Website Kuliah: Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Minggu, 29 Agustus 2021

AMALAN صلى الله على محمد

KEUTAMAAN MEMBACA "SHALALLAHU ALA MUHAMMAD".

Imam Asya'rani  bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:

‎من قال هذه الصلاة فقد فتح على نفسه سبعين بابا من الرحمة وألقى الله محبته في قلوب الناس فلا يبغضه إلا من في قلبه نفاق

"Barang siapa mengucapkan shalawat ini (shalallahu 'ala Muhammad) maka sungguh telah membuka tujuh puluh rahmat untuk dirinya dan Allah menjadikanya dicinta dalam hati manusia hingga tidak ada yg membencinya kecuali hanya orang yg dihatinya terdapat kemunafikan"

قال شيخنا يعني علياً الخواص رضي الله عنهما هذا الحديث والذي قبله وهو قوله صلى الله عليه وسلم أَقْرَبُ مَا يَكُونُ أَحَدُكُمْ مِنِّ إِذَا ذَكَرَنِي وَصَلَّى عَلَيَّ رويناهما عن بعض العارفين عن الخضر عليه السلام عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وهما عندنا صحيحان في أعلى درجات الصحة وإن لم يثبتهما المحدثون على مقتضى اصطلاحهم والله أعلم

Syaihk Ali Al Khawwas berkata: "Hadis ini dan hadis sebelumnya kami riwayatkan dari sebagian al-'Arifin dari Nabi khidir AS. dari Rasulullah SAW. Kedua hadis tersebut kami riwayatkan tergolong shahih dengan tertinggi walupun tidak ditetapkan oleh para ulama ahli hadis sesuai dengan istilah mereka".

Yang dimaksud hadis sebelumnya adalah sabda Nabi saw :

‎ أقرب ما يكون أحدكم مني إذا ذكرني وصلى علي

"Keadaan terdekat seseorang kepadaku adalah saat ia mengingatku dan bersholawat kepadaku"

Riwayat diatas sesuai dengan riwayat
Imam Assamarqandi berkata: Aku mendengar Nabi Khidlir AS. dan Nabi Ilyas AS. berkata: Kami mendengar Rasulullah Saw. bersabda: 

‎ما من مؤمن يقول صلى الله على محمد إلا أحبه الناس وإن كانوا أبغضوه والله لا يحبونه حتى يحبه الله عز وجل
Tiada seorang mukmin yg membaca "shollallohu 'ala Muhammmad" kecuali akan dicintai para manusia walaupun sebelumnya mereka membencinya. Demi Allah, mereka tidak mencintainya kecuali karena Allah mencintainya". 

‎من قال صلى الله على محمد فقد فتح على نفسه سبعين بابا من الرحمة
"Barang siapa mengucapkan shollallohu 'ala Muhammad maka sungguh telah membuka untuk dirinya tujuhpuluh pintu rahmat" (Kitab Afdholussholawat hal 37)


RIYA' DALAM BERSHOLAWAT

Habib Zein bin Ibrahim bin Smith berkata dalam kitab beliau al-Manhaj al-Sawi halaman 713:

قال بعض العارفين : إن الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ما تحتاج إلى شيخ ولا حضور، ولا يبطلها الرياء ولا غيره لسرور المصطفى؛ لأن من صلى عليه فرح منه صلى الله عليه وسلم، وثواب فرح النبي ما يعادله شيء

Sebagian kaum arifin berkata : "Sesungguhnya sholawat kepada Nabi ﷺ itu tidak butuh kepada seorang guru dan tidak juga kepada hadirnya hati, dan juga tidak menjadi batal sebab riya' dan selainnya. Sebab Nabi ﷺ senang ;"Karena barang siapa yang sholawat kepada Nabi maka Nabi senang sebab hal itu, dan pahala membuat Nabi senang tidak ada sesuatu apapun yang dapat menyamainya"
Share:

Jumat, 27 Agustus 2021

Nafsu Manusia

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Nafsu

Daya syahwat merupakan daya pertama yang ada sejak bayi, baru kemudian disusul daya ghadab saat usia tujuh tahun. Setelah daya ghadab(marah/agresitifitas) mulai matang baru disusul oleh daya tamyîz. Karena (1) nafsu syahwat dan ghadab mendahului adanya dibanding kematangan daya ruhani lainnya, maka ia lebih membekas di hati dari yang lain.  Sebab kedua adalah (2)akhlak yang ada sedari awal kehidupan di mana daya-daya rohani belum stabil terus dikuatkan oleh perilaku yang menuntut kesenangan nafsu itu. 

