah baik muamalahnya?
2).Ketika kau dalam kesulitan sehingga kau perlu kepadanya(apakah ia mau membantu atau enggan;
3) Engkau mengajaknya untuk bepergian(bagaimana di perjalanan: bagus atau tidak? Mau berbagi atau kikir?)

Jika meyukai kelakuan dan sikap-sikapnya, maka jadikanlah ia sebagai ayah jika ia sudah tua, atau menjadi anak jika ia masih kecil, atau sebagai saudara jika ia seusia denganmu. Semua ini adalah kumpulan etika bergaul dan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat.

Riwayat lain: 
جاء رجل إلى عمر بن الخطاب -رضي الله عنه- معه شاهد يشهد، قال: ائت بمن يعرفك فجاء برجل، قال: هل تزكيه، هل عرفته؟ قال: نعم، فقال عمر: وكيف عرفته؟ هل جاورته المجاورة التي تعرف بها مدخله ومخرجه؟ قال: لا، قال: هل عاملته بالدينار والدرهم الذي بهما تعرف بهما أمانة الرجال؟ قال: لا، قال: هل سافرت معه السفر الذي يكشف عن أخلاق الرجال؟ قال: لا، قال عمر: فلعلك رأيته في المسجد راكعًا وساجدًا فجئتَ تزكيه!!!! قال: نعم يا أمير المؤمنين، فقال عمر: اذهب فأنت لا تعرفه.

والله أعلم


Sumber:
1.Ihya Ulumiddin, Al-Ghazali
2.https/dtpeduli.org/content/tiga-tempat-tersingkapnya-kepribadian-seseorang
Share:

Minggu, 29 Agustus 2021

AMALAN صلى الله على محمد

KEUTAMAAN MEMBACA "SHALALLAHU ALA MUHAMMAD".

Imam Asya'rani  bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:

‎من قال هذه الصلاة فقد فتح على نفسه سبعين بابا من الرحمة وألقى الله محبته في قلوب الناس فلا يبغضه إلا من في قلبه نفاق

"Barang siapa mengucapkan shalawat ini (shalallahu 'ala Muhammad) maka sungguh telah membuka tujuh puluh rahmat untuk dirinya dan Allah menjadikanya dicinta dalam hati manusia hingga tidak ada yg membencinya kecuali hanya orang yg dihatinya terdapat kemunafikan"

قال شيخنا يعني علياً الخواص رضي الله عنهما هذا الحديث والذي قبله وهو قوله صلى الله عليه وسلم أَقْرَبُ مَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ مِنِّ إِذَا ذَكَرَنِي وَصَلَّى عَلَيَّ رويناهما عن بعض العارفين عن الخضر عليه السلام عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهما عندنا صحيحان في أعلى درجات الصحة وإن لم يثبتهما المحدثون على مقتضى اصطلاحهم والله أعلم

Syaihk Ali Al Khawwas berkata: "Hadis ini dan hadis sebelumnya kami riwayatkan dari sebagian al-'Arifin dari Nabi khidir AS. dari Rasulullah SAW. Kedua hadis tersebut kami riwayatkan tergolong shahih dengan tertinggi walupun tidak ditetapkan oleh para ulama ahli hadis sesuai dengan istilah mereka".

Yang dimaksud hadis sebelumnya adalah sabda Nabi saw :

‎ أقرب ما يكون أحدكم مني إذا ذكرني وصلى علي

"Keadaan terdekat seseorang kepadaku adalah saat ia mengingatku dan bersholawat kepadaku"

Riwayat diatas sesuai dengan riwayat
Imam Assamarqandi berkata: Aku mendengar Nabi Khidlir AS. dan Nabi Ilyas AS. berkata: Kami mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 

‎ما من مؤمن يقول صلى الله على محمد إلا أحبه الناس وإن كانوا أبغضوه والله لا يحبونه حتى يحبه الله عز وجل
Tiada seorang mukmin yg membaca "shollallohu 'ala Muhammmad" kecuali akan dicintai para manusia walaupun sebelumnya mereka membencinya. Demi Allah, mereka tidak mencintainya kecuali karena Allah mencintainya". 

‎من قال صلى الله على محمد فقد فتح على نفسه سبعين بابا من الرحمة
"Barang siapa mengucapkan shollallohu 'ala Muhammad maka sungguh telah membuka untuk dirinya tujuhpuluh pintu rahmat" (Kitab Afdholussholawat hal 37)


RIYA' DALAM BERSHOLAWAT

Habib Zein bin Ibrahim bin Smith berkata dalam kitab beliau al-Manhaj al-Sawi halaman 713:

قال بعض العارفين : إن الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ما تحتاج إلى شيخ ولا حضور، ولا يبطلها الرياء ولا غيره لسرور المصطفى؛ لأن من صلى عليه فرح منه صلى الله عليه وسلم، وثواب فرح النبي ما يعادله شيء

Sebagian kaum arifin berkata : "Sesungguhnya sholawat kepada Nabi ﷺ itu tidak butuh kepada seorang guru dan tidak juga kepada hadirnya hati, dan juga tidak menjadi batal sebab riya' dan selainnya. Sebab Nabi ﷺ senang ;"Karena barang siapa yang sholawat kepada Nabi maka Nabi senang sebab hal itu, dan pahala membuat Nabi senang tidak ada sesuatu apapun yang dapat menyamainya"
Share:

Jumat, 27 Agustus 2021

Nafsu Manusia

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Nafsu

Daya syahwat merupakan daya pertama yang ada sejak bayi, baru kemudian disusul daya ghadab saat usia tujuh tahun. Setelah daya ghadab(marah/agresitifitas) mulai matang baru disusul oleh daya tamyîz. Karena (1) nafsu syahwat dan ghadab mendahului adanya dibanding kematangan daya ruhani lainnya, maka ia lebih membekas di hati dari yang lain.  Sebab kedua adalah (2)akhlak yang ada sedari awal kehidupan di mana daya-daya rohani belum stabil terus dikuatkan oleh perilaku yang menuntut kesenangan nafsu itu. 

Dua sebab itu yang membuat proses perbaikan ruhani ini menjadi tidak mudah. Tujuan perbaikan dan penyucian ruhani bukan meniadakan nafsu secara total, karena hal itu melawan fitrah. Perbaikan rohani ini lebih ditujukan untuk mengarahkan gejolak nafsu itu pada koridor syara`.

Terkait pengendalian Nafsu, Habib Abdullah al-Haddad, mengemukakan:

واعلم أن النفس تكون في أولِ الأمر أمَّارةً تأمرُ بالشرِّ وتنهى عن الخيرِ، فإن جاهدها الإنسان، وصَبرَ على مخالفةِ هواها؛ صارت لوَّامةً متلونةً لها وجهٌ إلى المطمئنةِ ووجهٌ إلى الأمارةِ فهي مرَّةً هكذا ومرَّةً هكذا،فإن رفَقَ بها وسار بها يقودُها بأزَمَّةِ الرَّغبةِ فيما عند اللهِ؛ صارت مطمئنةً تأمرُ بالخيرِ وتستلِذُّه وتأنسُ به، وتنهى عن الشرِّ وتنفِرُ عنه وتفِرُّ منه.

