Website Kuliah: Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Minggu, 18 April 2021

APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA TEMAN DI SEKITAR ANDA SEDANG MENGGHIBAH?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA TEMAN DI SEKITAR ANDA SEDANG MENGGHIBAH

Ajaran Nabi Muhammad Saw., jikalau teman-teman anda melakukan Ghibah di hadapan anda katakanlah: 
..."اغتبتم أخاكم"... (أخرجه الطبراني)
"Kalian telah mengghibah/mengumpat saudaramu" (Ihya Ulumiddin, h. 1036)

Ini sebagai kontrol sosial, mencegah kemungkaran/Nahi mungkar. Agar dirinya tidak ikut mendapatkan dosa. Sabda Nabi Saw.:

المستمع أحد المغتابين (أخرجه الطبراني)
Pendengar(umpatan) adalah salah seorang di antara orang-orang yang menggibah. (H.R. At-Thabrani)

إلا أن ينكر بلسانه أو بقلبه إن خاف
Kecuali dia mengingkarinya(umpatan itu) dengan lisan atau dengan hatinya jikalau dia takut. (Ihya Ulumiddin, h.1038.)
Share:

Selasa, 13 April 2021

AKHIR ZAMAN INI BAIKNYA PUNYA BANYAK UANG(BADUIT)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Di Akhir Zaman : Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Perlu Uang.

  ( إِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ؛ لَا بُدَّ لِلنَّاسِ فِيهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ ؛ يُقِيمُ الرَّجُلُ بِهَا دِينَهُ وَدُنْيَاهُ ). أخرجه الطبراني في " المعجم الكبير " (20/ 279/660) 

Hadis: "Di akhir zaman manusia tidak bisa lepas dari uang, dengan uang ia bisa menegakkan agamanya dan urusan dunianya" (HR Thabrani dalam Mu'jam Kabir)

Simpulan : Di akhir Zaman ini, baiknya kita punya banyak uang (baduit) untuk bisa menegakkan urusan kebaikan agama dan dunia. Tapi ingatlah Harta bukanlah untuk berfoya-foya atau meluluskan dan  memuaskan Hawa Nafsu dan kema'siatan, namun untuk perantara dalam melaksanakan  Ibadah/ketaatan kepada Allah Swt.
Share:

Minggu, 04 April 2021

AMALAN TASBIH BESAR PAHALANYA

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tasbih yang sangat Bagus dibaca, sangat besar pahalanya:

سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيْمِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dalam sebuah hadits, dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits Radhiyallahu 'Anha, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  keluar dari sisinya pada shalat Shubuh di masjid, sementara Juwairiyah sudah di tempat shalatnya. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kembali saat waktu sudah Dhuha dan ia masih duduk di tempat shalatnya tersebut, maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda, "Engkau masih di tempat ini sejak aku meninggalkanmu?" Ia menjawab, "ya." Lalu beliau bersabda,

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

"Sungguh aku membaca empat kalimat tiga kali seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca seharian niscaya menyamainya; yakni Subhanallah Wabihamdih 'Adada Khalqih, Wa Ridhaa Nafsih, Wazinata 'Arsyih, Wamidada Kalimatih. (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan jiwa-Nya, seberat timbangan 'Arasy-Nya, dan sebanyak jumlah kalimat-kalimat-Nya)." (HR. Muslim) Yakni; dibaca tiga kali setiap pagi.
Share:

AMALAN PEMADAM KEMARAHAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

أطفأت غضبك يا فلان بلاإله إلا الله واستجلبت رضاك عليه بلا إله إلا الله وأقضي حاجتي منك بلا إله إلا الله

الله ربنا وربكم لنا أعمالنا ولكم أعمالكم لاحجة بيننا وبينكم الله يجمع بيننا واليه المصير أطفأت غضبك بلا اله الا الله واستجلبت رضاك بلا اله الا الله واستقضيت حوائجى منك بلا اله الا الله

*لمن غضب عليه سلطان أو ذو جاه أن يقرأ عند دخوله عليه هذه الاية : ولما سكت عن موسى الغضب ( سورة يوسف 67) ثم يقول أطفأت غضبك ( ... غضب فلان/هذا الرجل)يافلان ابن فلان بلاإله إلا الله واستجلبت مودته بسيدنا محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم*


وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلْغَضَبُ أَخَذَ ٱلْأَلْوَاحَ ۖ وَفِى نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ( الأعراف: 154)

Share:

AMALAN LUAS REZEKI

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Amalan Banyak Rizki

*سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله*

SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZhIIM(I) ASTAGhFIRULLAH (dibacanya 100x sesudah mengerjakan shalat sunnah subuh). 

Artinya : Maha Suci Allah denga segala pujiNya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Saya memohon ampun kepada Allah. 

وَأخرج الْخَطِيب فِي رُوَاة مَالك عَن ابْن عمر أَن رجلا قَالَ يَا رَسُول الله إِن الدُّنْيَا أَدْبَرت عني وتولت قَالَ لَهُ فَأَيْنَ أَنْت من صَلَاة الْمَلَائِكَة وتسبيح الْخَلَائق وَبِه يرْزقُونَ قل عِنْد طُلُوع الْفجْر سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيم اسْتغْفر الله مائَة مرّة تَأْتِيك الدُّنْيَا صاغرة فولى الرجل فَمَكثَ ثمَّ عَاد فَقَالَ يَا رَسُول الله لقد اقبلت عَليّ الدُّنْيَا فَمَا ادري أَيْن أضعها

أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال تولت عني الدنيا وقلت ذاتيدي فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فأين أنت من صلاة الملائكة وتسبيح الخلائق وبها يرزقون قال فقلت وماذا يا رسول الله قال قل سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله مائة مرة ما بين طلوع الفجر إلى أن تصلى الصبح تأتيك الدنيا راغمة صاغرة ويخلق الله عز وجل من كل كلمة ملكا يسبح الله تعالى إلى يوم القيامة لك 

Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww. lalu ia berkata: “Dunia berpaling dariku dan sedikit di tanganku (miskin)”, Lalu Rasulullah saww. bersabda: “Maka dimanakah kamu dari permohonan rahmat oleh para Malaikat dan tasbih para makhluk, dan dengannya mereka diberi rizki?” ia berkata: Lalu saya berkata: “Apakah itu wahai Rasulullah?”, Beliau bersabda: “Ucapkanlah: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZhIIMI ASTAGhFIRULLAH (Maha Suci Allah denga segala pujiNya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Saya memohon ampun kepada Allah)” seratus (100x) kali antara terbitnya fajar sampai shalat shubuh(setelah shalat sunnah subuh) maka dunia datang dengan hina dan kecil(tidak sombong) dan Allah ‘Azza Wa Jalla menciptakan dari setiap kata akan satu Malaikat yang mentasbihkan Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahalanya untukmu”. (Di dalam Kitab Ihya Ulumiddin - Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali) 

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mengeluh kepada Rasulullah saww. dan berkata: 

"Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen?"

Sambil tersenyum Nabi Muhammad saww. mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat, serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat:

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم استغفر الله

SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL 'AZhIIM(I) ASTAGhFIRULLAAH.

Lalu Nabi saww. bersabda:
"Bacalah seratus (100) kali sebelum terbit fajar (sehabis sholat Qobliyah Subuh), maka dunia akan memohon kepada Allah agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)".

Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita: 
"Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya".

(Diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dari Imam Malik. Dikutip dari Kitab : أبواب الفرج oleh Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki)

SUMBER PENGAJIAN GURU BAKHIET KE 23 KITAB MINHAJUL ABIDIN
Share:

Senin, 29 Maret 2021

Tafwid, Pasrah kepada Allah Swt

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tama': yaitu mengharapkan sesuatu yang belum tentu baik,(Seperti mengharapkan :kekayaan, miskin, menjabat/berkedudukan),  tanpa menambahkan  "Insya Allah" atau  syarat "Jika itu baik", sesuai pengetahuan Allah Swt. Jadi, tama' adalah menentukan pilihan kepada sesuatu yang belum tentu membawa kebaikan baginya.

Lawan dari tama' adalah Tafwid/pasrah(تفويض), yaitu menyerahkan kepada Allah Swt untuk memilihkan sesuatu terbaik untuk dirinya. Tafwid juga bermakna meninggalkan memilih sesuatu yang mengandung kekhwatiran(tidak tahu baik buruknya baginya, seperti luas rezeki, kaya, panjang umur, sehat, dll/perkara yang mubah ataupun sunnat. Meninggalkan memastikannya(tidak tama'), semua itu pilihan terbaik dipasrahkan kepada Allah Swt . Dengan demikian, tafwid/pasrah adalah menginginkan peliharaan kepada Allah Swt terhadap sesuatu yang menjadi kemaslahatan bagi dirinya.

الطمع : sangat ingin
Share:

Rabu, 17 Maret 2021

Beratnya Istiqamah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

فاستقم كما أمرت
"Istiqamahlah(dalam kebaikan) sebagaimana kamu diperintahkan" Inilah ayat huud yang berat untuk melaksakannya...

Telah membuat aku berhuban surat Huud dan kawan-kawannya.
شيبتي هود وأخواتها

Allah SWT berfirman: 

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS Hud: 112) 

Ayat di ataslah yang menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berat untuk dilaksanakan.

Ibnu ‘Abbâs radhiallahu ‘anhu berkata:

مَا نُزِّلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ- آيَةً هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هذِهِ الآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِه حِيْنَ قَالُوْا لَه: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ : (( شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخْوَاتُهَا )).
Artinya: “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya.”
(Lihat Tafsîr AL-Qurthubi 9/107 dan Tafsir Marah Labid, Akhir perkataan Ibnu ‘Abbâs semisal dengan apa yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3297 dan yang lainnya.)

عن ابنِ عبّاسٍ قالَ : قالَ أَبُو بَكْر رضي الله عنه: “يَا رَسُولَ الله قَدْ شِبْتَ. قالَ: شَيّبَتْنِي هُودٌ وَالْوَاقِعَةُ وَالمُرْسَلاَتُ و {عَمّ يَتَسَاءَلُونَ} و {إِذَا الشّمْسُ كُوّرَتْ}” 
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Abu Bakar RA berkata, 'Wahai Rasulullah! Engkau telah beruban'. Beliau SAW menjawab: 
'Telah membuatku beruban (surat) Huud, Al-Waaqiah, Al-Mursalaat, Amma yatasaa aluun, dan Idzasy Syamsu kuwwirat'"  (HR At-Tirmidzi, Al-Hakim, Abu'aim).

Hal ini karena di dalam surat-surat tersebut terdapat penjelasan tentang huru-hara hari kiamat dan kejadian-kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu, sehingga membuat SAW beruban.
Share:

Jumat, 12 Maret 2021

Amalan Dua Ayat Terakhir QS. At Taubah: 128-129

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

* تفسير حاشية الصاوي / تفسير الجلالين (ت1241هـ) 

{ لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ } * { فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ ٱللَّهُ لاۤ إِلَـٰهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ }

Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung." (QS. At Taubah: 128-129).

وهاتان الآيتان بهما الأمان من كل مكروه، وقد ورد: من قراهما، ويكرر الآية الثانية سبعاً صباحاً، وسبعاً مساءً، أمن من كل مكروه حتى الموت، فمن أراد الله موته أنساه قراءتهما.