Dua sebab itu yang membuat proses perbaikan ruhani ini menjadi tidak mudah. Tujuan perbaikan dan penyucian ruhani bukan meniadakan nafsu secara total, karena hal itu melawan fitrah. Perbaikan rohani ini lebih ditujukan untuk mengarahkan gejolak nafsu itu pada koridor syara`.

Terkait pengendalian Nafsu, Habib Abdullah al-Haddad, mengemukakan:

واعلم أن النفس تكون في أولِ الأمر أمَّارةً تأمرُ بالشرِّ وتنهى عن الخيرِ، فإن جاهدها الإنسان، وصَبرَ على مخالفةِ هواها؛ صارت لوَّامةً متلونةً لها وجهٌ إلى المطمئنةِ ووجهٌ إلى الأمارةِ فهي مرَّةً هكذا ومرَّةً هكذا،فإن رفَقَ بها وسار بها يقودُها بأزَمَّةِ الرَّغبةِ فيما عند اللهِ؛ صارت مطمئنةً تأمرُ بالخيرِ وتستلِذُّه وتأنسُ به، وتنهى عن الشرِّ وتنفِرُ عنه وتفِرُّ منه.

وصاحبُ النفسِ المطمئنةِ يعظُمُ تعَجُّبُه من الناسِ في إعراضِهِم عن الطاعاتِ، مع ما فيها من الرَوْحِ والأنسِ واللَّذَّةِ، وفي إقبالِهم على المعاصي والشهواتِ مع ما فيها من الغمِ والوحشةِ والمرارةِ، ويحسبُ أنهم يجدون ويذوقون في الأمرينِ مثلَ ما يجدُ ويذوقُ، ثم يرجِعُ إلى نفسِه، ويذكرُ ما كان يجدُ من قبل في تناولِ الشهواتِ من اللذاتِ، وفي فعلِ الطاعاتِ من المراراتِ؛ فيعلمُ أنه لم يصل إلى ما هو فيه؛ إلا بمجاهدةٍ طويلةٍ ، وعنايةٍ من اللهِ عظيمةٍ.

آداب سلوك المريد للإمام شيخ الإسلام قطب الدعوة والإرشاد الحبيب عبدالله بن علوي الحداد


Share:

Kamis, 26 Agustus 2021

Do'a Fajar (دعاء الفجر)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

DO'A FAJAR

Doa Fajar yang biasa dibaca setelah salat sunnah Subuh (Fajar):

اَللَّهُمَ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِيْ بِهَا قَلْبِيْ وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِيْ وَتَلُمُّ بِهَا شَعْثِيْ وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِيْ تُصْلِحُ بِهَا دِيْنِيْ وَتَحْفَظُ بِهَا غَائِبِيْ وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِيْ وَتُزَكِّيْ بِهَا عَمَلِيْ وتُبَيِّضْ بِهَا وَجْهِيْ وَتُلْهِمُنِيْ بِهَا رُشْدِيْ وَتَعْصِمُنِيْ بِهَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ.

"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepadamu rahmat dari sisiMu yang dengannya Engkau menunjuki hatiku, mengumpulkan yang terserak dariku, memperbaiki apa yang kusut padaku, mengembalikan padaku kesenanganku, memperbaiki agamaku, menjaga batinku (dari sifat-sifat buruk dan menghiasinya dengan sifat-sifat baik), mengangkat lahiriahku (dengan amal yang baik), mensucikan amalku (dari hala-hal yang dapat merusaknya), memutihkan wajahku, mengilhamkan kepadaku petunjukku, dan menjagaku dari segala kejelekan

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا دَائِمًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ، وَيَقِيْنًا صَدِيْقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنِيْ إِلاَّ مَا كَتَبْتَهُ عَلَيَّ وَأَرْضِنِيْ بِمَا قَسَمْتَهُ لِيْ، اَللَّهُمَّ إِنَّيْ أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا صَادِقًا وَيَقِيْنًا لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَرَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَمَاتِكَ فِي الدَُّنْيَا وَالآخِرة

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang langgeng yang meliputi hatiku, dan aku memohon kepada-Mu keyakinan yang jujur sehingga aku mengetahui bahwasanya tidak ada yang menimpaku kecuali yang telah Engkau tetapkan atasku, dan buatlah aku ridho (rela) dengan segala yang Engkau bagikan untukku. Ya Allah berikanlah kepadaku iman yang jujur/sungguh-sungguh dan keyakinan yang tidak diikuti oleh kekafiran dan rahmat yang dengannya aku memperoleh kemuliaan-Mu di dunia dan di akhirat."