وصاحبُ النفسِ المطمئنةِ يعظُمُ تعَجُّبُه من الناسِ في إعراضِهِم عن الطاعاتِ، مع ما فيها من الرَوْحِ والأنسِ واللَّذَّةِ، وفي إقبالِهم على المعاصي والشهواتِ مع ما فيها من الغمِ والوحشةِ والمرارةِ، ويحسبُ أنهم يجدون ويذوقون في الأمرينِ مثلَ ما يجدُ ويذوقُ، ثم يرجِعُ إلى نفسِه، ويذكرُ ما كان يجدُ من قبل في تناولِ الشهواتِ من اللذاتِ، وفي فعلِ الطاعاتِ من المراراتِ؛ فيعلمُ أنه لم يصل إلى ما هو فيه؛ إلا بمجاهدةٍ طويلةٍ ، وعنايةٍ من اللهِ عظيمةٍ.

آداب سلوك المريد للإمام شيخ الإسلام قطب الدعوة والإرشاد الحبيب عبدالله بن علوي الحداد


Share:

Kamis, 26 Agustus 2021

Do'a Fajar (دعاء الفجر)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

DO'A FAJAR

Doa Fajar yang biasa dibaca setelah salat sunnah Subuh (Fajar):

اَللَّهُمَ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِيْ بِهَا قَلْبِيْ وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِيْ وَتَلُمُّ بِهَا شَعْثِيْ وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِيْ تُصْلِحُ بِهَا دِيْنِيْ وَتَحْفَظُ بِهَا غَائِبِيْ وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِيْ وَتُزَكِّيْ بِهَا عَمَلِيْ وتُبَيِّضْ بِهَا وَجْهِيْ وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا رُشْدِيْ وَتَعْصِمُنِيْ بِهَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.

"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu rahmat dari sisiMu yang dengannya Engkau menunjuki hatiku, mengumpulkan yang terserak dariku, memperbaiki apa yang kusut padaku, mengembalikan padaku kesenanganku, memperbaiki agamaku, menjaga batinku (dari sifat-sifat buruk dan menghiasinya dengan sifat-sifat baik), mengangkat lahiriahku (dengan amal yang baik), mensucikan amalku (dari hala-hal yang dapat merusaknya), memutihkan wajahku, mengilhamkan kepadaku petunjukku, dan menjagaku dari segala kejelekan

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ، وَيَقِيْنًا صَدِيْقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنِيْ إِلاَّ مَا كَتَبْتَهُ عَلَيَّ وَأَرْضِنِيْ بِمَا قَسَمْتَهُ لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنَّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا صَادِقًا وَيَقِيْنًا لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَرَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَمَاتِكَ فِي الدَُّنْيَا وَالآخِرة

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang langgeng yang meliputi hatiku, dan aku memohon kepada-Mu keyakinan yang jujur sehingga aku mengetahui bahwasanya tidak ada yang menimpaku kecuali yang telah Engkau tetapkan atasku, dan buatlah aku ridho (rela) dengan segala yang Engkau bagikan untukku. Ya Allah berikanlah kepadaku iman yang jujur/sungguh-sungguh dan keyakinan yang tidak diikuti oleh kekafiran dan rahmat yang dengannya aku memperoleh kemuliaan-Mu di dunia dan di akhirat."

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الصَّبْرَ عِنْدَ الْقَضَاءِ وَالْفَوْزَ عِنْدَ اللِّقَاءِ وَمَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَ عَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى اْلأَعْدَاءِ وَمُرَافَقَةَ اْلأَنِبِيَاءِ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesabaran ketika menerima keputusan (dari-Mu), keberuntungan ketika perjumpaan (dengan-Mu), derajat para syuhada, kehidupan orang-orang yang bahagia, pertolongan atas musuh, dan berdampingan dengan para Nabi (di surga)".
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أُنْزِلُ بِكَ حَاجَتِيْ وَإِنْ ضَعُفَ رَأْيِيْ وَقَصُرَ عَمَلِيْ وَافْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ اْلأُمُوْرِ وَيَا شَافِيَ الصُّدُوْرِ كَمَا تُجِيْرُ بَيْنَ الْبُحُوْرِ أَنْ تُجِيْرَنِيْ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ومِنَ دَعْوَةِ الثُّبُوْرِ وَفِتْنَةِ الْقُبُوْرِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan hajatku kepada-Mu, meskipun lemah pendapatku, pendek angan-anganku, dan perlunya aku akan rahmati, maka aku mohon wahai Sang Pemutus segala perkara, penyembuh segala dada (yakni: hati), sebagaimana Engkau menjauhkan antar laut, agar Engkau juga menjauhkanku dari azab neraka Sa\'iir, juga dari seruan kecelakaan, dan fitnah kubur."

اَللَّهُمَّ وَمَا ضَعُفَ عَنْهُ رَأْيِيْ وَقَصُرَ عَنْهُ عَمَلِيْ وَلَمْ تَبْلُغْهُ نِيَّتِيْ وَأُمْنِيَّتِيْ مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ أَوْ خَيْرٍ أَنْتَ مُعْطِيْهِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَإِنِّيْ رَاغِبٌ إِلَيْكَ فِيْهِ وَأَسْأَلُكَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

"Ya Allah, apapun yang pikiranku lemah darinya, dan angan-anganku pendek darinya, serta niat dan cita-citaku tak sampai padanya daripada segala kebaikan yang yang telah Engkau janjikan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Mu, atau kebaikan yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sesungguhnya aku sangat mendambakannya juga kepada-Mu, dan memohon kepada-Mu kebaikan tersebut, wahai Tuhan Penguasa seluruh alam semesta.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِيْنَ مُهْتَدِيْنَ، غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، حَرْبًا لِأَعْدَاءِكَ، وَسِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ، نُحِبُّ بِحُبِّكَ النَّاسَ وَنُعَادِيْ بِعَدَاوَتَكَ مَنْ خَالَفَكَ مِنْ خَلْقِكَ

"Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membawa petunjuk dan selalu ditunjuk, bukan orang yang sesat dan bukan pula menyesatkan, kami memerangi musuh-Mu, dan kami berdamai dengan para kekasih-Mu, kami mencintai manusia karena kecintaan pada-Mu, dan kami memusuhi karena permusuhan-Mu kepada siapa saja yang menyalahi (perintah)-Mu dari makhluk-Mu."