"Orang yang membaca dua ayat di atas dan ayat yang kedua diulang tujuh kali, pagi dan sore, maka akan diselamatkan dari semua perkara yang tidak diinginkan(dibencinya, seperti diganggu/disakiti) sampai mati(hari itu tidak akan mati), jika orang orang itu dikehendaki mati hari itu oleh Allah Swt., dilupakan membacanya"
(حاشية العلامة الصاوي)
Perlu diketahui: dua ayat di atas, surat al-Taubah, maka tidak disunatkan membaca
بسم الله الرحمن الرحيم

[1] إحياء علوم الدين (1/ 335)

ذكر أبو القاسم الغافقي في فضائل القرآن في رغائب القرآن لعبد الملك بن حبيب من رواية محمد بن بكار أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من لزم قراءة لقد جاءكم رسول من أنفسكم إلى آخر السورة لم يمت هدما ولا غرقا ولا حرقا ولا ضربا بحديدة

سنن أبي داود ت الأرنؤوط (7/ 415) [2]

عن أبي الدرداء، قال: من قال إذا أصبَحَ وإذا أمسى: حسبيَ اللهُ، لا إله إلا هو عليهِ توكلّتُ، وهو ربُّ العرشِ العظيمُ، سبعَ مراتٍ، كفاه اللهُ ما هَمَّهُ، صادقاً كان بها أو كاذباً

 (1) رجاله ثقات، وهو موقوف

وأخرجه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” 36/ 149 من طريق أبي زرعة الدمشقي و 36/ 149 – 150 من طريق إبراهيم بن عبد الله بن صفوان، كلاهما عن عبد الرزاق ابن عمر بن مسلم، بهذا الإسناد.

وأورده ابن كثير في “التفسير” 4/ 181 عن “تاريخ دمشق” لابن عساكر من طريق أبي زرعة
وقد روى أبو داود ، عن يزيد بن محمد ، عن عبد الرزاق بن عمر - وقال : كان من ثقات المسلمين من المتعبدين ، عن مدرك بن سعد - قال يزيد : شيخ ثقة - عن يونس بن ميسرة ، عن أم الدرداء ، عن أبي الدرداء قال : من قال إذا أصبح وإذا أمسى : حسبي الله لا إله إلا هو ، عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ، سبع مرات ، إلا كفاه الله ما أهمه .
وقد رواه ابن عساكر في ترجمة " عبد الرزاق بن عمر " هذا ، من رواية أبى زرعة الدمشقي ، عنه ، عن أبي سعد مدرك بن أبي سعد الفزاري ، عن يونس بن ميسرة بن حليس ، عن أم الدرداء ، سمعت أبا الدرداء يقول : ما من عبد يقول : حسبي الله ، لا إله إلا هو ، عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ، سبع مرات ، صادقا كان بها أو كاذبا ، إلا كفاه الله ما همه .

وانظر “نتائج الأفكار” 2/ 400.

تنبيه: هذا الحديث أثبتناه من (هـ). وذكر المزي في “التحفة” (11004)، والحافظ في “نتائج الأفكار” 2/ 400 أنه في رواية أبي بكر ابن داسه! قلنا: كذا قال مع أن أبا بكر ابن داسه قد أشار كما في الورقة 183 من (هـ) إلى أن عدة أحاديث ومن جملتها هذا الحديث قد سقط من كتابه وأنه يرويها تعليقاً عن أبي داود.

شرح سنن أبي داود للعباد (577/ 3، بترقيم الشاملة آليا)

هذا أثر عن أبي الدرداء رضي الله تعالى عنه ومثله لا يقال بالرأي؛ لأن تحديد هذا الأجر لهذا العدد الذي هو سبع مرات لا يقال من قبل الرأي.

 

الترغيب والترهيب للمنذري (1/ 255)

وَعَن أم الدَّرْدَاء عَن أبي الدَّرْدَاء رَضِي الله عَنهُ قَالَ من قَالَ إِذا أصبح وَإِذا أَمْسَى حسبي الله لَا إِلَه إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ توكلت وَهُوَ رب الْعَرْش الْعَظِيم سبع مَرَّات كَفاهُ الله مَا أهمه صَادِقا كَانَ أَو كَاذِبًا

رَوَاهُ أَبُو دَاوُد هَكَذَا مَوْقُوفا
Share:

Rabu, 10 Maret 2021

DO'A DAN SHOLAWAT MALAM 27 RAJAB

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

DO'A DAN SHOLAWAT MALAM 27 RAJAB

Barang siapa yg membaca doa ini di malam 27 Rajab dan meminta kepada Allah apa yg diinginkan, maka Allah akan mengabulkan doanya. 

اللهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ، حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ، أَن ترْحَم قَلْبِي الْحَزِيْنَ، وَتُجِيْبَ دَعْوَتِي يَا أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ.

Artinya : Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia para ahlul mahabbah dengan kemuliaan khalwat (pertemuan tersembunyi) yang hanya Engkau berikan kepada Nabi Muhammad pemimpin para rasul ketika Engkau berikan kesempatan kepada Beliau pada malam 27 Rajab, berikanlah hatiku yang sedang galau akan kasih sayangMu serta kabulkanlah doa-doaku wahai yang Maha memiliki kedermawanan. 3x

Sholawat Isra' Mi'raj Malam 27 Rajab:

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على طَيّبِ الْأَرَجْ ، أَفْضَلِ مَنْ أُسْرِيَ وعَرَجْ ، عَبْدِك وحَبِيْبِك سيّدنا محمد صلى الله عليه وسلم صَلاَةً نَنَالُ ببَرَكَتِها عَاجِلَ الفَرج ، مِنْ هَمٍّ وغَمٍّ وبَلاءٍ و وَبَاءٍ وحَرَج ، وعلى آله وصحبه وسلمْ " 

Ya Allah  Yang Maha Agung, sampaikanlah sholawat dan salam pada sosok yang harum semerbak, paling utamanya manusia yang telah diisra'kan dan dimi'rajkan, hamba-Mu dan kekasih-Mu, penghulu kami, Baginda Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga dan shabatnya. Shalawat yang dengan barkahnya dapat memberi kami lekasnya kemudahan dari semua kesusahan dan kesedihan, bala', wabah dan kesulitan. 
(Aamiin)3x.

Semoga Bermanfaat. Amiin.
Share:

Kamis, 25 Februari 2021

Tafsir: Harta dan Anak Merupakan Fitnah/Cobaan dari Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tafsir: Harta dan Anak adalah Cobaan Allah Swt.

QS. Al-Anfal Ayat 28:

وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ  ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

Tafsir:

Salah satu bentuk motivasi mengkhianati amanat Allah dan RasulNya adalah cinta kepada harta dan anak yang berlebihan. Maka pada ayat ini Allah menyatakan, "Dan ketahuilah bahwa hartamu yang merupakan titipan Allah kepadamu dan anak-anakmu yang merupakan anugerah Allah itu hanyalah sebagai cobaan. Maka, janganlah berlebihan dalam mencintai harta dan anak melebihi cinta pada Allah. Cinta harta dan anak yang berlebihan membuat seseorang enggan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya karena takut atau kikir, sebab panggilan tersebut menuntut tanggung jawab dan pengorbanan. Dan ketahuilah, sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar, jauh lebih besar daripada harta dunia dan anak keturunan."
Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah. 

Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.

Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama serta menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.

Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.

Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)

sumber: kemenag.go.id
Share:

Selasa, 23 Februari 2021

HADIS : Jangan menginformasikan suatu hal yang dibeci/bisa merusak hati

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

ADAB BERGAUL: HADIS AKHLAK NABI

Jangan Menginformasikan suatu hal pada orang lain/teman yang membuat hatinya menjadi terkotori(menjadi marah, hati tidak selamat)

وقسم رسول الله ﷺ قسمة فقال رجل من الأنصار: هذه قسمة ما أريد بها وجه الله? فذكر ذلك للنبي ﷺ فاحمر وجهه وقال: "رحم الله أخي موسى قد أوذي بأكثر من هذا فصبر" وكان ﷺ يقول: "لا يبلغن أحد منكم من أصحابي شيئاً فإني أحب أن أخرج إليكم وأنا سليم الصدر".

عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا يُبَلِّغُنِي أحدٌ من أصحابي عن أحدٍ شيئًا، فإنِّي أحبُّ أن أخرج إليكم وأنا سَلِيم الصَّدر"

Ketika Rasulullah Saw. membagikan harta-kekayaan, seorang laki-laki Anshar berkata, "Allah Swt. tidak ridha dengan pembagian harta ini." Ketika hal ini diberitahukan kepada beliau, merahlah wajah
beliau, dan bersabda, "Semoga Allah Swt. tetap menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya kepada saudaraku -Nabi Musa as. - dimana beliau digunjing lebih pedih daripada ini, namun beliau tetap sabar." Sabda Rasulullah Saw.: “Tiada perlu seseorang dari sahabatku menyampaikan sebuah hal tentang orang lain. (Yakni sebuah hal yang aku tak suka, dan aku bisa jadi marah). Sebab sungguh Aku senang keluar kepada kalian dengan kondisi hati yang selamat (dari keburukan kalian).” (إحياء علوم الدين) (HR Abu Daud dan Tirmidzi) no.1546.


Share:

Minggu, 21 Februari 2021

Seperti apa FANA? Pengalaman Personal Para Sufi

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu yang di alami dari pengalaman personal Para Sufi

Awal Jalan Pengalaman Sufi:(Ujung yang bisa diUsahakan)
1. Mengosongkan diri dari selain Allah Swt.(Wudhu/Thaharah)
2. Menenggelamkan diri dalam Zikirullah.(takbiratul Ihram)
3.Fana, lebur tenggelam di dalam Allah Swt.(salam). 

Fana secara mendalam merupakan awal jalan. Tenggelam di samudra tentu tidak terbatas dan tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.

Sebelum fana seperti beranda atau arena transisi yang mengantar kepada Fana. 

Masuk dalam fana seperti samudera. Secara berurutan:
1. Fana(Awal jalan/Thariqah)
2. Mukasyafah(ketersingkapan)
3. Musyahadah(penglihatan), hingga mereka dalam terjaga melihat malaikat, dan roh-roh para nabi. Serta mendengar suara malaikat dan para nabi dan mengambil menfaat dari mereka.
4. Menyaksikan gambar-gambar dan misal(contoh-contoh/ideal type). Dan sampai pada derajat yang tidak bisa diungkapkan.

Pengaruh Filsafat Plato: Neo Platonisme : Alam Suwar dan Misal. 
Semua hal di dunia yang dapat kita indera di dunia ini, adalah Sebenarnya  tiruan dari alam misal(alam sejati). Tempat ada bentuk yang lebih murni, yang di dunia merupakan tiruannya. Seperti seorang arsitek merancang gedung. Gedung itu sebenarnya berasal dari sebuah ide dari seorang arsitek. Wujud materi adalah rendah, adapun wujud non materi(gagasan arsitek) tidak akan hancur. Wujud yang ada dipikiran adalah lebih mulia dibanding wujud materi yang bisa rusak.
Suwar dan amstal-Gambar yang murni dari wujud yang ada di dunia. Para Sufi Masuk kedalam diri Tuhan melihat gambar dalam pikiran Tuhan(Tidak ada seumpamanya ليس كمثله شيء).  Jika diungkapkan pasti akan menimbulkan kesalahpahaman. Seperti yang telah diungkapan oleh Hallaj, Al-Ghazali, Abu Hamid Abulung, Syaik Siti Jenar; yang banyak disalah pahami orang-orang.

Lihat sumber: Al-Ghazali, Al-Munqidz Min Ad-Dhalal, h.106.
Share:

Sabtu, 20 Februari 2021

Bagaimana Cara Bernazar? Jangan Beramal Tanpa Ilmu

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Syarat Sah Nazar:

1. Harus dilafadzkan/dituturkan/diucapkan, Contoh: "Aku wajibkan atasku Shalat Dhuha", kalau di dalam Hati, maka  TIDAK SAH Nazarnya
2. Sesuatu yang diNazarkan adalah Perkara Sunnah. Seperti puasa/shalat sunnah, Sadakah, dll. Nazar Tidak Sah kalau ditunjukkan pada perkara MUBAH(seperti:"Kalau aku lulus kuliah, Aku baGundul(kepala)", "Kalau  nilaiku A, aku Makan Soto Banjar", dll), demikian juga tidak Sah Nazar pada hal-hal yang Wajib; Makruh; apalagi pada perkara yang Haram.