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الصَّبْرَ عِنْدَ الْقَضَاءِ وَالْفَوْزَ عِنْدَ اللِّقَاءِ وَمَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَ عَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى اْلأَعْدَاءِ وَمُرَافَقَةَ اْلأَنِبِيَاءِ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesabaran ketika menerima keputusan (dari-Mu), keberuntungan ketika perjumpaan (dengan-Mu), derajat para syuhada, kehidupan orang-orang yang bahagia, pertolongan atas musuh, dan berdampingan dengan para Nabi (di surga)".
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أُنْزِلُ بِكَ حَاجَتِيْ وَإِنْ ضَعُفَ رَأْيِيْ وَقَصُرَ عَمَلِيْ وَافْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ اْلأُمُوْرِ وَيَا شَافِيَ الصُّدُوْرِ كَمَا تُجِيْرُ بَيْنَ الْبُحُوْرِ أَنْ تُجِيْرَنِيْ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ومِنَ دَعْوَةِ الثُّبُوْرِ وَفِتْنَةِ الْقُبُوْرِ

"Ya Allah, sesungguhnya aku menyerahkan hajatku kepada-Mu, meskipun lemah pendapatku, pendek angan-anganku, dan perlunya aku akan rahmati, maka aku mohon wahai Sang Pemutus segala perkara, penyembuh segala dada (yakni: hati), sebagaimana Engkau menjauhkan antar laut, agar Engkau juga menjauhkanku dari azab neraka Sa\'iir, juga dari seruan kecelakaan, dan fitnah kubur."

اَللَّهُمَّ وَمَا ضَعُفَ عَنْهُ رَأْيِيْ وَقَصُرَ عَنْهُ عَمَلِيْ وَلَمْ تَبْلُغْهُ نِيَّتِيْ وَأُمْنِيَّتِيْ مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ أَوْ خَيْرٍ أَنْتَ مُعْطِيْهِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَإِنِّيْ رَاغِبٌ إِلَيْكَ فِيْهِ وَأَسْأَلُكَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

"Ya Allah, apapun yang pikiranku lemah darinya, dan angan-anganku pendek darinya, serta niat dan cita-citaku tak sampai padanya daripada segala kebaikan yang yang telah Engkau janjikan kepada salah seorang dari hamba-hamba-Mu, atau kebaikan yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sesungguhnya aku sangat mendambakannya juga kepada-Mu, dan memohon kepada-Mu kebaikan tersebut, wahai Tuhan Penguasa seluruh alam semesta.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِيْنَ مُهْتَدِيْنَ، غَيْرَ ضَالِّيْنَ وَلاَ مُضِلِّيْنَ، حَرْبًا لِأَعْدَاءِكَ، وَسِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ، نُحِبُّ بِحُبِّكَ النَّاسَ وَنُعَادِيْ بِعَدَاوَتَكَ مَنْ خَالَفَكَ مِنْ خَلْقِكَ

"Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membawa petunjuk dan selalu ditunjuk, bukan orang yang sesat dan bukan pula menyesatkan, kami memerangi musuh-Mu, dan kami berdamai dengan para kekasih-Mu, kami mencintai manusia karena kecintaan pada-Mu, dan kami memusuhi karena permusuhan-Mu kepada siapa saja yang menyalahi (perintah)-Mu dari makhluk-Mu."

اَللَّهُمَّ هذَا الدُّعَاءُ وَمِنْكَ اْلإِجَابَةُ، وهذَا الْجُهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلاَنُ، وإِنَّا ِللهِ وَإِنًّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. ذِي الْحَبْلِ السَّدِيْدِ وَاْلأَمْرِ الرَّشِيْدِ، أَسْأَلُكَ اْلأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيْدِ، وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُوْدِ، مَعَ الْمُقَرَّبِيْنَ الشُّهُوْدِ، اَلرُّكَّعِ السُّجُوْدِ، وَالْمُوْفِيْنَ لَكَ بِالْعُهُوْدِ، إِنَّكَ رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ، وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ

Ya Allah, ini adalah doa dan dari-Mu lah penerimaan, dan ini adalah kadar usaha kami dan kepada-Mu lah berserah diri, dan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami hanya akan kembali kepada-Nya, dan tiada daya (untuk menghindar dari kemaksiatan) dan tiada upaya (untuk melakukan ketaatan) kecuali dengan (pertolongan) Allah Yang Maha Luhur lagi Maha Agung. Dia Yang Memiliki tali (agama) yang kuat, dan perkara yang penuh petunjuk, aku memohon kepada-Mu keamanan pada hari datangnya ancaman (hari kiamat), dan surga pada hari kekekalan, bersama dengan orang-orang yang didekatkan lagi menyaksikan (Allah), yang ahli ruku’ dan ahli sujud, dan menepati janji, sesungguhnya Engkau Maha Penyayang Lagi Mencintai, dan Engkau Maha Memperbuat apa yang Engkau kehendaki."
سُبْحَانَ مَنْ تَعَطَّفَ بِالْعِزِّ وَقَالِ بِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ، سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيْحُ إِلاَّ لَهُ، سُبْحَانَ ذِي الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ سُبْحَانَ ذِي الْقُدْرَةِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ ذِي الأْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ، سُبْحَانَ الَّذِيْ أَحْصَى كَلَّ شَيْءٍ بِعِلْمِهِ

"Maha Suci Allah Yang Berlembut dengan keperkasaan-Nya dan berfirman dengan keperkasaan itu. Maha Suci Allah Yang Mengenakan Kemuliaan dan berbuat dermawan dengannya, Maha Suci Allah Yang mana tidak layak pensucian kecuali untuk-Nya. Maha Suci Allah Sang Pemilik karunia dan nikmat-nikmat. Maha Suci Allah Yang Memiliki kekuasaan dan kedermawanan. Maha Suci Allah Yang Memiliki keagungan dan kemuliaan. Maha Suci Allah Yang Menghitung segala sesuatu dengan ilmu-Nya."

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِيْ نُوْرًا فِيْ قَلْبِيْ، وَنُوْرًا فِيْ قَبْرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ فِيْ سَمْعِيْ وَنُوْرًا فِيْ بَصَرِيْ، وَنُوْرًا فِيْ شَعَرِيْ وَنُوْرًا فِيْ بَشَرِيْ وَنُوْرًا فِيْ لَحْمِيْ وَنُوْرًا فِيْ دَمِيْ وَنُوْرًا فِيْ عِظَامِيْ وَنُوْرًا فِيْ عَصَبِيْ وَنْوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِيْ وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِيْ وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِيْ وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِيْ وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِيْ. اَللَّهُمَّ زِدْنِيْ نُوْرًا وَأَعْطِنِيْ نُوْرًا وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah, jadikanlah bagiku cahaya di hatiku dan cahaya di kuburku, cahaya di pendengaranku dan cahaya di penglihatanku, cahaya di rambutku dan cahaya di kulitku, cahaya di dagingku, cahaya di darahku, cahaya di tulang-belulangku, dan cahaya di urat-uratku, cahaya di hadapanku, cahaya di belakangku, cahaya di kananku, cahaya di kiriku, cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku. Ya Allah tambahkanlah untukku cahaya, berikanlah aku cahaya, dan jadikanlah bagiku cahaya. Dan sholawat serta salam semoga tetap telimpah atas junjungan kita Nabi Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabat beliau."
Share:

Sabtu, 17 Juli 2021

Do'a mengenakan pakaian dan melepasnya

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

A. Do'a mengenakan pakaian:

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ ِمنْ خَيْرِهِ َوخَيْرِ مَاهُوَلَهُ، َوأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَاهُوَ لَهُ

Artinya:
Ya Tuhanku… aku memohon kepadaMu dengan sungguh-sungguh atas kebaikan pakaian yang akan ku pakai, serta kebaikan atas sesuatu yang dijadikan bahannya. Dan aku berlindung kepadaMu dari kejahatan pakaian yang akan ku pakai serta kejahatan bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Atau:

اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْألُكَ ِمنْ خَيْرِهِ َوخَيْرِ مَافيه، َوأَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَافيه

عن أَبي سعيد الخُدْري قَالَ: كانَ رسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سمَّاهُ باسْمِهِ عِمامَةً، أَوْ قَمِيصًا، أَوْ رِدَاءً يقُولُ: اللَّهُمَّ لكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِع لَهُ، وأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ.
رواهُ أَبو داود، والترمذي وَقالَ: حديث حسن.