اَللَّهُمَّ هذَا الدُّعَاءُ وَمِنْكَ اْلإِجَابَةُ، وهذَا الْجُهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلاَنُ، وإِنَّا ِللهِ وَإِنًّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. ذِي الْحَبْلِ السَّدِيْدِ وَاْلأَمْرِ الرَّشِيْدِ، أَسْأَلُكَ اْلأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ، وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُوْدِ، مَعَ الْمُقَرَّبِيْنَ الشُّهُوْدِ، اَلرُّكَّعِ السُّجُوْدِ، وَالْمُوْفِيْنَ لَكَ بِالْعُهُوْدِ، إِنَّكَ رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ، وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ

Ya Allah, ini adalah doa dan dari-Mu lah penerimaan, dan ini adalah kadar usaha kami dan kepada-Mu lah berserah diri, dan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami hanya akan kembali kepada-Nya, dan tiada daya (untuk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada upaya (untuk melakukan ketaatan) kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Dia Yang Memiliki tali (agama) yang kuat, dan perkara yang penuh petunjuk, aku memohon kepada-Mu keamanan pada hari datangnya ancaman (hari kiamat), dan surga pada hari kekekalan, bersama dengan orang-orang yang didekatkan lagi menyaksikan (Allah), yang ahli ruku’ dan ahli sujud, dan menepati janji, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang Lagi Mencintai, dan Engkau Maha Memperbuat apa yang Engkau kehendaki."
سُبْحَانَ مَنْ تَعَطَّفَ بِالْعِزِّ وَقَالِ بِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيْحُ إِلاَّ لَهُ، سُبْحَانَ ذِي الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ سُبْحَانَ ذِي الْقُدْرَةِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ ذِي الأْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، سُبْحَانَ الَّذِيْ أَحْصَى كَلَّ شَيْءٍ بِعِلْمِهِ

"Maha Suci Allah Yang Berlembut dengan keperkasaan-Nya dan berfirman dengan keperkasaan itu. Maha Suci Allah Yang Mengenakan Kemuliaan dan berbuat dermawan dengannya, Maha Suci Allah Yang mana tidak layak pensucian kecuali untuk-Nya. Maha Suci Allah Sang Pemilik karunia dan nikmat-nikmat. Maha Suci Allah Yang Memiliki kekuasaan dan kedermawanan. Maha Suci Allah Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan. Maha Suci Allah Yang Menghitung segala sesuatu dengan ilmu-Nya."

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَلْبِيْ، وَنُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ فِيْ سَمْعِيْ وَنُوْرًا فِيْ بَصَرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ شَعَرِيْ وَنُوْرًا فِيْ بَشَرِيْ وَنُوْرًا فِيْ لَحْمِيْ وَنُوْرًا فِيْ دَمِيْ وَنُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ وَنُوْرًا فِيْ عَصَبِيْ وَنْوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِيْ وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِيْ وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِيْ وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِيْ وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِيْ. اَللَّهُمَّ زِدْنِيْ نُوْرًا وَأَعْطِنِيْ نُوْرًا وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah, jadikanlah bagiku cahaya di hatiku dan cahaya di kuburku, cahaya di pendengaranku dan cahaya di penglihatanku, cahaya di rambutku dan cahaya di kulitku, cahaya di dagingku, cahaya di darahku, cahaya di tulang-belulangku, dan cahaya di urat-uratku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku. Ya Allah tambahkanlah untukku cahaya, berikanlah aku cahaya, dan jadikanlah bagiku cahaya. Dan sholawat serta salam semoga tetap telimpah atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabat beliau."
Share:

Sabtu, 17 Juli 2021

Do'a mengenakan pakaian dan melepasnya

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

A. Do'a mengenakan pakaian:

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ ِمنْ خَيْرِهِ َوخَيْرِ مَاهُوَلَهُ، َوأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَاهُوَ لَهُ

Artinya:
Ya Tuhanku… aku memohon kepadaMu dengan sungguh-sungguh atas kebaikan pakaian yang akan ku pakai, serta kebaikan atas sesuatu yang dijadikan bahannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pakaian yang akan ku pakai serta kejahatan bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Atau:

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ ِمنْ خَيْرِهِ َوخَيْرِ مَافيه، َوأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَافيه

عن أَبي سعيد الخُدْري قَالَ: كانَ رسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سمَّاهُ باسْمِهِ عِمامَةً، أَوْ قَمِيصًا، أَوْ رِدَاءً يقُولُ: اللَّهُمَّ لكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِع لَهُ، وأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ.
رواهُ أَبو داود، والترمذي وَقالَ: حديث حسن.

Atau:
 
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ كَسَانِىْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّىْ وَلاَقُوَّةٍ
 

Artinya, "Segala puji bagi Allah yang memberi aku pakaian ini dan memberi rizeki dengan tiada upaya dan kekuatan dariku."
 


B. Do'a melepas pakaian:

إذا خلع الرجل ثوبه، قال بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ إلهَ اإلاَّ هُوَ كما رواه أنس رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم  

 Jika ia melepas pakaiannya hendaklah baca:

 
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ
 

Artinya, "Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain-Nya."
 

Share:

Rabu, 07 Juli 2021

Bagaiamana mendoakan keampunan untuk non muslim yang sudah meninggal?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

"Hukum Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir"

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahwa hal ini diharamkan:

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Imam Nawawi mengatakan: “Adapun mensholati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nash Alqur’an dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع

Ibnu Taimiyah juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Alqur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113)

 وَمَا كَانَ ٱسْتِغْفَارُ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(at-Taubah: 114)

Sabda Nabi Saw: 

أمرت أن لا أستغفر لمن كان كافرا
"Aku diperintahkan agar jangan memohonkan ampunan bagi orang kafir." Lihat : Penjelasan lengkap lihat Tafsir Marah Labid, Syaikh Nawawi, 113-114 Surah At-Taubah.

Ayat 113 menggambarkan sikap mereka terhadap kaum musyrik yang telah pasti kemusyrikannya, yakni mereka memutuskan hubungan keakraban dengan mereka. Karena itu, ayat ini menyatakan bahwa: Tidak patut bagi Nabi saw. dan tidak juga bagi orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah swt. bagi orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah swt. walaupun mereka itu adalah kaum kerabat Nabi atau kerabat orang yang beriman itu sesudah jelas bagi mereka dengan kematian mereka dalam kemusyrikan atau turunnya informasi Allah swt. tentang kemusyrikan mereka. Memang Nabi Ibrahim as pernah mendoakan orangtuanya (pamannya) yang musyrik, tetapi itu, menurut ayat 114, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan oleh Nabi Ibrahim as. kepadanya. Tetapi, tatkala telah jelas tanpa sedikit keraguan pun bahwa orang tuanya itu adalah musuh Allah swt. dengan menyekutukan-Nya, maka dia berlepas diri darinya. Ayat ini ditutup dengan memuji Nabi Ibrahim as. sebagai seorang yang sangat lembut hatinya lagi amat penyantun. Itulah agaknya yang merupakan salah satu dorongan bagi beliau memohonkan pengampunan itu.