Nazar ada 2 macam:

1. Nazar Muallaq/Bergantung, contohnya: "Apabila lulus Ujian, aku akan mentraktir kawan sekelasan(bersedekah)"
2. Nazar Munajjas/Muthlak/Secara Langsung/tanpa persyaratan,  Contohnya:" Aku Wajibkan atas diriku Sembahyang Tahajjud"

-Orang-orang Shaleh(Suluk perjalanan mendekatkan diri kepada Allah), mereka  banyak menazarkan perkara sunnah, agar mereka dapat membiasakan, tidak lemah, perhatian, disiplin, rajin untuk beribadah kepada Allah Swt., Seperti menazarkan untuk selalu shalat berjama'ah, shalat rawatib qabliyah&ba'diyah, puasa/shalat/sedakah sunnah lainnya...

Sumber : Pengajian ke 5  Kitab Taqrirat Sadidah  Al-Mukarram Guru K.H. Muhammad Bakhiet.A.M.

Semoga bermanfaat...Aamiin.
Share:

Kamis, 11 Februari 2021

PERUMPAMAAN KEHIDUPAN DUNIA

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

PERUMPAMAAN KEHIDUPAN DUNIA


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (45) الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا (46) 
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, ke­mudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, teta­pi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pa­halanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harap­an.


Ayat 45 Surah Al-Kahfi memaparkan perumpamaan yang berlaku umum. Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw. memberi perumpamaan kepada manusia seluruhnya tentang masa wujud, daya tarik, dan keindahan kehidupan dunia, yakni bahwa dunia adalah serupa dengan air hujan yang Allah turunkan dari langit dan menyirami tumbuh-tumbuhan, lalu air itu bercampur dengan tanah yang mengandung benih tumbuh-tumbuhan yang berada dalam tanah sehingga benih itu tumbuh subur menghijau dan matang, lalu dengan amat cepat tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering kerontang, diterbangkan oleh angin. Demikian Allah Mahakuasa menghidupkan dan mematikan, menyuburkan tumbuhan dan melayukannya, dan demikian juga sifat dan kesudahan kenikmatan hidup duniawi. Memang Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ayat 46 menyebut dua dari hiasan dunia yang sering kali dibanggakan manusia dan mengantarnya lengah dan angkuh. Di sini dinyatakan bahwa: Harta, yakni segala sesuatu yang memiliki nilai material, baik uang, bangunan, binatang, sawah ladang, kendaraan, dan lain-lain, demikian juga anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Kesemuanya tidak abadi dan bisa memperdaya manusia, tetapi amalan-amalan yang kekal karena dilakukan demi karena Allah lagi saleh, yakni sesuai dengan tuntunan agama dan bermanfaat, adalah lebih baik di sisi Allah serta lebih dapat diandalkan untuk menjadi harapan. (M. Quraish Shihab, Al-Lubab: 299-300)
Share:

Jumat, 05 Februari 2021

PAKAIAN ATRIBUT KEAGAMAAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Padahal Penduduk Indonesia Mayoritas menganut agama Islam,  sedikit tertahan untuk menjalankan ajaran agama yang dianutnya

Kalau menjalankan syariat, seperti menutup aurat, diwajibkan oleh Agama. Termasuk amar ma'ruf bagi yang memerintahkannya. Jika misalkan membiarkan si anak  yang muslim membuka aurat(misalkan tanpa pakaian Islami yang menutup aurat) berarti membiarkan kemungkaran. Apa jadinya nanti kemungkaran dibiarkan secara struktur? 

 نعوذ بالله من ذلك

Kalau pendidikan tak boleh melarang dan tak boleh mewajibkan soal pakaian atribut keagamaan(berdasarkan keyakinan agamanya masing-masing), ini tak lagi mencerminkan pendidikan. Memang usia sekolah(sebenarnya termasuk orang dewasa) itu perlu dibiasakan bahkan dipaksa melakukan yang baik(مجاهدة النفس)dari perintah agama karena untuk pembiasaan karakter mulia. 
Sebagaimana konsep pendidikan Imam Al-Ghazali, dalam pendidikan diperlukan muzahadatunnafsi (مجاهدة النفس), kesungguhan dalam melatih diri. Setiap diri manusia perlu membiasakan sifat-sifat ataupun perbuatan-perbuatan terpuji, seperti menutup aurat, berpakaian sesuai anjuran agama. Walapun pada awal pembiasaan agak berat melakukan perbuatan kebaikan. Namun dengan kesungguhan hati, berjuang melawan hawa nafsu, akhirnya perbuatan baik itu menjadi jadi diri akhlak mulia.

Share:

Selasa, 02 Februari 2021

Mencintai saudara kita, sama seperti cinta pada diri sendiri

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Mencintai saudara kita,  Seperti Mencintai Diri Sendiri
 
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)



فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ (رواه مسلم)

"Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dam hari akhir, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” 


Contoh: 
-Ketika dibeli sesuatu dia cerewet, batawar banar, namun begitu dia menjual(pedagang) mendapat keuntungan yang berlipat ganda.(Celaka, tidak mencintai saudaranya-Imannya lemah)
-Contoh lain: Menjual sepeda dengan keuntungan 100 ribu. Apakah kita senang seandainya dia yang membelinya? Jika tidak senang, berarti dia tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

-Kitalah yang menjadi ukuran, bukan ukuran Si Pembeli (APAKAH SENANG ATAU TIDAK): Contoh: modal 10 ribu, dijual menjadi 100 ribu. Hal ini dipertimbangkan bagaimana seandainya dia yang membelinya 100 ribu, sedangkan dia tahu modalnya hanya 10 ribu. Senang atau tidak?
Share:

Sabtu, 30 Januari 2021

Fudhail bin Iyadh, Bekas Perampok yang Jadi Gurunya Imam Syafi'i

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Fudhail bin Iyadh Bertaubat karena mendengar Bacaan Al-Qur'an

Fudhail bin Iyadh adalah salah seorang guru Imam Syafi'i. Sebelum dikenal sebagai ulama besar pernah menjadi perampok. 

Di wilayah Khurasan (Asia Tengah), pada abad kedelapan hiduplah seorang perampok, Fudhail bin Iyadh. Sosok yang biasa melakukan kejahatan di rute antara Abu Warda dan Sirjis itu amat ditakuti. Jangankan bertemu muka. Siapapun pengelana jalur itu bila mendengar namanya disebut saja sudah merinding ketakutan.

Pada suatu malam ketika ia hendak mencuri di rumah seseorang, ia mendengar pemilik rumah sedang membaca Alquran. Ayat yang dibaca adalah surat Al-Hadid 16: 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

Artinya, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk menundukkan hatinya  mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”


Mendengar bacaan ayat itu, Fudhail bin Iyadh terkesima, membekas di hatinya, dan hatiinya seakan luruh dan benar-benar tunduk pada peringatan Allah SWT. Dari lidahnya terlontar kata-kata yang berasal dari batinnya, ''Ya Allah, sudah tiba waktunya bagi kalbuku ini untuk tunduk dan bersimpuh di bawah ridha dan karunia-Mu.''  Akhirnya Fudail bin Iyadh  bertaubat dan menuntut ilmu, hingga menjadi Ulama besar di zaman itu.
Share:

Jumat, 29 Januari 2021

KH. Muhammad Muhsin (Ulama Kota Palangka Raya)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

KH. Muhammad Muhsin (Ulama Kota Palangka Raya)


KH. Muhammad Muhsin dilahirkan di Taniran Kandangan pada tanggal 9 september 1967. Beliau berasal dari keluarga yang latar belakangnya adalah alim ulama. Ayah beliau bernama KH. Jamaluddin.
KH. Muhammad Muhsin dibesarkan di lingkungan pendidikan agama dan  sangat kuat dan patuh dalam menjalankan syariat Allah SWT.
KH. Muhammad Muhsin dalam perjalanan beliau menuntut ilmu agama dimulai  sejak kecil berada pada asuhan orang tua sendiri. Sehingga orang tua beliau yang pertama kali mengajarkan agama kepada KH.Muhammad Muhsin secara langsung. 
Dalam menuntut ilmu beliau berguru pada KH. Zaini bin Abdul Ghani(Guru Sekumpul) dan beliau juga melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren terkenal di Kalimantan Selatan yaitu  Pondok Pesantren Darussalam Martapura Kabupaten Banjar. Guru Muhsin berhijarah di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah sejak tahun 1994.
Awal mulanya beliau berhijrah di Kota Palangka Raya yaitu, sebagai Ta'mir/kaum Masjid Sabilal Muhtadin selama lima tahun dan KH. Muhammad Muhsin juga orang pertama yang menjadi kaum Masjid Sabilal muhtadin. Disitu juga KH. Muhammad Muhsin ikut membantu memeriahkan masjid dengan cara membawa anak-anak dan remaja disekitar Masjid untuk sama-sama belajar seni habsy, dan juga mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak atau remaja Masjid Sabilal Muhtadin. 
KH. Muhammad Muhsin mulai dakwahnya di Kota Palangka Raya sejak tahun 1995, sejak itu masyarakat disekitar Kota Palangka Raya mulai  mengundang beliau untuk mengisi acara-acara keagamaan seperti acara Maulid Nabi, Isra’ mi'raz, Nuzulul Qur’an dan acara-acara keagamaan lainnya. Dengan berjalannya waktu beliau mendapatkan banyak usulan dari masyarakat Kota Palangka Raya lebih-lebih masyarakat di sekitar Masjid Sabilal Muhtadin untuk membangun sebuah majelis ilmu yaitu majelis taklim, nama majelis taklim yang ditetapkan adalah Majelis Ta'lim Ar-Raudhah, usulan tersebut bisa direalisasikan pada tahun 2005 namun kendalanya adalah terkait dengan dana sehingga majelis taklim Ar-Raudah yang dirintis belum bisa berjalan dengan baik, sehingga di tahun 2006 Majelis Taklim Ar-Raudhah tersebut bisa berjalan dengan baik. Beliau wafat , 18 Januari 2021, 5 Jumadil Akhir 1442 H. Pukul 14.40 WIB dan dimakamkan di Kubah Taniran Kandangan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Tengah.
                                 
Share:

Sabtu, 23 Januari 2021

Kategori orang yang mampu berhaji

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Kategori orang yang mampu berhaji (wajib):

Seseorang memiliki rumah(ataupun harta lainnya, seperti mobil, tanah, dan kebun), seandainya rumah itu DIJUAL, maka dia punya biaya dan mampu melaksanakan kewajiban haji. Walaupun ketika ia pulang, tidak memiliki rumah/menyewa. 

Tidak termasuk harta untuk dia  berusaha seperti memiliki toko. Karena Toko untuk berusaha diwajibkan dalam agama untuk nafkah keluarga, sedangkan memiliki rumah tidak diwajibkan.

Orang yang mampu berhaji, tetapi enggan melaksanakannya, berpotensi akan keluar dari Islam.

"Haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga dan dia seperti terlahir dari perut ibunya bersih tanpa dosa" Do'anya dikabulkan selama 40 hari sejak datang dari tanah suci.

Syarat untuk memperoleh Haji yang mabrur diperlukan:

1. Niat yang ikhlas (tanpa campuran lain, seperti sambil berdagang, menjenguk keluarga, agar dipandang orang lain);
2. Dana haji dari harta yang halal;
3. Melaksanakan tata cara haji dengan benar.

والله أعلم
Share:

BIMBINGAN AMALAN RUTIN MEMBACA AL-QUR'AN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN WIRID BACA AL-QUR'AN

Hendaklah seseorang yang ingin dicintai dan dikasihi oleh Allah Swt. memperbanyak membaca Al-Qur'an, merenungi maknanya, dan membacanya dengan tartil serta membesarkan kalam Allah Swt.

A. Amalan harian 7 Surah yang menyelamatkan(السبع المنجيات) yang dibaca tiap malam:

1. Alif Lam Mim As-Sajadah

Siapa yang mengamalkan membaca tiap malam "Surah Alif Lam Min As-Sajadah", maka  dia mendapatkan  : 1. Ilmu yang Yakin; 2. Diberikan kekuatan Islam, Iman, dan Tauhid.