Atau:
 
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِىْ كَسَانِىْ هَذَا وَرَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّىْ وَلاَقُوَّةٍ
 

Artinya, "Segala puji bagi Allah yang memberi aku pakaian ini dan memberi rizeki dengan tiada upaya dan kekuatan dariku."
 


B. Do'a melepas pakaian:

إذا خلع الرجل ثوبه، قال بِسْمِ اللهِ الَّذِى لاَ إلهَ اإلاَّ هُوَ كما رواه أنس رضى الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم  

 Jika ia melepas pakaiannya hendaklah baca:

 
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ
 

Artinya, "Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain-Nya."
 

Share:

Rabu, 07 Juli 2021

Bagaiamana mendoakan keampunan untuk non muslim yang sudah meninggal?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

"Hukum Mendoakan agar dosa mereka diampuni, setelah mereka mati dalam keadaan kafir"

Para ulama telah sepakat (Ijma’) bahwa hal ini diharamkan:

قال النووي رحمه الله : وأما الصلاة على الكافر والدعاء له بالمغفرة فحرام بنص القرآن والإجماع

Imam Nawawi mengatakan: “Adapun mensholati orang kafir, dan mendoakan agar diampuni dosanya, maka ini merupakan perbuatan haram, berdasarkan nash Alqur’an dan Ijma’. (al-Majmu’ 5/120).

وقال ابن تيمية رحمه الله: إن الاستغفار للكفار لا يجوز بالكتاب والسنَّة والإجماع

Ibnu Taimiyah juga mengatakan: Sesungguhnya memintakan maghfiroh untuk orang-orang kafir tidak dibolehkan, berdasarkan Alqur’an, Hadits, dan Ijma’. (Majmu’ul Fatawa 12/489)

Dan dalil paling tegas dalam masalah ini adalah firman Allah ta’ala:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun (kepada Allah) untuk orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni (neraka) Jahim. (at-Taubah: 113)

 وَمَا كَانَ ٱسْتِغْفَارُ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوْعِدَةٍ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوٌّ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٌ

Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(at-Taubah: 114)

Sabda Nabi Saw: 

أمرت أن لا أستغفر لمن كان كافرا
"Aku diperintahkan agar jangan memohonkan ampunan bagi orang kafir." Lihat : Penjelasan lengkap lihat Tafsir Marah Labid, Syaikh Nawawi, 113-114 Surah At-Taubah.

Ayat 113 menggambarkan sikap mereka terhadap kaum musyrik yang telah pasti kemusyrikannya, yakni mereka memutuskan hubungan keakraban dengan mereka. Karena itu, ayat ini menyatakan bahwa: Tidak patut bagi Nabi saw. dan tidak juga bagi orang-orang yang beriman memintakan ampun kepada Allah swt. bagi orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah swt. walaupun mereka itu adalah kaum kerabat Nabi atau kerabat orang yang beriman itu sesudah jelas bagi mereka dengan kematian mereka dalam kemusyrikan atau turunnya informasi Allah swt. tentang kemusyrikan mereka. Memang Nabi Ibrahim as pernah mendoakan orangtuanya (pamannya) yang musyrik, tetapi itu, menurut ayat 114, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkan oleh Nabi Ibrahim as. kepadanya. Tetapi, tatkala telah jelas tanpa sedikit keraguan pun bahwa orang tuanya itu adalah musuh Allah swt. dengan menyekutukan-Nya, maka dia berlepas diri darinya. Ayat ini ditutup dengan memuji Nabi Ibrahim as. sebagai seorang yang sangat lembut hatinya lagi amat penyantun. Itulah agaknya yang merupakan salah satu dorongan bagi beliau memohonkan pengampunan itu.