Simpulan:

 1.Siapa yang jelas kematiannya dalam keadaan menyekutukan Allah swt., maka tidak dibenarkan untuk dido'akan, karena do'a adalah permohonan kepada Allah swt., sedang Allah swt. telah menegaskan penolakannya memberi ampun kepada siapa yang mempersekutukan-Nya  (QS. an-Nisâ' [4]: 48). Adapun yang bergelimang dalam dosa selain syirik, maka tidak ada larangan mendoakannya.
2. Betapa pun  kasihnya seseorang kepada orang lain yang musyrik, walau ibu bapaknya, namun ia tetap tidak dibenarkan memohonkan ampun baginya.
Lihat Sumber : (Quraish Shihab, Al-Lubab, h. 595-597.)
Share:

Kamis, 03 Juni 2021

Kenapa bersholawat pakai "Sayyidina"

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

سلوك الأدب خير من امتثال الأوامر
"Menjalani Adab lebih baik dari pada melaksanakan perintah"

Beberapa contoh kejadian:

Tatkala Abu Bakar ra. menjadi Imam di Mesjid Nabawi. Tiba-tiba datang Rasullah Saw. Kemudian Abu Bakar ra  mundur, tidak menjadi Imam. Nabi Saw. mengungkapkan tidak mengapa, teruskan jadi Imam. Namun Abu Bakar ra. tetap mundur, tidak mempedulikan perintah Nabi saw. karena beradab. 

Demikian juga, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyyah antara Nabi Muhammad Saw. dengan pihak kafir Quraish. Beliau Saw. memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menghapus kalimat " رسول الله" dikarenakan pihak Kafir Quraish, tidak setuju dengan adanya kalimat itu. Ali bin Abi Thalib pun tidak melaksanakan perintah Nabi saw. dan enggan untuk menghapusnya. Sehingga Nabi Muhammad saw. sendiri yang menghapusnya. Begitu besar adab Ali bin Abi Thalib kepada Nabi saw., hingga tidak melaksanakan perintah. 

Oleh karena itu para ulama menyimpulkan bahwa menjalani adab lebih utama dari pada melaksanakan yang diperintahkan.


يذكر أهل الحديث والسيرة: أنه لما كانت هدنة الحديبية فيما بين رسول الله (ص) وبين مشركي مكة،كان الذي تولى كتابة صحيفة الصلح هو أمير المؤمنين علي عليه السلام. وهذا مما لا شك فيه،ولا شبهة تعترية.
غير أن فريقاً من الرواة والمؤرخين، ومنهم البخاري أيضاً يقولون: إنه صلى الله عليه وآله وسلم أمر علياً أن يكتب حينئذٍ في بداية كتاب الصلح: (بسم الله الرحمن الرحيم)، فاعترض على ذلك سهيل بن عمرو ممثل المشركين، قائلاً: لا أعرف هذا، ولكن اكتب: باسمك اللهم.
فقال (ص): اكتب باسمك اللهم (فكتب علي عليه السلام ذلك).
ثم قال (ص) لعلي: اكتب: هذا ما صالح عليه محمد رسول الله سهيل بن عمرو (فكتب) فاعترض عليه سهيل بن عمرو،وقال:لو نعلم أنك رسول الله، ما قاتلناك ولا صددناك، ولكن اكتب اسمك واسم أبيك. فأمر(ص) علياً بمحوها، فقال لا والله، لا أمحاك أبداً.
أو قال: إن يدي لا تنطلق بمحو اسمك من النبوة. أو قال: ما أمحو اسمك من النبوة أبداً. أو ما كنت لأمحو اسمك من النبوة أو قال:(لا أمحوه أبداً) وفي نص البخاري عن البراء بن عازب: (ما أنا بالذي أمحاه).
فمحاه (ص)، أو فقال له (ص): ضع يدي عليها. أو: أرني إياها ؛ فأراه. فمحاه بيده. ... الخ


Demikian juga menambahkan mengucapkan "Sayyidina", ketika membaca Shalawat, adalah menjalani adab mengagungkan Nabi saw. Padahal perintah sebenarnya tanpa menggunakan kata "Sayyidina"
اللهم صل على سيدنا محمد

Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi'i mensyariatkan menambahkan lafadz "Sayyidina". Sedangkan Mazhab Hambali, tidak mensyariatkannya di dalam shalat, namun mensyariatkan di luar shalat.

Abdullah Jejangkit, lih. al-Ajwibah  Ghaliyah, h. 127-128.
Share:

Kamis, 27 Mei 2021

Shalawat yang Cuma dibaca satu kali sama dengan membaca Enam Ratus Ribu kali bacaan Shalawat

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN SHALAWAT SA'ADAH(KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT)


Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Afdhalus Shalawat ‘ala Sayyidis Sadat  berikut;

في مجموعته ما نصه ومن الصيغ الكاملة التي ذكر بعض العارفين أن ثوابها ستمائة ألف صلاة وأن من داوم على قراءتها كل جمعة ألف مرة كان من السعداء الدارين وتسمى صلاة السعادة

“Sayid Ahmad Dahlan dalam salah satu kumpulan tulisannya mengatakan sebagai berikut. Di antara bentuk teks yang sempurna yang disebutkan oleh sebagian arifin (ulama ahli makrifat), sesungguhnya membacanya 1 kali bernilai sama dengan 600.000 kali shalawat. Dan siapapun yang mengistiqamahkan membacanya setiap Jumat sebanyak 1.000 kali, maka dia termasuk golongan yang beruntung dan bahagia di dunia dan akhirat. Shalawat ini disebut shalawat Assa’adah.”
Adapun lafadz shalawat As-Sa’adah adalah sebagai berikut;
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ عَدَدَمَافِى عِلْمِ اللّٰهِ صَلاَةً دَائمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللّٰهِ
Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin ‘adada ma fi ‘ilmillahi shalatan da-imatan bidawami mulkillah.

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad sebanyak bilangan yang ada dalam pengetahuan Allah, dengan rahmat yang abadi seabadi kerajaan Allah.”

Shalawat ini disebut dengan shalawat As-Sa’adah adalah karena shalawat ini akan mendatangkan kebahagian kepada pembacanya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Swt. berfirman:

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab: 56)

Sabda Rasulullah Saw. berikut ini:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim)

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya, “Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan,” (HR.An Nasa’i)

Malam dan Hati Jum'at Semakin diperbanyak

 أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا. 

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”(HR. al-Baihaqi)

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menganjurkan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu tanpa membaca shalawat nabi mengingat banyaknya keutamaan yang terkandung dalam amaliyah shalawat nabi. 

اخواني أكثروا من الصلاة على هذا النبي الكريم فإن الصلاة عليه تكفر الذنب العظيم وتهدي إلى الصراط المستقيم وتقي قائلها عذاب الجحيم ويحظي في الجنة بالنعيم المقيم  

Artinya, “Wahai para sahabatku, perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi mulia ini. niscaya shalawat itu menghapus dosa besar, menunjuki ke jalan lurus, melindungi orang yang mebacanya dari siksa neraka jahim,” (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, h. 119).

Sumber lain:
Amalan yang diberikan Guru M.Rosyad, Pengajian Tafsir Marah Labid, Q.S. Al-Ahzab:56)
Share:

Rabu, 26 Mei 2021

Berapakah Jumlah mahar pernikahan?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

MAHAR PERNIKAHAN SESUAI SUNNAH

Mazhab Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa minimal nilai mahar itu 10 dirham.