2. Yasin
3. Ad Dhukhan
4. Al-Waqiah
5. Al-Mulk
6. Al-Insan
7. Al-Buruj

Jika tidak bisa baca semuanya, ambil lima surah:

1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Yasin
3. Ad Dhukhan
4. Waqiah
5. Al-Mulk

Atau ambil empat surah:

1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Yasin
3. Al-Waqiah
4. Al-Mulk

Tidak mampu juga, ambil tiga surah:
1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Yasin
3. Al-Mulk

Atau tidak mampu juga, ambilah dua surah:
1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Al-Mulk

Terakhir paling minimal membaca tiap malam surah :
1. Al-Mulk

Kalau mampu mengamalkan tujuh surah, maka bacalah semua surah itu.  Atau ia hanya bisa membaca ketujuh surah itu secara rutin pada setiap malam Jum'at dan tidak  mengapa untuk di malam lainnya, ia hanya membaca empat surah. Yang penting adalah mengamalkan surah tersebut secara rutin. 
Seperti perkataan para Aulia Allah Swt:

"ما وصلنا إلا ما وصلنا بكثرة الأوراد، ولكن بمداومتها"
"Tidaklah kami sampai-kepada derajat/kedudukan yang kami telah sampai kepada derajat itu- dengan memperbanyak Wirid(amalan rutin), tetapi dengan mengekalkannya". 
Sedikit saja amalan, tapi kekal-rutin Istiqamah-, sehingga mengantarkan mereka pada derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

B. Bacalah Al-Qur'an tiap hari secara tertib(batarus) dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An Naas. 

Kita bisa menargetkan sekali khatam keseluruhan Al-Qur'an per tiga bulan. Atau ia jika tidak mampu khatam dalam tiga bulan bisa saja enam bulan atau paling minimal satu kali  dalam setahun untuk mengkhatamkannya. Semakin banyak khatam dalam setahun, maka akan semakin bagus. 
Kemudian bacalah Al-Qur'an  sambil merenungkan maknanya dan menjalankan adab-adabnya.

C. Adab bathin dalam membaca Al-Qur'an:

1. Hadir Hati(حضور القلب)/khusu' dia sedang baca Al-Qur'an. Apa yang di mulut begitu juga di hati.
2. Memahami kandungan maknanya(التفهم), walaupun sambil membaca terjemah Al-Qur'an atau bisa juga langsung paham dengan penguasaan Bahasa Arab(bagi orang yang berilmu);
3. Perasaan membesarkan/Ta'dzim Ayat Al-Qur'an yang dibaca(التعظيم), rasa mengagungkan terhadap kalam Allah Swt. Sebagiamana dapat dianalogikan-yang tentunya berbeda-, ketika seseorang membaca al-Qur'an dibanding dengan dengan membaca Surat Kabar;
4. Khauf(الخوف)/perasaan takut pada Allah Swt di saat membaca Ayat Al-Qur'an yang bercerita tentang siksa, kesengsaraan, ancaman, dan keburukan;
5. Berharap(الرجاء) kepada Allah Swt, yaitu mengharap termasuk golongan orang-orang yang diceritakan Allah Swt. dalam Ayat yang bercerita tentang rahmat, kasih sayang, nikmatbakherat, dan syurga; 
Sebagai contoh: ketika membaca ayat yang paling nikmat dalam Surah Al-Fatihah: (الرحمن الرحيم), tentu hati kita berbunga-bunga, hati merasa senang karena Allah maha pengasih dan maha penyayang. Kemudian kembali rasa takut ketika membaca (مالك يوم الدين), Raja pada hari kiamat. dst.
6. Niat menjunjung/akan melaksanakan perintah (نية الامتثال)Allah Swt. dari Ayat yang sifatnya memerintahkan; dan
7. Niat akan menjauhi larangan Allah Swt(نية الاجتناب) jika yang dibaca itu adalah ayat yang sifatnya melarang. 

Walaupun hanya membaca beberapa ayat, namun dilakukannya dengan adab/cara demikian, maka pahalanya lebih besar dari pada membaca Al-Qur'an keseluruhan yang tanpa mengetahui maknanya. Kita akan mendapatkan pahala yang tidak terhingga.

Membaca Al-Qur'an tiap satu huruf adalah 10 pahala, bagi orang yang membaca Al-Qur'an tidak tahu apa-apa, tidak paham apa yang dibaca, tidak paham maknanya. Bisa dilipatgandakan sampai 700 hingga tak terhingga. 
Adapun kebaikan orang yang membaca Al-Qur'an beserta dengan adab batin tersebut, maka pahala tiap satu huruf Al-Quran tidak ada yang tahu bilangan berlipat gandanya pahala itu, kecuali Allah Swt(Tidak 10 atau 700 lagi).
Membaca al-Qur'an satu ayat dengan paham maknanya beserta melaksanakan adab dhahir dan bathinnya, maka pahalanya lebih besar dari pada membaca Al-Qur'an satu khatam(berlalu tanpa mengetahui maknanya dan adab sempurna). Seperti perbandingan seseorang yang memiliki uang cuma 10 lembar saja tetapi seratus ribuan, dengan orang  punya uang satu kabat(satu ikat)yang hanya ribuan saja.

Janganlah membaca Al-Qur'an seperti orang-orang yang lalai. Mereka membaca Al-Qur'an dengan lisan yang fasih dan nyaring, sementara hatinya kosong dari mengagungkan Allah Swt dan khusu'(adab-adab bathin). Mereka tidak mengetahui maknanya serta tidak paham. Jika mereka mengerti maknanya tentu mereka mengamalkan, karena Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya apabila ia mengetahui  dan tidak mengamalkannya, maka tidak ada perpedaan antara orang Jahil dan orang berilmu(mengetahui) itu perpedaan, melainkan bahwa hujjah Allah Swt. lebih kuat(lebih berat) atas orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya itu. Dalam hal ini, tentu orang jahil lebih baik keadaan dari orang tersebut. Dapat dikatakan :
"كل علم لا يعود عليك نفعه، فالجهل أعود عليك منه"
"Tiap-tiap ilmu yang tidak kembali manfaatnya kepadamu, maka kejahilan lebih berguna bagimu dari pada ilmu itu"

والله أعلم

Sumber:  Risalah adab sulukil murid, h. 23.
Share:

Selasa, 19 Januari 2021

WASPADA: MERASA UMUR MASIH PANJANG

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

WASPADA MERASA UMUR MASIH PANJANG

Sifat terpuji: Merasa Hidup tidak akan lama lagi(قصر الأمل), Umur di dunia sangat pendek, Usia tidak diketahui, Bisa Saja kapanpun Allah Swt bisa memanggilnya, mencabut nyawanya . Sehingga ia bisa Istiqamah dalam kebaikan dan rutin dalam beramal ibadah.

Sifat Tercela: Merasa hidup masih panjang(طول الأمل), Hidup masih lama jauh dari kematian, masih lambat meninggal dunia, umur masih panjang 2/3/5/10/15  tahun lagi atau bahkan lebih panjang lagi umurnya. Hal ini mengakibatkannya tidak bisa rutin dalam beribadah,  tidak bisa istiqamah dalam kebaikan, tidak bisa meninggalkan dan mengendalikan syahwat dunia , tidak bisa lurus menuju jalan akhirat,dan merasa berat dalam melakukan kebaikan. (Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah adab suluk murid, 34-35)

Share:

Minggu, 17 Januari 2021

Ma'rifat Adalah Sesuatu yang paling Berharga

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

MA'RIFAT KEPADA ALLAH SWT ADALAH PALING BERHARGA

Ma'rifah kepada Allah seperti mutiara yang mahal, tidak akan diberikan kepada sembarang orang, kecuali kepada orang mampu menjaganya. 
Seperti pula ma'rifat itu minuman lezat yang tentu tidak akan dituangkan kecangkir yang masih kotor/bau tidak enak, kecuali dibersihkan terlebih dahulu.

Demikianlah  ma'rifat kepada Allah Swt, tidak bisa dicapainya dengan Ilmu. Setinggi apapun ilmu kita pelajari, tidak akan membuahkan hasil ma'rifat, tanpa diiringi dengan pembersihan diri/hati dari hal-hal yang dianggap Allah Swt marusak ma'rifah itu sendiri.

Allah Swt. tidak akan menaruh ma'rifat kepada hati orang yang tidak punya akhlak, hati orang yang kotor, hati org yang masih suka dendam, iri dengki yang sangat jauh dari ma'rifat kepada-Nya.

Catatan: Abdullah Jejangkit
Share:

Nabi Sang Pemilik Sifat Kesetiaan

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

محمد صلى الله عليه وسلم *صاحب الوفاء*
Nabi Muhammad Saw adalah *Shahibul Wafa= Orang yang punya sifat Kesetiaan* artinya: *Beliau Mencintai seseorang beserta mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang beliau cintai itu*
Sebagai contoh adalah Nabi Muhammad Saw. mencintai Istrinya Siti Khadijah Ra. beserta mencintai apa yang dicintai Siti Khadijah Ra, sehingga walaupun Siti Khadijah telah meninggal dunia, beliau tetap ingat dan berbuat baik terhadap orang-orang yang dicintai oleh Siti Khadijah. Begitu juga jika kita mencintai orangtua, walaupun mereka telah meninggal dunia, semestinya kita mencintai sahabat maupun orang-orang yang mereka cintai di diwaktu masih hidup.
Share:

Minggu, 03 Januari 2021

Wasiat Nabi Khidir As. kepada Nabi Musa As. tatkala mereka akan berpisah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Wasiat Nabi Khidir kepada Nabi Musa As. tatkala berpisah:


*لا تطلب العلم لتحدث به، واطلبه لتعمل به*
Janganlah kamu mencari Ilmu, karena untuk membicarakannya
(berpidato/ceramah). Tuntutlah ilmu itu karena untuk mengamalkannya.

Wasiat Nabi Khidir As lainnya kepada  Nabi Musa As.:
1. Jadilah engkau manis muka, janganlah sering tertawa (pananawa);
2. Janganlah suka bercanda(bagayaan);
3. Janganlah berjalan pada sesuatu yang tidak perlu; dan
4.Janganlah terlalu menyalahkan orang yang telah bersalah, tapi tangisilah atas kesalahan dirimu.

Nama Nabi Khidir As. adalah Abul Abbas, Balya  Bin Malkan, Khidir As. Beliau merupakan keturunan Nabi Nuh As. Ayahnya adalah Raja-raja yang Zuhud.

مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 659)
روي أن موسى عليه السلام لما أراد أن يفارق الخضر قال له: أوصني، قال: لا تطلب العلم لتحدث به، واطلبه لتعمل به. وقيل: إن الخضر لما أراد أن يفارق موسى قال له موسى:
أوصيني، قال: كن بساما ولا تكن ضحاكا، ودع اللجاجة ولا تمش في غير حاجة، ولا تعب على الخطائين خطاياهم، وابك على خطيئتك با ابن عمران

فَوَجَدا عَبْداً مِنْ عِبادِنا وهو الخضر واسمه: بليا بن ملكان، وكنيته أبو العباس وهو من نسل نوح، وكان أبوه من الملوك الذين تزهدوا وتركوا الدنيا.
مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 655)

Lihat Sumber: Tafsir Marah Labid, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Surah Al-Kahfi : 82
Share:

Kamis, 31 Desember 2020

JALAN CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN PALING CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT. 

Bersungguh-sungguhlah menjaga hati:

1. Menjaga hati dari was-was, seperti keragu-keraguan masalah rezeki, seperti keraguan di hati "kalau aku tidak berangkat bekerja, bisa tidak dapat duit, "kalau aku tidak berusaha bagaimana nanti aku makan dan manafkahi anak dan Istriku". Yakinlah di hati: "Besok nanti seandainya aku, anak dan Istriku ada umur, rezeki itu pasti ada, karena Allah Swt yang menentukan, memberi rezeki pada hamba-Nya, dengan cara dan jalan yang dikehendaki-Nya, Allah Swt juga yang menyampaikan kepadaku". 
Lebih parah lagi jika seseorang mengkwatirkan masalah rezeki orang lain, seperti anak dan cucunya. 