Simpulan:

 1.Siapa yang jelas kematiannya dalam keadaan menyekutukan Allah swt., maka tidak dibenarkan untuk dido'akan, karena do'a adalah permohonan kepada Allah swt., sedang Allah swt. telah menegaskan penolakannya memberi ampun kepada siapa yang mempersekutukan-Nya  (QS. an-Nisâ' [4]: 48). Adapun yang bergelimang dalam dosa selain syirik, maka tidak ada larangan mendoakannya.
2. Betapa pun  kasihnya seseorang kepada orang lain yang musyrik, walau ibu bapaknya, namun ia tetap tidak dibenarkan memohonkan ampun baginya.
Lihat Sumber : (Quraish Shihab, Al-Lubab, h. 595-597.)
Share:

Kamis, 03 Juni 2021

Kenapa bersholawat pakai "Sayyidina"

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

سلوك الأدب خير من امتثال الأوامر
"Menjalani Adab lebih baik dari pada melaksanakan perintah"

Beberapa contoh kejadian:

Tatkala Abu Bakar ra. menjadi Imam di Mesjid Nabawi. Tiba-tiba datang Rasullah Saw. Kemudian Abu Bakar ra  mundur, tidak menjadi Imam. Nabi Saw. mengungkapkan tidak mengapa, teruskan jadi Imam. Namun Abu Bakar ra. tetap mundur, tidak mempedulikan perintah Nabi saw. karena beradab. 

Demikian juga, ketika terjadi perjanjian Hudaibiyyah antara Nabi Muhammad Saw. dengan pihak kafir Quraish. Beliau Saw. memerintahkan Ali bin Abi Thalib untuk menghapus kalimat " رسول الله" dikarenakan pihak Kafir Quraish, tidak setuju dengan adanya kalimat itu. Ali bin Abi Thalib pun tidak melaksanakan perintah Nabi saw. dan enggan untuk menghapusnya. Sehingga Nabi Muhammad saw. sendiri yang menghapusnya. Begitu besar adab Ali bin Abi Thalib kepada Nabi saw., hingga tidak melaksanakan perintah. 

Oleh karena itu para ulama menyimpulkan bahwa menjalani adab lebih utama dari pada melaksanakan yang diperintahkan.


يذكر أهل الحديث والسيرة: أنه لما كانت هدنة الحديبية فيما بين رسول الله (ص) وبين مشركي مكة،كان الذي تولى كتابة صحيفة الصلح هو أمير المؤمنين علي عليه السلام. وهذا مما لا شك فيه،ولا شبهة تعترية.
غير أن فريقاً من الرواة والمؤرخين، ومنهم البخاري أيضاً يقولون: إنه صلى الله عليه وآله وسلم أمر علياً أن يكتب حينئذٍ في بداية كتاب الصلح: (بسم الله الرحمن الرحيم)، فاعترض على ذلك سهيل بن عمرو ممثل المشركين، قائلاً: لا أعرف هذا، ولكن اكتب: باسمك اللهم.
فقال (ص): اكتب باسمك اللهم (فكتب علي عليه السلام ذلك).
ثم قال (ص) لعلي: اكتب: هذا ما صالح عليه محمد رسول الله سهيل بن عمرو (فكتب) فاعترض عليه سهيل بن عمرو،وقال:لو نعلم أنك رسول الله، ما قاتلناك ولا صددناك، ولكن اكتب اسمك واسم أبيك. فأمر(ص) علياً بمحوها، فقال لا والله، لا أمحاك أبداً.
أو قال: إن يدي لا تنطلق بمحو اسمك من النبوة. أو قال: ما أمحو اسمك من النبوة أبداً. أو ما كنت لأمحو اسمك من النبوة أو قال:(لا أمحوه أبداً) وفي نص البخاري عن البراء بن عازب: (ما أنا بالذي أمحاه).
فمحاه (ص)، أو فقال له (ص): ضع يدي عليها. أو: أرني إياها ؛ فأراه. فمحاه بيده. ... الخ


Demikian juga menambahkan mengucapkan "Sayyidina", ketika membaca Shalawat, adalah menjalani adab mengagungkan Nabi saw. Padahal perintah sebenarnya tanpa menggunakan kata "Sayyidina"
اللهم صل على سيدنا محمد

Mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi'i mensyariatkan menambahkan lafadz "Sayyidina". Sedangkan Mazhab Hambali, tidak mensyariatkannya di dalam shalat, namun mensyariatkan di luar shalat.