Sunnah Mahar perkawinan jangan kurang dari 10 dirham dan jangan lebih dari 500 Dirham.

Ada pendapat 1 dirham: 2, 975 gram perak murni.

1 Dirham = 2,975 gram , jadi jika dihitung maka:
Sunnah  minimal mahar 10 dirham dikalikan 2,975 gram= 29,75 gram dikalikan harga perak murni sekitar Rp. 13.000,-, dengan demikian minimal Rp.386.750,-. 
Adapun sunnah mahar maksimal 500x2,975= 1.487,5 x Rp. 13.000,- = Rp. 19.337.500,-

Nabi menikahi Istri-Istri beliau, adalah dengan mahar 500 dirham perorang (ini jumlah maksimal yang beliau ambil, betapa besar Rasulullah saw. memuliakan perempuan). Selain mahar untuk Safiah dan Ummu Habibah( sekitar 400 dinar)). Lihat sumber: (Sayid Maliki, Tarikh Al-Hawadits Wa Al-Ahwal An-Nabawiyyah, h. 25.).

Dengan demikian sesuai sunnah, lebih baik disebutkan saja mahar pernikahan ketika akad dengan jumlah uang setara 10 s.d 500 dirham, karena ada rahasia lebih dari mengikut sunnah Nabi Muhammad saw.
Share:

Minggu, 09 Mei 2021

Hadir Hati Bersama Allah Swt.dalam beribadah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tingkatan Kehadiran Hati dalam beribadah:
1. Hatinya memerhatikan/mendengarkan bacaan lisan(mulutnya). Yaitu mulutnya mengucapkan(bacaan:zikir, Al-Qur'an, dll), hatinya sesuai apa yang sedang dibacanya.
2. Memahami apa yang dibacanya;
3. Merasakan keberadaan Allah (Ihsan)-Merasa berada di hadapan-Nya.
أن تعبد الله كأنك تراه
"Kamu beribadah kepada Allah swt. seakan-akan melihat-Nya(Musyahadah)"

Hadir Hati(khusu') dalam beribadah merupakan kunci untuk mendapatkan cahaya-cahaya Ilmu dari Allah Swt.

Praktik membantu kehadiran hati dalam beribadah:

Sebelum kita melaksanakan ibadah(shalat, baca Al-Qur'an, Dzikir, dll)  kita rasakan dulu di hati kita "Bahwa shalat ini (ibadah ini) diketahui Allah swt. Allah mengetahui geritik hati hatiku. Rasakan bahwa shalat ini diperhatikan Allah Swt. Shalat ini bisa membawa pahala atau sebaliknya mendapat siksa, jika aku tidak beres dalam melaksanakan shalatku ini."

Abdullah Al-haddad, Ittihafussail, 39-40.
Share:

Senin, 03 Mei 2021

Bagaimana Perbuatan manusia menurut Ahlussunnah, Mu'tazilah, dan Jabariah? Apa perbedaannya?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ringkasan:

لا حول ولا قوة إلا بالله
"Tidak ada daya(gerakan) dan upaya(kemampuan) kecuali dengan Allah Swt"

Manusia diberikan Allah Swt:
1. Ikhtiar bisa memilih
2. Kemampuan

Dengan dua hal di atas, kita bisa beribadah serta menjauhi larangan-Nya, namun kedua hal itu tidak terlepas dari Allah Swt., serta tetap menurut apa yang dikehendaki-Nya.(Ahlussunnah). 

Contoh: Shalat dicipta oleh Allah Swt., tetapi diusahakan oleh hamba, namun usaha hamba itu tidak bisa lepas dari kehendak Allah Swt.

Cukup sampai disini saja penjelasan, jangan ditambahkan lagi, misal: Bagaimana bisa begitu? Hal ini tidak boleh lagi, karena agama melarang melebihi pada demikian.

Dengan demikian inilah yang wajib kita yakini dan lakukan: 1.  Segala sesuatu dicipta Allah Swt.; 2.  Apapun tidak akan terjadi tanpa kehendak atau kuasa Allas Swt.; 3. Terus beamal lah, beribadahlah kepada Allah Swt. Inilah yang diperpegangi dan dianjurkan, jangan banyak mencari, meneliti melebihi dari pada itu.
 وهو سبيل وعر قد تخبط فيه وضل عنه خلق كثير، وتحته سر القدر الذي حارت فيه الألباب، وأمر بالإمساك عن الخوض فيه سيد المرسلين

 
-Hamba diberi kemampuan dan terlepas dari Allas Swt, serta tidak ada lagi hubungannya dengan Allah Swt.(Mu'tazilah)
-Perbuatan Hamba tidak ada pilihan dan muthlak dipaksa, tidak ada kemampuan dan ikhtiar, semata-mata muthlak Allah Swt  (Jabariyyah)


Beberapa point disarikan dari: Habib Abdullah Al-Haddad, Ittihafussail, h. 45-46

Share:

Minggu, 18 April 2021

APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA TEMAN DI SEKITAR ANDA SEDANG MENGGHIBAH?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA TEMAN DI SEKITAR ANDA SEDANG MENGGHIBAH

Ajaran Nabi Muhammad Saw., jikalau teman-teman anda melakukan Ghibah di hadapan anda katakanlah: 
..."اغتبتم أخاكم"... (أخرجه الطبراني)
"Kalian telah mengghibah/mengumpat saudaramu" (Ihya Ulumiddin, h. 1036)

Ini sebagai kontrol sosial, mencegah kemungkaran/Nahi mungkar. Agar dirinya tidak ikut mendapatkan dosa. Sabda Nabi Saw.:

المستمع أحد المغتابين (أخرجه الطبراني)
Pendengar(umpatan) adalah salah seorang di antara orang-orang yang menggibah. (H.R. At-Thabrani)

إلا أن ينكر بلسانه أو بقلبه إن خاف
Kecuali dia mengingkarinya(umpatan itu) dengan lisan atau dengan hatinya jikalau dia takut. (Ihya Ulumiddin, h.1038.)
Share:

Selasa, 13 April 2021

AKHIR ZAMAN INI BAIKNYA PUNYA BANYAK UANG(BADUIT)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Di Akhir Zaman : Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Perlu Uang.

  ( إِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ؛ لَا بُدَّ لِلنَّاسِ فِيهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ ؛ يُقِيمُ الرَّجُلُ بِهَا دِينَهُ وَدُنْيَاهُ ). أخرجه الطبراني في " المعجم الكبير " (20/ 279/660) 

Hadis: "Di akhir zaman manusia tidak bisa lepas dari uang, dengan uang ia bisa menegakkan agamanya dan urusan dunianya" (HR Thabrani dalam Mu'jam Kabir)

Simpulan : Di akhir Zaman ini, baiknya kita punya banyak uang (baduit) untuk bisa menegakkan urusan kebaikan agama dan dunia. Tapi ingatlah Harta bukanlah untuk berfoya-foya atau meluluskan dan  memuaskan Hawa Nafsu dan kema'siatan, namun untuk perantara dalam melaksanakan  Ibadah/ketaatan kepada Allah Swt.
Share:

Minggu, 04 April 2021

AMALAN TASBIH BESAR PAHALANYA

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tasbih yang sangat Bagus dibaca, sangat besar pahalanya:

سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيْمِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dalam sebuah hadits, dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits Radhiyallahu 'Anha, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  keluar dari sisinya pada shalat Shubuh di masjid, sementara Juwairiyah sudah di tempat shalatnya. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kembali saat waktu sudah Dhuha dan ia masih duduk di tempat shalatnya tersebut, maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda, "Engkau masih di tempat ini sejak aku meninggalkanmu?" Ia menjawab, "ya." Lalu beliau bersabda,

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

"Sungguh aku membaca empat kalimat tiga kali seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca seharian niscaya menyamainya; yakni Subhanallah Wabihamdih 'Adada Khalqih, Wa Ridhaa Nafsih, Wazinata 'Arsyih, Wamidada Kalimatih. (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan jiwa-Nya, seberat timbangan 'Arasy-Nya, dan sebanyak jumlah kalimat-kalimat-Nya)." (HR. Muslim) Yakni; dibaca tiga kali setiap pagi.
Share:

AMALAN PEMADAM KEMARAHAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

أطفأت غضبك يا فلان بلاإله إلا الله واستجلبت رضاك عليه بلا إله إلا الله وأقضي حاجتي منك بلا إله إلا الله

الله ربنا وربكم لنا أعمالنا ولكم أعمالكم لاحجة بيننا وبينكم الله يجمع بيننا واليه المصير أطفأت غضبك بلا اله الا الله واستجلبت رضاك بلا اله الا الله واستقضيت حوائجى منك بلا اله الا الله

*لمن غضب عليه سلطان أو ذو جاه أن يقرأ عند دخوله عليه هذه الاية : ولما سكت عن موسى الغضب ( سورة يوسف 67) ثم يقول أطفأت غضبك ( ... غضب فلان/هذا الرجل)يافلان ابن فلان بلاإله إلا الله واستجلبت مودته بسيدنا محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم*


وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلْغَضَبُ أَخَذَ ٱلْأَلْوَاحَ ۖ وَفِى نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ( الأعراف: 154)

Share:

AMALAN LUAS REZEKI

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Amalan Banyak Rizki

*سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله*

SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZhIIM(I) ASTAGhFIRULLAH (dibacanya 100x sesudah mengerjakan shalat sunnah subuh). 

Artinya : Maha Suci Allah denga segala pujiNya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Saya memohon ampun kepada Allah. 

وَأخرج الْخَطِيب فِي رُوَاة مَالك عَن ابْن عمر أَن رجلا قَالَ يَا رَسُول الله إِن الدُّنْيَا أَدْبَرت عني وتولت قَالَ لَهُ فَأَيْنَ أَنْت من صَلَاة الْمَلَائِكَة وتسبيح الْخَلَائق وَبِه يرْزقُونَ قل عِنْد طُلُوع الْفجْر سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيم اسْتغْفر الله مائَة مرّة تَأْتِيك الدُّنْيَا صاغرة فولى الرجل فَمَكثَ ثمَّ عَاد فَقَالَ يَا رَسُول الله لقد اقبلت عَليّ الدُّنْيَا فَمَا ادري أَيْن أضعها

أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال تولت عني الدنيا وقلت ذاتيدي فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فأين أنت من صلاة الملائكة وتسبيح الخلائق وبها يرزقون قال فقلت وماذا يا رسول الله قال قل سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله مائة مرة ما بين طلوع الفجر إلى أن تصلى الصبح تأتيك الدنيا راغمة صاغرة ويخلق الله عز وجل من كل كلمة ملكا يسبح الله تعالى إلى يوم القيامة لك 

Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww. lalu ia berkata: “Dunia berpaling dariku dan sedikit di tanganku (miskin)”, Lalu Rasulullah saww. bersabda: “Maka dimanakah kamu dari permohonan rahmat oleh para Malaikat dan tasbih para makhluk, dan dengannya mereka diberi rizki?” ia berkata: Lalu saya berkata: “Apakah itu wahai Rasulullah?”, Beliau bersabda: “Ucapkanlah: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZhIIMI ASTAGhFIRULLAH (Maha Suci Allah denga segala pujiNya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Saya memohon ampun kepada Allah)” seratus (100x) kali antara terbitnya fajar sampai shalat shubuh(setelah shalat sunnah subuh) maka dunia datang dengan hina dan kecil(tidak sombong) dan Allah ‘Azza Wa Jalla menciptakan dari setiap kata akan satu Malaikat yang mentasbihkan Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahalanya untukmu”. (Di dalam Kitab Ihya Ulumiddin - Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali) 

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mengeluh kepada Rasulullah saww. dan berkata: 

"Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen?"

Sambil tersenyum Nabi Muhammad saww. mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat, serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat:

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم استغفر الله

SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL 'AZhIIM(I) ASTAGhFIRULLAAH.

Lalu Nabi saww. bersabda:
"Bacalah seratus (100) kali sebelum terbit fajar (sehabis sholat Qobliyah Subuh), maka dunia akan memohon kepada Allah agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)".

Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita: 
"Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya".

(Diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dari Imam Malik. Dikutip dari Kitab : أبواب الفرج oleh Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki)

SUMBER PENGAJIAN GURU BAKHIET KE 23 KITAB MINHAJUL ABIDIN
Share:

Senin, 29 Maret 2021

Tafwid, Pasrah kepada Allah Swt

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tama': yaitu mengharapkan sesuatu yang belum tentu baik,(Seperti mengharapkan :kekayaan, miskin, menjabat/berkedudukan),  tanpa menambahkan  "Insya Allah" atau  syarat "Jika itu baik", sesuai pengetahuan Allah Swt. Jadi, tama' adalah menentukan pilihan kepada sesuatu yang belum tentu membawa kebaikan baginya.

Lawan dari tama' adalah Tafwid/pasrah(تفويض), yaitu menyerahkan kepada Allah Swt untuk memilihkan sesuatu terbaik untuk dirinya. Tafwid juga bermakna meninggalkan memilih sesuatu yang mengandung kekhwatiran(tidak tahu baik buruknya baginya, seperti luas rezeki, kaya, panjang umur, sehat, dll/perkara yang mubah ataupun sunnat. Meninggalkan memastikannya(tidak tama'), semua itu pilihan terbaik dipasrahkan kepada Allah Swt . Dengan demikian, tafwid/pasrah adalah menginginkan peliharaan kepada Allah Swt terhadap sesuatu yang menjadi kemaslahatan bagi dirinya.

الطمع : sangat ingin
Share:

Rabu, 17 Maret 2021

Beratnya Istiqamah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

فاستقم كما أمرت
"Istiqamahlah(dalam kebaikan) sebagaimana kamu diperintahkan" Inilah ayat huud yang berat untuk melaksakannya...

Telah membuat aku berhuban surat Huud dan kawan-kawannya.
شيبتي هود وأخواتها

Allah SWT berfirman: 

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS Hud: 112) 

Ayat di ataslah yang menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berat untuk dilaksanakan.