"ما قدر الله لك يصل إليك بسبب أوجده لك، وما لايقدرلك لايصل إليك"

"Sesuatu yang Allah Swt tentukan(seperti rezeki) untukmu, pasti sampai kepadamu dengan sebab yang Allah Swt.  ciptakannya untukmu. Adapun sesuatu yang tidak ditaqdirkan untukmu, tidak akan sampai kepadamu"

Yakinlah, rezeki kita sudah dijamin Allah Swt. Rejeki yang dijamin (الرزق المضمون) adalah Allah Swt. tidak menjamin punya rumah, kendaraan, toko, kebun, dan lainnya. Yang dijamin adalah kita pasti hidup berdasarkan umur yang ditetapkan, dijamin rezeki untuk bisa tegak beribadah kepada-Nya, baik melalui bekerja atau tidak, diam dimana saja, di hutan, pasar, kamar, dan tempat lainnya" 
Allah Swt. pasti memberikan kekuatan pada kita, kemampuan tegaknya tubuh hingga bisa beribadah. Sedikitpun kita tidak boleh ragu-ragu, tidak boleh bergolak, bergoncang di dalam hati terkait rezeki (yang dijamin)ini. (lihat: Al-Ghazali, Minhajul A'bidin, h. 64)

Keraguan masalah ini bisa membawa mati tidak membawa Iman.

2. Menjaga hati dari penyakit hati, seperti Iri, dengki, sombong, ujub, ria, tidak enak melihat orang lain bahagia/beruntung, dll.
3. Menjaga hati dari geritik hati yang jahat, seperti sangka buruk dengan Tuhan, atau sangka buruk dengan manusia-walau tidak tertentu orangnya. Misalnya: Seseorang sedang sakit dan  berobat sudah kemana-mana, namun tidak sembuh-sembuh sehingga muncul geritik hati "Aku bisa diperbuat orang, diparang maya orang, kenapa berobat tidak mau sembuh"(buruk sangka pada makhluk Allah Swt.); "Dulunya tokonya sangat laku dan banyak pelanggan, namun sekarang tidak laku lagi" kemudianvmuncul geritik hatinya: "Aku ini bisa diletakkan orang pembenci di toko ini,  dulunya rame berjualan, sekarang sepi sekali" atau "Aku ini boleh jadi diperbuat orang"

Semua itu harus  awasi dengan "muraqabah", seperti anda katakan :"Mungkin rezekiku berkurang di sini",  Jika belum berobat belum sembuh, janganlah anda berkesimpulan buruk sangka pada orang lain, tapi dimungkinkan obatnya belum pas, sehingga belum sembuh sakitnya" 

Janganlah buruk sangka pada makhluk Allah Swt, perkara ini tidak boleh, Allah  Swt. lah yang memperbuat semuanya. Manusia tidak memiliki daya upaya.

4. Pengawasan langsung "muraqabah" di hati, agar jangan sampai masuk sesuatu dari was-was, penyakit hati geritik jahat tersebut di atas. 
Karena jika sudah masuk was-was, penyakit hati, geritik jahat di atas-walaupun sebentar-maka jika sudah tertanam di hati akan sulit mengeluarkannya/membersihkannya, hingga dapat merusak hati.  Pikirannya  bisa berkembang berbagai macam sangka buruk dan penyakit hati. Dinasehati  tidak mempan dan keras kepala, karena sudah tertanam di hati.

Seperti di hatinya berkata:"Siapa yang memperbuat aku ini? Bisa si pulan..., karena diundang tidak mau datang."(sangka buruk)
Tindaklah  segera dengan "muraqabah": Allahlah yang mengatur segalanya, manusia tidak berdaya upaya. 
Beberapa penyakit hati di atas adalah seperti suatu penyakit yang apabila ada gejala, segeralah diobati. Karena penyakit yang apabila sudah parah, maka akan sulit disembuhkan.

Bersungguh-sungguhlah membersihkan Hati, karena hati merupakan tempat pandangan Allah Swt. Oleh karena itu lakukanlah hal berikut.

1. Hindarilah cenderung kepada keinginan-keinginan dunia, yaitu keinginan-keinginan yang melalaikan kepada Allah Swt., sesuatu yang dapat merusak hati dan merusak agama, melengahkan, merepotkan dan lupa pada Allah Swt., tidak karuan dalam shalat/ibadah(seperti lupa rakaat, terlambat shalat, tidak khusu', contohnya adalah sahabat nabi mewaqafkan kebunnya kepada kaum muslimin, karena kebun itu melalaikannya tatkala shalat, terlambat/mengganggu dalam beribadah, seperti tegesa-gesa dalam shalat, membuat lengah pada ketaatan Allah swt. Demikian juga sesuatu yang membuat sengketa, permasalahan, dan ma'siat. 
Carilah dan inginilah  sesuatu hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Sungguh-sungguhlah membersihkan hati dari sifat dendam. Yaitu menyimpan kemarahan, yang biasanya dikarenakan ada orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, menganiayanya, namun dia belum kesampaian untuk membalasnya. Mestinya akhlak mulia dianjurkan untuk memaafkan terhadap orang yang menyakiti dan mengganggunya itu , karena:
المؤمن ليس بحقود
"Orang mu'min bukanlah pendendam"

3. Khianat, yaitu dalam hati ada niatan tidak baik terhadap orang lain.  Diriwayatkan ada sahabat yang dikatakan nabi saw: akan datang ahli syurga(datanglah seorang laki-laki ikut majelis nabi , 3 kali berturut-turut itu saja orangnya). Abdullah bin Amr meneliti orang tersebut dan bermalam dirumahnya hingga tiga hari. Ternyata dia tidak banyak shalat dan ibadah. Orang tersebut memberitahukan amalannya satu hal yang pokok, yaitu: "Aku ini tidak ada di hati berniat jahat pada orang lain", yaitu tidak ada berkeinginan pada orang lain  terjadi keburukan, seperti kalah, rugi, celaka, jadi malu, dapat sengsara, dan keburukan lainnya.  Aku berhendak baik terhadap kaum muslimin, seperti: menginginkan mereka beruntung, mendapat kebaikan, menang, ahli ibadah" 
4. Menipu terhadap kaum muslimin; Sangka buruk terhadap sesama muslimin; hendaknya bermaksud baik; kasih sayang terhadap mereka; ber'itiqad baik terhadap mereka(lawan dari buruk sangka) misalnya kita berkeyakinan bahwa si Pulan itu baik(padahal orang itu jelek di sisi Allah Swt). Walaupun sangka baiknya itu keliru, tetaplah ia berpahala. Namun jika kita buruk sangka-walaupun benar yang disangkakannya itu(misal si Pulan itu maling)- tetaplah dia berdosa, bahkan lebih besar lagi dosanya jika sangkanya itu tidak benar.

5. Mencintai saudaranya muslimin seperti mencintai dirinya sendiri dari kebaikan, yaitu menginginkan kaum muslimin mendapat kebaikan sebagaimana dia dapat kebaikan, seperti: dapat rezeki, dapat ilmu, dan kebaikan lainnya. Dan dia benci/tidak suka bagi saudaranya muslimin tertimpa sesuatu yang dia tidak suka dari kejahatan/keburukan. Seperti: Tatkala dirinya tertimpa musibah(suatu keburukan), dia berharap agar musibah itu tidak ditimpakan terhadap saudaranya muslimin. Demikan juga jika terkena tipu, dibodohi, rugi. Ia berharap hal itu tidak ditimpakan kepada saudaranya muslimin. 
Hal sangat tercela adalah berkeinginan supaya orang lain tertimpa keburukan, seperti: celaka, rugi, bangkrut dan lainnya.

Nilai memperbaiki hati dengan sifat-sifat terpuji ini sangat tinggi nilai pahala dan kedudukannya di sisi Allah Swt. dibandingkan ibadah Dzahir anggota tubuh seperti baca Al-Qur'an, Shalat,  puasa. Ibadah Dzahir akan lenyap pahalanya, jika hatinya punya suatu penyakit, seperti sangka buruk, dendam, ria, ujub, kejam, bengis, karena sifat buruk ini akan menghapus dan menggugurkan pahala amal ibadahnya.

Sumber: Imam Abdullah  Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 12.

والله أعلم
Share:

Rabu, 30 Desember 2020

Umur sudah tua: Tetapi tidak ada muncul Dorongan Yang Kuat di Hati untuk lebih mendekat Kepada Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Awal Pertama Mendapat Hidayah Allah Swt.

Seseorang hamba mendapatkan *dorongan yang kuat* yang dilontarkan ke hati hambaNya. Sehingga mengejutkan, menggoncangkan, dan mendorongnya untuk mendekat dan beribadah kepada Allah Swt. dan berpaling dari dunia, menjauh dari orang-orang yang disibukkan keduniaan dan kesenangannya serta menumpuk harta, dan jauh dari terpedaya dari dunia.

Berapa banyak orang umurnya sudah mencapai  60-80 an bahkan lebih, akan tetapi tidak ada muncul "dorongan yang kuat" untuk lebih dekat dengan Allah Swt.

Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 7.

Share:

Selasa, 29 Desember 2020

ILMU PENANGKAL BUJUKAN SYAITAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu untuk melawan berbagai macam bujukan Syaitan.

Melawan syaitan perlu ilmu. Jika tidak berilmu, maka ia mudah tergoda, terbujuk dengan rayuan syaitan yang menyesatkan. Syaitan menjerumuskan manusia agar tidak taat kepada Allah Swt dan meninggalkan Ibadah(kebaikan).

Sejatinya setiap manusia itu ditempeli setan dari bangsa jin. Setan inilah yang membisikkan hawa jahat dan kemaksiatan kepada yang bersangkutan dan kerap disebut dengan qarin.   

Keberadaan qarin yang mengganggu manusia tersebut dengan pengecualian Rasulullah Saw. Tak ada satupun setan yang mampu mengganggu Rasul. Bahkan, dalam banyak riwayat disebutkan qarin yang mengikuti Rasul tersebut memeluk Islam.  
Riwayat Abdullah bin Mas’ud yang dinukilkan Imam Muslim menyatakan bahwa setiap orang mempunyai qarin dari bangsa jin. Sahabat menanyakan, "Termasuk engkau wahai Rasulullah? “ 
Rasul menjawab, "Iya hanya saja Allah Swt. melindungiku kemudian dia berislam dan tidak memengaruhiku kecuali kebaikan.” 

Riwayat lain dari Muslim juga menyebutkan qarin yang menempel ke manusia itu bukan saja dari bangsa jin tetapi juga ada yang berasal dari bangsa malaikat.
 
Syaitan membujuk manusia  dengan ungkapan yang dilontarkan ke hati manusia melalui geritik hati. Livel-livel bujukan itu adalah sebagai berikut.

1. Syaitan membisiki di hati manusia dengan ungkapan:
(لا تعبده)"Janganlah kamu beribadah; Janganlah kamu berbuat baik, Tidak perlu bersedekah; tidak usah berpuasa; Banyak orang yang meninggal dengan baik, padahal dia malas beribadah!; dan geritik jahat lainnya.

Bila ada bisikan syaitan seperti itu, maka lawanlah dengan Ilmu! Katakanlah di hatimu:
ومالي لا أعبد الذي فطرني وإليه ترجعون
"Buat apa aku tidak menyembah/beribadah kepada orang yang telah menciptakanku"

Aku perlu beribadah sebagai bekalku di akhirat kelak. Jika aku tidak berbuat baik, bagamana nanti aku di akhirat tanpa bekal!

Kemudian jika ia mampu menangkal bujukan itu.  Syaitan akan menggoda dengan bujukan selanjutnya. 
"Benar perlu beribadah dan bekal untuk di akhirat kelak, tapi:
2. Beribadahlah pada akhir hayatmu, nanti saja kalau kamu sudah tua, karena yang dipandang tuhan adalah beribadah diakhir nanti.(اعبده في آخر حياتك، لأن الأعمال بالخواتم)
Nanti saja kamu beribadah, nanti bila umur sudah 60 an baru kamu beribadah. Karena amal itu yang dipandang di akhir. 

Tidak mengapa biar banakal(jadi orang jahat/fasik), nanti hendak mati baru kamu Insyaf(taubat). Nanti saja kamu beribadah, kamu masih muda dan umurmu baru 30 tahun. Orang mati ada yang umurnya mencapai 70 an, bila umurmu 65 an baru kamu mulai beribadah, mulai mengaji, mulai baca al-Qur'an, dan mulai shalat malam/tahajjud.