Abdullah Jejangkit, lih. al-Ajwibah  Ghaliyah, h. 127-128.
Share:

Kamis, 27 Mei 2021

Shalawat yang Cuma dibaca satu kali sama dengan membaca Enam Ratus Ribu kali bacaan Shalawat

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN SHALAWAT SA'ADAH(KEBAHAGIAAN DUNIA AKHIRAT)


Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitab Afdhalus Shalawat ‘ala Sayyidis Sadat  berikut;

في مجموعته ما نصه ومن الصيغ الكاملة التي ذكر بعض العارفين أن ثوابها ستمائة ألف صلاة وأن من داوم على قراءتها كل جمعة ألف مرة كان من السعداء الدارين وتسمى صلاة السعادة

“Sayid Ahmad Dahlan dalam salah satu kumpulan tulisannya mengatakan sebagai berikut. Di antara bentuk teks yang sempurna yang disebutkan oleh sebagian arifin (ulama ahli makrifat), sesungguhnya membacanya 1 kali bernilai sama dengan 600.000 kali shalawat. Dan siapapun yang mengistiqamahkan membacanya setiap Jumat sebanyak 1.000 kali, maka dia termasuk golongan yang beruntung dan bahagia di dunia dan akhirat. Shalawat ini disebut shalawat Assa’adah.”
Adapun lafadz shalawat As-Sa’adah adalah sebagai berikut;
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ عَدَدَمَافِى عِلْمِ اللّٰهِ صَلاَةً دَائمَةً بِدَوَامِ مُلْكِ اللّٰهِ
Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin ‘adada ma fi ‘ilmillahi shalatan da-imatan bidawami mulkillah.

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad sebanyak bilangan yang ada dalam pengetahuan Allah, dengan rahmat yang abadi seabadi kerajaan Allah.”

Shalawat ini disebut dengan shalawat As-Sa’adah adalah karena shalawat ini akan mendatangkan kebahagian kepada pembacanya, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Swt. berfirman:

 إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzaab: 56)

Sabda Rasulullah Saw. berikut ini:

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya, “Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali,” (HR Muslim)

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Artinya, “Siapa saja yang membaca shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosanya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkatan,” (HR.An Nasa’i)

Malam dan Hati Jum'at Semakin diperbanyak

 أَكْثِرُوا الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا. 

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”(HR. al-Baihaqi)

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi menganjurkan agar kita tidak menyia-nyiakan waktu tanpa membaca shalawat nabi mengingat banyaknya keutamaan yang terkandung dalam amaliyah shalawat nabi. 

اخواني أكثروا من الصلاة على هذا النبي الكريم فإن الصلاة عليه تكفر الذنب العظيم وتهدي إلى الصراط المستقيم وتقي قائلها عذاب الجحيم ويحظي في الجنة بالنعيم المقيم  

Artinya, “Wahai para sahabatku, perbanyaklah membaca shalawat untuk nabi mulia ini. niscaya shalawat itu menghapus dosa besar, menunjuki ke jalan lurus, melindungi orang yang mebacanya dari siksa neraka jahim,” (Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, Kitab Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, h. 119).

Sumber lain:
Amalan yang diberikan Guru M.Rosyad, Pengajian Tafsir Marah Labid, Q.S. Al-Ahzab:56)
Share:

Rabu, 26 Mei 2021

Berapakah Jumlah mahar pernikahan?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

MAHAR PERNIKAHAN SESUAI SUNNAH

Mazhab Al-Hanafiyah menyebutkan bahwa minimal nilai mahar itu 10 dirham.

Sunnah Mahar perkawinan jangan kurang dari 10 dirham dan jangan lebih dari 500 Dirham.

Ada pendapat 1 dirham: 2, 975 gram perak murni.

1 Dirham = 2,975 gram , jadi jika dihitung maka:
Sunnah  minimal mahar 10 dirham dikalikan 2,975 gram= 29,75 gram dikalikan harga perak murni sekitar Rp. 13.000,-, dengan demikian minimal Rp.386.750,-. 
Adapun sunnah mahar maksimal 500x2,975= 1.487,5 x Rp. 13.000,- = Rp. 19.337.500,-

Nabi menikahi Istri-Istri beliau, adalah dengan mahar 500 dirham perorang (ini jumlah maksimal yang beliau ambil, betapa besar Rasulullah saw. memuliakan perempuan). Selain mahar untuk Safiah dan Ummu Habibah( sekitar 400 dinar)). Lihat sumber: (Sayid Maliki, Tarikh Al-Hawadits Wa Al-Ahwal An-Nabawiyyah, h. 25.).