Ibnu ‘Abbâs radhiallahu ‘anhu berkata:

مَا نُزِّلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ- آيَةً هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هذِهِ الآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِه حِيْنَ قَالُوْا لَه: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ : (( شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخْوَاتُهَا )).
Artinya: “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya.”
(Lihat Tafsîr AL-Qurthubi 9/107 dan Tafsir Marah Labid, Akhir perkataan Ibnu ‘Abbâs semisal dengan apa yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3297 dan yang lainnya.)

عن ابنِ عبّاسٍ قالَ : قالَ أَبُو بَكْر رضي الله عنه: “يَا رَسُولَ الله قَدْ شِبْتَ. قالَ: شَيّبَتْنِي هُودٌ وَالْوَاقِعَةُ وَالمُرْسَلاَتُ و {عَمّ يَتَسَاءَلُونَ} و {إِذَا الشّمْسُ كُوّرَتْ}” 
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Abu Bakar RA berkata, 'Wahai Rasulullah! Engkau telah beruban'. Beliau SAW menjawab: 
'Telah membuatku beruban (surat) Huud, Al-Waaqiah, Al-Mursalaat, Amma yatasaa aluun, dan Idzasy Syamsu kuwwirat'"  (HR At-Tirmidzi, Al-Hakim, Abu'aim).

Hal ini karena di dalam surat-surat tersebut terdapat penjelasan tentang huru-hara hari kiamat dan kejadian-kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu, sehingga membuat SAW beruban.
Share:

Jumat, 12 Maret 2021

Amalan Dua Ayat Terakhir QS. At Taubah: 128-129

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

* تفسير حاشية الصاوي / تفسير الجلالين (ت1241هـ) 

{ لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ } * { فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ ٱللَّهُ لاۤ إِلَـٰهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ }

Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung." (QS. At Taubah: 128-129).

وهاتان الآيتان بهما الأمان من كل مكروه، وقد ورد: من قراهما، ويكرر الآية الثانية سبعاً صباحاً، وسبعاً مساءً، أمن من كل مكروه حتى الموت، فمن أراد الله موته أنساه قراءتهما.

"Orang yang membaca dua ayat di atas dan ayat yang kedua diulang tujuh kali, pagi dan sore, maka akan diselamatkan dari semua perkara yang tidak diinginkan(dibencinya, seperti diganggu/disakiti) sampai mati(hari itu tidak akan mati), jika orang orang itu dikehendaki mati hari itu oleh Allah Swt., dilupakan membacanya"
(حاشية العلامة الصاوي)
Perlu diketahui: dua ayat di atas, surat al-Taubah, maka tidak disunatkan membaca
بسم الله الرحمن الرحيم

[1] إحياء علوم الدين (1/ 335)

ذكر أبو القاسم الغافقي في فضائل القرآن في رغائب القرآن لعبد الملك بن حبيب من رواية محمد بن بكار أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من لزم قراءة لقد جاءكم رسول من أنفسكم إلى آخر السورة لم يمت هدما ولا غرقا ولا حرقا ولا ضربا بحديدة

سنن أبي داود ت الأرنؤوط (7/ 415) [2]

عن أبي الدرداء، قال: من قال إذا أصبَحَ وإذا أمسى: حسبيَ اللهُ، لا إله إلا هو عليهِ توكلّتُ، وهو ربُّ العرشِ العظيمُ، سبعَ مراتٍ، كفاه اللهُ ما هَمَّهُ، صادقاً كان بها أو كاذباً

 (1) رجاله ثقات، وهو موقوف

وأخرجه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” 36/ 149 من طريق أبي زرعة الدمشقي و 36/ 149 – 150 من طريق إبراهيم بن عبد الله بن صفوان، كلاهما عن عبد الرزاق ابن عمر بن مسلم، بهذا الإسناد.

وأورده ابن كثير في “التفسير” 4/ 181 عن “تاريخ دمشق” لابن عساكر من طريق أبي زرعة
وقد روى أبو داود ، عن يزيد بن محمد ، عن عبد الرزاق بن عمر - وقال : كان من ثقات المسلمين من المتعبدين ، عن مدرك بن سعد - قال يزيد : شيخ ثقة - عن يونس بن ميسرة ، عن أم الدرداء ، عن أبي الدرداء قال : من قال إذا أصبح وإذا أمسى : حسبي الله لا إله إلا هو ، عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ، سبع مرات ، إلا كفاه الله ما أهمه .
وقد رواه ابن عساكر في ترجمة " عبد الرزاق بن عمر " هذا ، من رواية أبى زرعة الدمشقي ، عنه ، عن أبي سعد مدرك بن أبي سعد الفزاري ، عن يونس بن ميسرة بن حليس ، عن أم الدرداء ، سمعت أبا الدرداء يقول : ما من عبد يقول : حسبي الله ، لا إله إلا هو ، عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ، سبع مرات ، صادقا كان بها أو كاذبا ، إلا كفاه الله ما همه .

وانظر “نتائج الأفكار” 2/ 400.

تنبيه: هذا الحديث أثبتناه من (هـ). وذكر المزي في “التحفة” (11004)، والحافظ في “نتائج الأفكار” 2/ 400 أنه في رواية أبي بكر ابن داسه! قلنا: كذا قال مع أن أبا بكر ابن داسه قد أشار كما في الورقة 183 من (هـ) إلى أن عدة أحاديث ومن جملتها هذا الحديث قد سقط من كتابه وأنه يرويها تعليقاً عن أبي داود.

شرح سنن أبي داود للعباد (577/ 3، بترقيم الشاملة آليا)

هذا أثر عن أبي الدرداء رضي الله تعالى عنه ومثله لا يقال بالرأي؛ لأن تحديد هذا الأجر لهذا العدد الذي هو سبع مرات لا يقال من قبل الرأي.

 

الترغيب والترهيب للمنذري (1/ 255)

وَعَن أم الدَّرْدَاء عَن أبي الدَّرْدَاء رَضِي الله عَنهُ قَالَ من قَالَ إِذا أصبح وَإِذا أَمْسَى حسبي الله لَا إِلَه إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ توكلت وَهُوَ رب الْعَرْش الْعَظِيم سبع مَرَّات كَفاهُ الله مَا أهمه صَادِقا كَانَ أَو كَاذِبًا

رَوَاهُ أَبُو دَاوُد هَكَذَا مَوْقُوفا
Share:

Rabu, 10 Maret 2021

DO'A DAN SHOLAWAT MALAM 27 RAJAB

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

DO'A DAN SHOLAWAT MALAM 27 RAJAB

Barang siapa yg membaca doa ini di malam 27 Rajab dan meminta kepada Allah apa yg diinginkan, maka Allah akan mengabulkan doanya. 

اللهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ، حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ، أَن ترْحَم قَلْبِي الْحَزِيْنَ، وَتُجِيْبَ دَعْوَتِي يَا أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ.