Banyak manusia yang terjerumus denganbbujukan ini. 

Jawablah dengan Ilmu: "Wahai syaitan, umurku tidak tahu, panjangkah atau pendek!" 
 (الأمر لا أدري، أ طويل أم قصير؟)
Benar saja ada orang yang meninggal dunia umurnya mencapai 70 an tahun, tapi kawanku ada yang meninggal waktu muda, padahal umurnya baru 30, 25 an tahun. Kalau aku menunggu umur 60, boleh jadi aku mati umur 50 tahun, atau besok sudah mati, bagaimana nantinya tanpa bekal?

Kemudian, jika manusia itu tetap bersikeras untuk beribadah, maka syaitan membisikinya lagi:

3. Segeralah beribadah!(عجل بالعبادة!). Bisikan ini bukannya perkara baik. Karena ibadah yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya ibadah itu tidak sah atau tidak benar. 

Ibadah itu diperlulan, tapi mesti dengan pemikiran. Pertimbangkanlah ibadah mana yang lebih utama dan lebih prioritas untuk dikerjakan. Ibadah itu punya martabat, sehingga perlu dipilih&dipilah mana yang perlu disegerakan/didahulukan.

Jawablah: Aku menyembah Allah  Swt. dengan perlahan, karena tergesa-gesa itu dari Syaitan
(أعبده بالتأني، لأن العجلة من الشيطان). 
Misal: Ada uang seratus ribu, ayo segeralah sedekahkan! Mestinya dipikirkan dulu, diberikan kemana? Tidak sembarangan untuk memberikannya. Apakah dia punya hutang?(hutang mestinya dulu dibayarkan). Siapa yang paling berhak menerimanya? Yang paling utama dan urutannya yang mestinya didahulukan misalnya terkait penyerahan infak atau sedekah adalah: 1. Harta diberikan untuk kewajiban nafkah; kemudian 2. Memberikan kepada orang tua kita. dst.

Adapun syaitan memerintahkan yang penting bersedekah dan cepat-cepat. Akhirnya sedekahnya tidak diterima Allah Swt., karena dia meninggalkan yang lebih utama. misalkan bersedekah, tapi hutang tidak dibayar.
 
Jika hal itu bisa diatasi. Kemudian syaitan berbisik di hatinya:

4. "Ayo silahkan beribadah sekuat tenagamu!, Kalau takdirmu keneraka, pasti kamu keneraka juga nantinya.  Bilanya kamu beruntung, pasti ke syurga, bilamana taqdirmu celaka, walau bagaimanapun kamu pasti ke neraka".
Hal ini agar melemahkan semangatnya untuk beribadah dan dia hanya berpegang pada taqdir saja (padahal tidak ada yang tahu takdir seseorang, kecuali Allah Swt). 
Inti bujukan syaitan itu adalah agar manusia tidak beribadah.

Jawablah dengan Ilmu: "Benar saja itu wahai syaitan, orang yang taqdirnya keneraka, pasti nantinya masuk neraka.  Akan tetapi Nabi saw. mengatakan "Taat itu adalah tanda keberuntungan/kesyurga
(الطاعة دليل السعادة). Demikian juga informasi Nabi saw.:"Tiap-tiap orang itu, dimudahkan berbuat sesuatu yang dia ditakdirkan umtuk sesuatu itu(syurga/neraka)(كل ميسر لما خلق له). Jika seseorang ditaqdirkan ke Neraka, maka ia mudah berbuat ma'siat, dosa, berarti taqdir orang ini adalah ke Neraka. Jika ia ditaqdirkan ke Syurga, tentu ia mudah berbuat taat/kebaikan dan beramal ibadah untuk mati ke syurga. 

Urusan perkara takdir, hanya diketahui Allah, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Swt. Jadi aku mesti taat kepada Allah Swt. "Wahai syaitan, urusan aku ini apakah ahli neraka atau ahli syurga, itu merupakan perkara gaib yang ditakdirkan Allah terdahulu. Tidak ada seseorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah Swt. Pokoknya aku beribadah, karena taat itu adalah tanda terdahulunya taqdir keberuntungan, sedangkan ma'siat tanda kecelakaan.

Taat merupakan tanda yang sangat menunjukkan atas terdahulunya taqdir keberuntungan. Tidak ada jarak antara orang yang taat dan syurga, melainkan ia mati atas ketaatan. 
Ma'siat merupakan tanda yang paling menunjukkan atas terdahunya taqdir celaka
 "Kalau aku ma'siat, berarti aku ini taqdirnya celaka!" Tidak ada jarak antara orang yang ma'siat dan neraka, kecuali dia mati dalam ma'siatnya.

Setelah 4 livel di atas dapat dilaluinya, usaha syaitan gagal untuk menjauhkan manusia untuk beribadah(taat). Syaitan akan berusaha dan membujuk agar ibadah yang dilakukan manusia itu tidak berpahala. Melakukan hal yang bisa menggugurkan pahala ibadahnya, ataupun agar ibadah itu tidak diterima Allah Swt. 

5. Syaitan berbisik:"Kamu sudah ahli ibadah, kamu berilmu, kamu agung dan dimuliakan orang. Semakin banyak beribadah, tentu kamu dihormati orang-orang dan diagungkan mereka. Rajin-rajin beribadah dan perlahan, kamu sangat bagus. dst.

Semua itu merupakan bujukan syaitan agar ibadahnya tidak ikhlas, karena manusia atau pujian makhluk. 
Jika Ia mengakui/menyetujui atau mengiyakan bisikan syaitan itu, maka ibadahnya tidak ikhlas, sehingga ibadahnya tidak berpahala, dikarenakan selain Allah Swt.

Bilamana ada bujukan syaitan seperti itu, maka jawablah: (أعبده بالله ولله وإلى الله)Aku beribadah itu dengan taufik/pertolongan Allah(بالله), Aku beribadah karena Allah, bukan karena ingin disanjung, dihormati, karna makhluk selain Allah(لله), Aku beribadah kuserahkan kepada Allah(إلى الله), terserah Allah menilainya.

Bila ia sudah mampu mengatasi demikian, berarti dia mengalahkan syaitan. Sehingga Ibadah yang dilakukan dengan benar dan mendatangkan manfaat baginya. 
Dengan demikian melawan syaitan  diperlukan Ilmu pengetahuan. Jika tidak berilmu, tentu akan terbujuk dengan tipu daya syaitan.

والله أعلم

Sumber: Risalah Adab suluk murid.

Share:

Senin, 28 Desember 2020

Ibadah Tafakkur tentang kehidupan dunia dan akhirat

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tafakkur(memikirkan)Tentang keadaan  Dunia dan Akhirat

A. Tafakkur tentang Dunia (yaitu sesuatu sebelum mati (ما قبل الموت)):

1. Tentang susah payahnya dalam kehidupan dunia; 

الدنيا دار كد وهم وتعب ولا راحة إلا في الجنة 
Dunia ini adalah negeri yang susah payah

2. Dunia tidak akan dibawa ke akhirat;
3. Dunia itu Tidak ada tempat/sesuatu yang 100 % nyaman,  karena itu pasti susah, cacat dan celanya

B. Tafakkur Akhirat(sesudah kematian/ما بعد الموت):

1. Berpikir semakin hari, kita semakin dekat dengan Akhirat/kematian; 
2. Berfikir Tubuh semakin dekat dengan akhirat, hendaknya hatipun demikian,  semakin dekat dengan kubur/kematian/akhirat. Kubur adalah bagian dari akhirat. Semakin hari dunia semakin ditinggalkan, sehingga dekat dengan ajal kematian. Hendaknya  tubuh dan hati berbarengan menuju dan mendekati akhirat, jangan sampai HATI ditinggalkan karena terikat kuat dan terperdaya oleh dunia yang fana ini(sangat rugi, kesusahan diakhirat), sementara tubuhnya saja berangsur-angsur menuju kematian. Tubuh kita semakin hari, semakin menjauhi dunia demikian juga seharusnya hatipun semakin menjauhi dunia. Pikirkankan agar hatinya agar semakin fokus pada bekal akhirat, memikirkan apa yang akan disiapkan untuk akhirat.

"Manusia yang paling rugi(celaka) adalah Manusia yang tubuhnya semakin dekat dengan kubur/kematian, namun hatinya semakin menjauh dari kubur"

"Sejahat-jahat orang yang tua, adalah orang tua yang masih merasa muda. Umurnya sudah tua, misal umurnya sudah berumur 50 tahunan, tapi hatinya masih seperti umur 30 tahunan, menginginkan ini dan itu seperti anak muda. Paling baik pemuda adalah pemuda yang  hatinya seperti orang tua- hatinya seperti orang yang berumur 60 an, hatinya selalu mengingat kematian dan akhirat"

3. Keadaan Akhirat kelak, bagaimana huru hara hari pembalasan. 

Merasa hidup masih lama tinggal di dunia ini (طول الآمل) merupakan penyakit hati yang membinasakan, merasa umur masih panjang(lawas lagi hanyar mati), hidup masih kira-kira masih  5/10/15 tahun lagi, atau bersiap-siap untuk umur di hari tua nanti hingga lupa hal yang paling penting yang semestinya disiapkannya dengan serius(bekal untuk akhiratnya) , PADAHAL  belum tentu dia akan menemui  hari TUA NANTI. Hal ini yang banyak memperdaya kehidupan manusia.

Manfaat dari berfikir tentang dunia dan akhirat itu adalah menimbulkan sifat terpuji, yaitu berpaling dari dunia dan berhadap kenegeri akhirat. 

Dunia semakin jauh berpaling kepadanya  dan akhirat pasti ditemui.

Hendaklah berfikir apa yang sudah anda siapkan untuk bekal akhirat, karena kematian Nyata dan Pasti. 

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, 

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسوا

artinya: hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah amalan shalih apa yang telah kalian persiapkan sebagai bekal untuk hari akhirat dan menghadap Allah Rabb kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 235).

Hendaklah anda perhatikan kebaikan dan keburukan yang anda akan peroleh kelak. Hendaklah memikirkan apa buah yang diperoleh dari amalan kelak di hari kiamat. Apakah akan menuai hasil yang baik ataukah malah akan membahayakan karena kejelekan yang dilakukan.

Jika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan di hadapannya dan jadi tambatan hati, terus bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan menuju akhirat. Bersungguh-sungguhlah dengan melakukan banyak amalan yang dapat mengantarkan pada kesamatan di akhirat kelak.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah jadikan akhirat sebagai tujuan. Begitu pula jika kita diberi karunia materi dan rezeki yang melimpah, jadikanlah itu sebagaimana perantara menuju kebaikan dan bekal menuju alam akhirat. 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw. bersabda,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465.)

Berpikir tentang dunia dan  akhirat ini, berfaedah agar dapat berpaling pada dunia dan menghadap kenegeri akhirat. Maka seyogyanya untuk bersemangat menyiapkan bekal akhirat, karena seseorang Nyata akan  menghadapi Akhirat itu. 

Semoga kita semakin memperhatikan amalan kita sebagai bekal di akhirat kelak.

والله أعلم


HINANYA CINTA DUNIA

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا ، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ. رواه مسلم

"Dunia bagaikan sesuatu yang manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berkuasa didalamnya, maka perhatikanlah apa yang kalian perbuat, berhati-hatilah terhadap dunia, dan waspadailah para wanita."
📚{ HR. Muslim }

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ. رواه مسلم

"Demi Allah bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, sesungguhnya aku takut dibentangkannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, kalian saling berlomba didalamnya sebagaimana mereka berlomba untuk mendapatkannya, hingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” 
📚{ HR. Muslim }

إنَّ مِمَّا أخافُ عليكم مِن بعدي ما يُفتَحُ عليكم مِن زهرةِ الدُّنيا وزينتِه. متفق عليه

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah ketika ditampakkan kepada kalian keindahan kehidupan dunia, dan kemewahannya.” 
📚{ Muttafaqun 'Alaih }

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ ، وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ ، فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى . أخرجه الحاكم

“Barangsiapa yang mencintai akhirat-nya niscaya ia mengorbankan dunianya, dan barangsiapa yang mencintai dunianya niscaya ia mengorbankan akhiratnya, maka utamakanlah sesuatu yang kekal (akhirat) daripada yang bakal sirna(dunia).” 
📚{ HR. Hakim }

حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الْآخِرَةِ ، وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الْآخِرَةِ. رواه أحمد

“Pahitnya dunia adalah manisnya akhirat, dan manisnya dunia adalah pahitnya akhirat." 
📚{ HR. Ahmad }

الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا . رواه مسلم

Orang-orang yang kaya di dunia mereka adalah orang-orang yang miskin di hari kiamat kecuali orang yang berpesan: Keluarkan ini sekian, keluarkan itu sekian.”
📚 { HR. Muslim } 

مَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الْآخِرَةَ جَعَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْغِنَى فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَنَزَعَ الْفَقْرَ مِنْ بَيْنِ عَيْنَيْهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا غَنِيًّا ، وَلَا يُمْسِي إِلَّا غَنِيًّا . وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا جَعَلَ اللَّهُ الْفَقْرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا فَقِيرًا وَلَا يُمْسِي إِلَّا فَقِيرًا . وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

“Barangsiapa yang niatnya untuk akhirat, pastilah Allah menjadikan kepuasan di hatinya, mengurus segala urusannya, dan mencabut kefakiran darinya, dan didatangkan dunia untuknya secara paksa, dan tidak lewat kepadanya waktu pagi kecuali dia dalam keadaan kaya, dan waktu sore kecuali dia dalam keadaan kaya. Dan barangsiapa yang niatnya ditujukan untuk dunia, pastilah Allah menjadikan kemiskinan selalu berada di depan matanya, dan tidak lewat kepadanya waktu pagi kecuali dia dalam keadaan miskin, dan waktu sore kecuali dia dalam keadaan miskin. .”
📚{ HR. Thabrani }

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ. رواه ابن ماجه

"Tinggalkan kemewahan dunia, Allah akan mencintaimu, dan tinggalkan (serakah) pada sesuatu yang dimiliki manusia, engkau akan dicintai manusia.”
📚{ HR. Ibn Majah }


الدُّنْيَا دَارُ مَنْ لا دَارَ لَهُ ، وَمَالُ مَنْ لا مَالَ لَهُ ، فَلَهَا يَجْمَعُ مَنْ لا عَقْلَ لَهُ وعليها يحزن من لا علم له وعليها يحسد من لا فقه له وبها يفرح من لا يقين له. رواه أحمد

"Dunia adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak memiliki tempat tinggal, & harta bagi orang yang tak memiliki harta, orang yang mengumpulkannya adalah orang yang tak memiliki akal, orang yang bersedih atasnya adalah orang yang tidak memiliki ilmu, orang yang iri atas barang duniawi adalah orang yang tidak memiliki pemahaman, & orang yang gembira terhadap nya adalah orang yang tidak memiliki keyakinan."
📚{ HR. Ahmad }


Share:

Minggu, 27 Desember 2020

Jika belum, laksanakanlah sekarang Juga! Niat ketika Balig (Awal Dewasa umur +- 15 Tahun)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

JANGAN LUPA NIAT KETIKA BALIG

"Segala amalan diberikan ganjaran mengikuti Niatnya"

-Berbuat kebaikan secara spontan, tidak sempat niat "seperti menjawab salam, menolong secara spontan, menutup aurat(menjunjung perintah Allah)dll perkara kebaikan(wajib/sunnah)" Menurut mazhab Syafi'i : tidak dapat pahala(harus ada niat,muqaranah  Niat), dan Menurut Mazhab Hanafi : Berpahala, karena sudah termasuk menjunjung perintah Allah dan RasulNya, namun perlu niat pokok secara global ketika Ia Memasuki/tatkala Balig(dewasa)

-Oleh karena itu, Sangat penting Tatkala Balig berniat(Niat Pokok) dgn sungguh-sunguh dalam hati(karna mengundang pertolongan Allah, serta pahala), Contoh: "Mulai hari ini aku berniat sengajaku menjunjung  perintah Allah dan Rasul-Nya  dan Menjauhi segala yang Dilarang Allah dan Rasul-Nya" kalau belum berniat??? dari sekarang niatkan sungguh-sungguh

- Setiap perkara Mubah agar menjadi kebajikan/pahala harus disertai niat yang baik(semua mazhab, tanpa niat baik tidak mendapatkan pahala), Contohnya:
1. Makan niatnya: memperkuat diri untuk mengabdi kepada Allah, Mensyukuri NikmatNya, Menunaikan Hak Badan perlu diberi makan, Menjunjung perintah Allah(كلوا واشربوا...)
2. Tidur niatnya: Supaya enak kuat beribadah tatkala bangun, Menunaikan hak tubuh untuk Istirahat, Menjujung perintah Allah "setiap sesuatu ada hak yang harus dipenuhi"hak tubuh/mata

-Dalam Thariqah ada bimbingan Guru, mewajibkan berniat setiap pagi(bukan hanya waktu balig)selesai shalat subuh meniatkan mensyaratkan diri"Musyaratah/مشارطة": Berjanji dengan diri sendiri "Wahai diriku, kita bersyarat berjanji bahwa kita hari ini akan melaksanakan apa-apa yang disuruh Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah"  niscaya Ia akan ditolong Allah, dimudahkan untuk berbuat baik.

-Niat kebaikan harus dilatih oleh setiap Muslim, agar menjadi kebiasaan(mendarah daging), kalau tidak dibiasakan akan menjadi sulit..

Semoga bermanfaat,...

Sumber Pengajian Ke-18 Guru Muhammad Bakhiet, Kitab Bustanul Arifin, Imam Nawawi, h. 65-66.
Share:

Sabtu, 26 Desember 2020

TATA CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIRATUL IHRAM

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

TATA CARA SHALAT/MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIRATUL IHRAM DAN MELETAKKANNYA

(Mengangkat Tangan Bermakna pertanda menyerah di hadapan Allah/Menyisihkan hal-hal yang mengganggu di hadapan Allah Swt), di antaranya:

1. Mulai Membaca "الله أكبر" ketika tangan sejajar dengan bahu, hingga bacaan takbir berakhir hingga turun(tangan di atas pusat di bawah dada);
2. Membaca "الله أكبر" hanya ketika tangan sejajar dengan bahu;
3. Membaca "الله أكبر" dimulai ketika mengangkat tangan sampai tangan sejajar bahu;
4. Membaca "الله أكبر" ketika mengangkat tangan sampai tangan berjuntai rata, kemudian baru meletakkan tangan sedikt kekiri di atas pusat di bawah dada).
5. Membaca "الله أكبر" dimulai ketika mengangkat tangan hingga bacaan berakhir sampai meletakkan di atas pusat di bawah dada.

Sumber lihat:

1. Pengajian Kitab Shalat dari  Ihya Ulumiddin ke-7,menit 30 s.d. 32.30. Guru  Bakhiet

https://youtu.be/M6Hnq9nHz

2 . Pengajian ke-18, Bidayatul Hidayah, Al-Ghazali, Guru Bakhiet.

Semoga Bermanfaat... Aamiin
Share:

Selasa, 13 Oktober 2020

Do'a dan Tawassul ketika memulai Pengajian

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته، بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا وحبيبنا ومولانا وقرة أعيننا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.  رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي، رب زدنا علما وارزقنا فهما آمين يا رب العالمين.
 سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ اَكْبَرُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِىِّ الْعَظِيْمِ،  الْعَزِيْز الَعَلِيْمِ عَدَدَ كُلِّ حَرْفٍ كُتِبَ  أو يُكْتَبُ أَبَدَ الْآبِدِيْنَ وَدَهْرَ الدَّاهِرِيْنَ.
سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا أنك أنت العليم الحكيم، ولا ، حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم

 (Dengan menyebut Nama Allah, Maha suci Allah, segal puji bagi Allah dan tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur, Maha Agung, Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, sebanyak huruf yang telah tertulis dan yang akan di tulis selama-lamanya sepanjang masa).

 أما بعد...
فقال المؤلف رحمه الله تعالى ونفعنا به وبعلومه في الدارين، رب يسر واعن.

Mari kita mulai membaca ..... dengan menghadiahkan Al-Fatihah kepada ....Imam Al-Ghazali(contoh)

إِلَى رُوْحِ نَبِيِّناَ وَشَفِيعِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَـْيهِ وَسَـلَّمَ، وإلى أرواح الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَـلِينَ، وإلى الأولياء وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ ، وإلى أرواح العلماء المجتهدين والمؤلفين والمصنفين خُصُوصًا إِلَى روح ... حجة الأسلام أبي حامد الغرالي ... قدس الله سره ونور ضريحه وأعاد علينا من بركاته ونفعنا بعلومه و إلى أرواح أموات المسلمين والمسلمات خصوصا إلى أرواح مشايخنا ومعلمينا وإلى أرواح آبائنا وأمهاتنا وأجدادنا وجداتنا وأساتيذنا ومشايخنا وإخواننا  وأخواتنا وأصدقائنا لهم جميعا الفاتحه شيئ  لله لهم الفاتحة...


Share:

Minggu, 11 Oktober 2020

Bertasawwuf itu Mengalami, bukan sekedar teoretis!

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Bertasawwuf adalah mengalami bukan teoretis semata!

"Orang yang membaca terlalu banyak ilmu tapi tidak diamalkan Ilmunya, hal ini justru bisa menimbulkan kebingungan pada dirinya sendiri.  Dia seakan-akan mutar-mutar tidak bisa keluar dari kebingungannya. Oleh karena itu, ibadah menjadi penting sekali dalam mengalami/merasakan(dzauq)pengamalan ilmu, baik ibadah ritual maupun non ritual" (inilah pengalaman bertasawwuf). 

Memiliki banyak teoretis tentang tasawwuf, tidak akan menjadikan anda seorang Sufi, jika tidak memiliki pengalaman mengalami langsung(beramal).  Terdapat perbedaan antara seseorang tahu tentang hakekat Zuhud, syarat maupun sebab-sebabnya  dengan Ia ada dalam keadaan Zuhud.


الْعِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُوْنٌ، وَالْعَمَلُ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَكُوْنُ

‘Ilmu tanpa amal itu gila, dan ‘amal tanpa ‘ilmu tidak ada gunanya(Al-Ghazali, Ayyauhal Walad)


فعلمت يقينا : أنهم أرباب أحوال لا أصحاب أقوال ، و أن ما يمكن تحصيله بطرق العلم فقد حصلته و لم يبق إلا ما لا سبيل له بالسماع و التعلم ، بل بالذوق و السلوك 

"Dengan demikian, aku yakin bahwa para sufi adalah para pemilik ahwal, bukan sekadar pandai beretorika. Bagian dari tasawuf yang memungkinkan dicapai dengan ilmu maka aku telah mencapainya. Tinggal bagian yang tidak dapat dicapai dengan hanya mendengar dan mempelajarinya, tetapi harus dengan rasa dan suluk"(Al-Ghazali, المنقذ من الضلال:98)

والله أعلم
Share:

Sabtu, 10 Oktober 2020

Etika dalam menghadapi Ketetapan Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Adab seseorang muslim dalam menghadapi ketetapan(taqdir) Allah Swt :

1. Mendapatkan Nikmat, maka bersyukurlah. Intisari Syukur adalah besikap pemurah, tidak kikir/pemalar (baik harta ataupun tenaga);
2. Mendapatkan Bencana/musibah/hal tidak disenangi, maka bersabarlah dan tidak berkeluh kesah. Semuanya adalah titipan Allah Swt, Dia yang memberi dan Yang mengambilnya;
3. Bebuat Keta'atan, memandang keta'atan itu semata-mata anugerah/kebaikan Allah Swt(شهود المنة) bukan mengakui dari diri sendiri,  semata-mata keesaan dan kekuasaan Allah Swt(وحدانية الله وقدرته); dan 
4. Berbuat kemaksiatan, segeralah bertaubat, jangannya ditunda-tunda minta ampun merasa hina(انكسار القلب) dihadapan Allah Swt.