Artinya : Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia para ahlul mahabbah dengan kemuliaan khalwat (pertemuan tersembunyi) yang hanya Engkau berikan kepada Nabi Muhammad pemimpin para rasul ketika Engkau berikan kesempatan kepada Beliau pada malam 27 Rajab, berikanlah hatiku yang sedang galau akan kasih sayangMu serta kabulkanlah doa-doaku wahai yang Maha memiliki kedermawanan. 3x

Sholawat Isra' Mi'raj Malam 27 Rajab:

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على طَيّبِ الْأَرَجْ ، أَفْضَلِ مَنْ أُسْرِيَ وعَرَجْ ، عَبْدِك وحَبِيْبِك سيّدنا محمد صلى الله عليه وسلم صَلاَةً نَنَالُ ببَرَكَتِها عَاجِلَ الفَرج ، مِنْ هَمٍّ وغَمٍّ وبَلاءٍ و وَبَاءٍ وحَرَج ، وعلى آله وصحبه وسلمْ " 

Ya Allah  Yang Maha Agung, sampaikanlah sholawat dan salam pada sosok yang harum semerbak, paling utamanya manusia yang telah diisra'kan dan dimi'rajkan, hamba-Mu dan kekasih-Mu, penghulu kami, Baginda Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga dan shabatnya. Shalawat yang dengan barkahnya dapat memberi kami lekasnya kemudahan dari semua kesusahan dan kesedihan, bala', wabah dan kesulitan. 
(Aamiin)3x.

Semoga Bermanfaat. Amiin.
Share:

Kamis, 25 Februari 2021

Tafsir: Harta dan Anak Merupakan Fitnah/Cobaan dari Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tafsir: Harta dan Anak adalah Cobaan Allah Swt.

QS. Al-Anfal Ayat 28:

وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ  ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

Tafsir:

Salah satu bentuk motivasi mengkhianati amanat Allah dan RasulNya adalah cinta kepada harta dan anak yang berlebihan. Maka pada ayat ini Allah menyatakan, "Dan ketahuilah bahwa hartamu yang merupakan titipan Allah kepadamu dan anak-anakmu yang merupakan anugerah Allah itu hanyalah sebagai cobaan. Maka, janganlah berlebihan dalam mencintai harta dan anak melebihi cinta pada Allah. Cinta harta dan anak yang berlebihan membuat seseorang enggan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya karena takut atau kikir, sebab panggilan tersebut menuntut tanggung jawab dan pengorbanan. Dan ketahuilah, sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar, jauh lebih besar daripada harta dunia dan anak keturunan."
Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah. 

Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.

Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama serta menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.

Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.

Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)

sumber: kemenag.go.id
Share:

Selasa, 23 Februari 2021

HADIS : Jangan menginformasikan suatu hal yang dibeci/bisa merusak hati

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

ADAB BERGAUL: HADIS AKHLAK NABI

Jangan Menginformasikan suatu hal pada orang lain/teman yang membuat hatinya menjadi terkotori(menjadi marah, hati tidak selamat)

وقسم رسول الله ﷺ قسمة فقال رجل من الأنصار: هذه قسمة ما أريد بها وجه الله? فذكر ذلك للنبي ﷺ فاحمر وجهه وقال: "رحم الله أخي موسى قد أوذي بأكثر من هذا فصبر" وكان ﷺ يقول: "لا يبلغن أحد منكم من أصحابي شيئاً فإني أحب أن أخرج إليكم وأنا سليم الصدر".

عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا يُبَلِّغُنِي أحدٌ من أصحابي عن أحدٍ شيئًا، فإنِّي أحبُّ أن أخرج إليكم وأنا سَلِيم الصَّدر"

Ketika Rasulullah Saw. membagikan harta-kekayaan, seorang laki-laki Anshar berkata, "Allah Swt. tidak ridha dengan pembagian harta ini." Ketika hal ini diberitahukan kepada beliau, merahlah wajah
beliau, dan bersabda, "Semoga Allah Swt. tetap menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya kepada saudaraku -Nabi Musa as. - dimana beliau digunjing lebih pedih daripada ini, namun beliau tetap sabar." Sabda Rasulullah Saw.: “Tiada perlu seseorang dari sahabatku menyampaikan sebuah hal tentang orang lain. (Yakni sebuah hal yang aku tak suka, dan aku bisa jadi marah). Sebab sungguh Aku senang keluar kepada kalian dengan kondisi hati yang selamat (dari keburukan kalian).” (إحياء علوم الدين) (HR Abu Daud dan Tirmidzi) no.1546.


Share:

Minggu, 21 Februari 2021

Seperti apa FANA? Pengalaman Personal Para Sufi

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu yang di alami dari pengalaman personal Para Sufi

Awal Jalan Pengalaman Sufi:(Ujung yang bisa diUsahakan)
1. Mengosongkan diri dari selain Allah Swt.(Wudhu/Thaharah)
2. Menenggelamkan diri dalam Zikirullah.(takbiratul Ihram)
3.Fana, lebur tenggelam di dalam Allah Swt.(salam). 

Fana secara mendalam merupakan awal jalan. Tenggelam di samudra tentu tidak terbatas dan tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.

Sebelum fana seperti beranda atau arena transisi yang mengantar kepada Fana. 

Masuk dalam fana seperti samudera. Secara berurutan:
1. Fana(Awal jalan/Thariqah)
2. Mukasyafah(ketersingkapan)
3. Musyahadah(penglihatan), hingga mereka dalam terjaga melihat malaikat, dan roh-roh para nabi. Serta mendengar suara malaikat dan para nabi dan mengambil menfaat dari mereka.
4. Menyaksikan gambar-gambar dan misal(contoh-contoh/ideal type). Dan sampai pada derajat yang tidak bisa diungkapkan.

Pengaruh Filsafat Plato: Neo Platonisme : Alam Suwar dan Misal. 
Semua hal di dunia yang dapat kita indera di dunia ini, adalah Sebenarnya  tiruan dari alam misal(alam sejati). Tempat ada bentuk yang lebih murni, yang di dunia merupakan tiruannya. Seperti seorang arsitek merancang gedung. Gedung itu sebenarnya berasal dari sebuah ide dari seorang arsitek. Wujud materi adalah rendah, adapun wujud non materi(gagasan arsitek) tidak akan hancur. Wujud yang ada dipikiran adalah lebih mulia dibanding wujud materi yang bisa rusak.
Suwar dan amstal-Gambar yang murni dari wujud yang ada di dunia. Para Sufi Masuk kedalam diri Tuhan melihat gambar dalam pikiran Tuhan(Tidak ada seumpamanya ليس كمثله شيء).  Jika diungkapkan pasti akan menimbulkan kesalahpahaman. Seperti yang telah diungkapan oleh Hallaj, Al-Ghazali, Abu Hamid Abulung, Syaik Siti Jenar; yang banyak disalah pahami orang-orang.

Lihat sumber: Al-Ghazali, Al-Munqidz Min Ad-Dhalal, h.106.
Share:
Copyright © Web Kuliah Abdullah | Powered by Blogger | Design by ronangelo Theme Editor: Abdullah Jejangkit | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com