Perkataan Ahli ma'rifah:
لا يريد الله بك إلا خيرا
"Allah Swt tidak menghendaki/mentakdirkan untukmu kecuali hanya kebaikan"


والله أعلم
Share:

Rabu, 07 Oktober 2020

Kebanyakan orang "Nalarnya Lemah"?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Janganlah kamu menjadi orang yang dikatakan  "Si Lemah Akal" karena kurang piknik!

أكثر الخلق ضعفاء العقول
" Kebanyakan orang "Nalarnya lemah"

يقول أبو حامد الغزالي: “ هذه عادة ضعفاء العقول يعرفون الحق بالرجال، لا الرجال بالحق. والعاقل يقتدي بسيد العقلاء، علي رضي الله، حيث قال: “لا تعرف الحق بالرجال، بل اعرف الحق تعرف أهله”، فالعاقل يعرف الحق، ثم ينظر في نفس القول، فإن كان حقًا، قبله سواء كان قائله مبطلًا أو محقًا، بل ربما يحرص على انتزاع الحق من تضاعيف كلام أهل الضلال عالما بأن معدن الذهب الرغام” المنقذ من الضلال

Imam Al-Ghazali berkata: Inilah kebiasaan orang-orang yang lemah akal; mereka mengetahui kebenaran karena melihat orangnya, dan bukan mengenal orang karena kebenarannya. 

Sebaliknya, orang yang berakal akan mengikuti nasihat Amirul Mukminin(pemimpin orang yang berakal), Ali bin Abi Thalib Ra., yang berkata, "Janganlah kamu mengenal kebenaran karena orangnya, tetapi kenalilah kebenaran itu, dan kamu akan mengenal penganutnya." Oleh sebab itu, orang yang berakal akan mengenali kebenaran terlebih dulu, baru kemudian mempertimbangkan apa yang sebenarnya diucapkan (oleh seseorang). Jika ucapan itu benar, dia menerimanya, meskipun si pembicara tersebut orang benar atau orang batil. Bahkan, mungkin dia akan berusaha mengambil kebenaran dari ucapan mulut orang-orang sesat, sebab dia tahu bahwa emas didapat pada ditambang bisa bercampur dengan tanah.
 (Al-Ghazali:Al-Munqidz Minaddhalal)



انظر ماقال ولا تنظر من قال
"Lihatlah perkataannya, jangan lihat orangnya"

"Kebenaran harus kita ambil walaupun bersumber pada orang yang kita tidak setuju padanya, berlawanan dari segi keyakinan, bahkan orang jahat sekalipun"

"Janganlah mendebat sesuatu yang ada dipikiran anda sendiri. Membuat-buat argumen atas nama lawan. Karena sebenarnya ia tidak memahami subtansi argumen lawannya"

"Hidup tinggal di ruang bergaung, hanya bisa mendengar suaranya, tidak pernah bisa mendengar pendapat orang lain, meskipun benar. Mau mengambil suatu pendapat, jika sesuai dengan gaung pendapatnya, walaupun sebenarnya pendapatnya itu keliru"

Share:

Apa yang dimaksud Shalat Khusu'?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya


URGENSI SHALAT KHUSU'

Perumpamaan Tubuh Manusia dalam kesempurnaan shalat. 

Rukun shalat merupakan pokok badan manusia, seperti kepala, tanpanya manusia akan mati. Khusu laksana roh dalam tubuh manusia. Roh shalat adalah hadir hati dalam shalat. Sempurna khusu berarti hidupnya sangat sehat. Jika hanya beberapa persen saja khusu'nya berarti itulah kadar kesehatan tubuhnya.

Sunnat ab'ad seperti tangan dan mata sebagai penyempurna tubuh. Jika meninggalkan sunnah ab'ad(seperti qunut subuh dan Tahiyyat Awal), maka shalatnya tidak sempurna. 

Sunnat hai'at seumpama kening, gigi, dalam rangka memperindah dan memperelok tubuh. Meninggaalkan sunnat hai'at(seperti bacaan ruku' dan sujud), maka shalatnya tidak elok(kada bungas) seperti punya wajah tapi tidak punya kening, ada tangan tanpa jari, dan mulut tanpa gigi.

Shalat yang  tidak khusu', tidak akan mendapatkan pahala, bahkan bisa mendapat celaan Allah Swt.(bagaikan kain usang yang dipukulkan kewajahnya). Atau bagaikan bangkai Kambing dan bangkai Ayam tidak memiliki harga,  atau seperti Gadis yang mati atau peti yang kosong yang dihadiahkan kepada Raja yang agung.

Shalat merupakan persembahan kita kepada Allah Swt, hendaknya apa yang dipersembahkan adalah sesuatu yang hidup sempurna dan elok. Shalat yang khusu, tidak cacat, dan tidak jelek serta menyempurnakan dengan segala kesunnahan shalat.

Agar Shalat menjadi Khusu:

A. Adab Zahir

1. Menyelesaikan urusan/perkara-perkara dzahir yang mengganggu, seperti perut lapar bawa makan terlebih dahulu, mata mengantuk bawa tidur, ada tamu hadapi terlebih dahulu, atau misalkan mau kencing(berhadas)sedangkan shalat berjamaah akan dimulai(Muazdzin telah Iqamah). Maka selesaikan kencing terlebih dahulu, walaupun ia bisa ketinggalan berjamaah. Karena shalat sambil menahan kencing menjadi makruh dan tentu tidak bisa khusu'

Khusu' merupakan sunnah muakkad, bahkan ada yang berpendapat fardhu ain(berdosa jika ditinggalkan). Sehingga apapun yang berlawanan dengan kekhusu'an, mesti harus dikalahkan dan perkara khusu' yang diusahakan. Contoh : Dia khusu' jika shalatnya dilaksanakan di rumah, tapi bila ke masjid ikut berjama'ah tidak khusu', maka lebih baik ia shalat di rumah. Akan tetapi jika sama saja kekhusu'annya, lebih baik ia shalat berjamaah di masjid, karena shalat berjama'ah akan menutupi kekurangannya. Begitu juga jika di akhir waktu lebih khusu' dibandingkan ia shalat di awal waktu, maka ia mesti memilih shalat di akhir waktu.

2. Mempelajari makna-makna yang terkandung dari bacaan-bacaan shalat. Jika tidak mempelajari itu,  tentu kita tidak akan bisa merasakan maknanya, seperti keagungan, kebesaran, dan ketinggian Allah Swt., doa-doa, harapan pada Allah Swt. dsb.

B. Adab Bathin

1. Zuhud, yaitu mengutamakan Allah Swt dan akhirat serta tidak mengutamakan dunia.  Jika tidak bersifat zuhud, tentu dunia yang selalu ada dihatinya. Walaupun sudah selesai semua urusan dzahir dan mengerti makna-makna bacaan shalat, sedangkan dirinya masih mengutamakan dunia, tentu hatinya tidak akan bisa khusu' dalam shalat. Sebab hatinya sudah dikuasai oleh kepentingan duniawi.
2. Tawakkal kepada Allah Swt., yaitu menggantungkan hidup dan perkara seluruhnya hanya kepada Allah Swt.

Jika empat hal itu tidak ada, tentu dia tidak akan bisa khusu'. Oleh karena itu amalkanlah kesemua cara dzahir dan bathin di atas. Jika dapat melaksanakannya tentu kita bisa khusu',  baik ibadah shalat, baca Al-Qur'an, Zikir, dan lain-lain.


Struktur/herarki Khusu dalam Shalat dan sebab-sebab  pendorongnya:


1. Hadir Hati, yaitu sejalannya gerak tubuh dan hatinya, yakni maksudnya jika misalkan lidah membaca al-Fatihah, maka hatinya juga ikut sadar membaca Al-Fatihah, dst.(Maka caranya adalah jadikan shalat sebagai kepentingan utama) 
2. Paham apa yg dibaca (mengenalidan memahami maknanya dan menolak geritik lain yang muncul dalam hati);dan 
3. Membesarkan Allah Swt(Dengan mengenali keagungan Allah dan Kehinaan dirinya) 

Tiga hal ini, bisa selalu ada dalam rangkaian Khusu di setiap perbuatan shalat

Tambahan lebih tinggi pada tingkatan khusu: 

4. Takut(dengan mengenali kekuasaan Allah Swt.), Seperti  rasa takut ketika membaca (مالك يوم الدين), Raja pada hari kiamat. dst.
5. Harap(mengharap rahmat dan anugerah Allah) Sebagai contoh: ketika membaca ayat yang paling nikmat dalam Surah Al-Fatihah: (الرحمن الرحيم), tentu hati kita berbunga-bunga, hati merasa senang karena Allah maha pengasih dan maha penyayang. 
6. Malu(merasa kurang dalam melaksanakan Ibadah dan lemah/lalai melaksanakan dari besarnya hak Allah Swt. Banyak Aib diri, penyakit diri, sedikit ikhlas, hati condong dunia pada tiap perbuatannya beserta tahu tuntutan keagungan Allah Swt. padahal Allah maha tahu Rahasia hati dan geritik hatinya) 

Tambahan ini (4,5, dan 6) menyesuaikan konteks apa yang dikerjakan dalam shalat/tergantung keadaannya. 

Dasar utama memperkuat datangnya sebab-sebab dari struktur Khusu' dalam Shalat adalah  Keimanan dan Keyakinan pada Allah Swt.(Al-Ghazali, Mauidzatul Mu'minin, Ihya Ulumiddin)


Semoga Bermanfaat....

والله أعلم
Share:

Senin, 05 Oktober 2020

GERITIK HATI DARI MANA?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AGAR KITA DAPAT  BERBUAT SESUATU YANG BENAR 

Mengetahui apa saja Geritik Hati(Bisikan Hati)yang mesti dilanjutkan(diperbuat) atau geritik hati yang mesti  dipalingkan/dilawan/ditinggalkan......

-Sangat Penting untuk mengenali dan membedakannya GERITIK HATI, apakah datangnya dari Allah/Malaikat/Iblis/Hawa nafsu:

1. Bisikan Hati dari Allah, Datangnya pertama-tama dan sangat kuat dorongan untuk kebajikan; bisa juga KEJAHATAN, sebagai akibat hukuman Allah dikarenakan dia melakukan dosa serta belum taubat/Istigfar-biasanya geritik hati ini akan hilang jika dibawa taubat/minta ampun;
2. Dari Malaikat, Bisikan berupa kebaikan, namun tidak begitu kuat
3. Dari Iblis/syaitan, Mendorong kepada kema'siatan:
-jika dilawan-berpindah "supaya tidak beribadah"-jika dilawan->terus bisikan agar ibadahnya tidak sah" jika dilawan
>terus "Supaya tidak berpahala"
Bisa juga mendorong pd kebaikan, namun akhirnya tidak ada nilai/hasilnya
4. Dari Hawa Nafsu, Dorongan kpd kema'siatan serta tidak berpindah-pindah(hanya satu macam, seperti ingin mengkonsumsi Narkoba); Dorongan pada KETAATAN, namun sesuai keinginan Hawa Nafsu, seperti beribadah ditengah orang banyak, puasa sekaligus diet atau sekaligus mengurangi pengeluaran.

-Seseorang tidak akan mampu  membedakan sumber geritik Hati apabila ada salah satu dari 4 hal berikut:
1. Sedikit punya Ilmu Agama- pengetahuan mengenai dirinya
2. Terbiasa hidup menuruti Hawa Nafsu, bahkan terhadap yang dilarang Allah
3. Di Hatinya sudah bertunggu Mencintai DUNIA, Tamak terhadap Dunia
4. Penyakit di Hati"Ingin dipuji Manusia atau mendapat kedudukan disisi manusia."

Semoga bermanfa'at dan bisa mengamalkannya... Aamin.

Share:
Copyright © Web Kuliah Abdullah | Powered by Blogger | Design by ronangelo Theme Editor: Abdullah Jejangkit | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com