Dengan demikian sesuai sunnah, lebih baik disebutkan saja mahar pernikahan ketika akad dengan jumlah uang setara 10 s.d 500 dirham, karena ada rahasia lebih dari mengikut sunnah Nabi Muhammad saw.
Share:

Minggu, 09 Mei 2021

Hadir Hati Bersama Allah Swt.dalam beribadah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tingkatan Kehadiran Hati dalam beribadah:
1. Hatinya memerhatikan/mendengarkan bacaan lisan(mulutnya). Yaitu mulutnya mengucapkan(bacaan:zikir, Al-Qur'an, dll), hatinya sesuai apa yang sedang dibacanya.
2. Memahami apa yang dibacanya;
3. Merasakan keberadaan Allah (Ihsan)-Merasa berada di hadapan-Nya.
أن تعبد الله كأنك تراه
"Kamu beribadah kepada Allah swt. seakan-akan melihat-Nya(Musyahadah)"

Hadir Hati(khusu') dalam beribadah merupakan kunci untuk mendapatkan cahaya-cahaya Ilmu dari Allah Swt.

Praktik membantu kehadiran hati dalam beribadah:

Sebelum kita melaksanakan ibadah(shalat, baca Al-Qur'an, Dzikir, dll)  kita rasakan dulu di hati kita "Bahwa shalat ini (ibadah ini) diketahui Allah swt. Allah mengetahui geritik hati hatiku. Rasakan bahwa shalat ini diperhatikan Allah Swt. Shalat ini bisa membawa pahala atau sebaliknya mendapat siksa, jika aku tidak beres dalam melaksanakan shalatku ini."

Abdullah Al-haddad, Ittihafussail, 39-40.
Share:

Senin, 03 Mei 2021

Bagaimana Perbuatan manusia menurut Ahlussunnah, Mu'tazilah, dan Jabariah? Apa perbedaannya?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ringkasan:

لا حول ولا قوة إلا بالله
"Tidak ada daya(gerakan) dan upaya(kemampuan) kecuali dengan Allah Swt"

Manusia diberikan Allah Swt:
1. Ikhtiar bisa memilih
2. Kemampuan

Dengan dua hal di atas, kita bisa beribadah serta menjauhi larangan-Nya, namun kedua hal itu tidak terlepas dari Allah Swt., serta tetap menurut apa yang dikehendaki-Nya.(Ahlussunnah). 

Contoh: Shalat dicipta oleh Allah Swt., tetapi diusahakan oleh hamba, namun usaha hamba itu tidak bisa lepas dari kehendak Allah Swt.

Cukup sampai disini saja penjelasan, jangan ditambahkan lagi, misal: Bagaimana bisa begitu? Hal ini tidak boleh lagi, karena agama melarang melebihi pada demikian.

Dengan demikian inilah yang wajib kita yakini dan lakukan: 1.  Segala sesuatu dicipta Allah Swt.; 2.  Apapun tidak akan terjadi tanpa kehendak atau kuasa Allas Swt.; 3. Terus beamal lah, beribadahlah kepada Allah Swt. Inilah yang diperpegangi dan dianjurkan, jangan banyak mencari, meneliti melebihi dari pada itu.
 وهو سبيل وعر قد تخبط فيه وضل عنه خلق كثير، وتحته سر القدر الذي حارت فيه الألباب، وأمر بالإمساك عن الخوض فيه سيد المرسلين

 
-Hamba diberi kemampuan dan terlepas dari Allas Swt, serta tidak ada lagi hubungannya dengan Allah Swt.(Mu'tazilah)
-Perbuatan Hamba tidak ada pilihan dan muthlak dipaksa, tidak ada kemampuan dan ikhtiar, semata-mata muthlak Allah Swt  (Jabariyyah)


Beberapa point disarikan dari: Habib Abdullah Al-Haddad, Ittihafussail, h. 45-46

Share:

Minggu, 18 April 2021

APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA TEMAN DI SEKITAR ANDA SEDANG MENGGHIBAH?

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA TEMAN DI SEKITAR ANDA SEDANG MENGGHIBAH

Ajaran Nabi Muhammad Saw., jikalau teman-teman anda melakukan Ghibah di hadapan anda katakanlah: 
..."اغتبتم أخاكم"... (أخرجه الطبراني)
"Kalian telah mengghibah/mengumpat saudaramu" (Ihya Ulumiddin, h. 1036)

Ini sebagai kontrol sosial, mencegah kemungkaran/Nahi mungkar. Agar dirinya tidak ikut mendapatkan dosa. Sabda Nabi Saw.:

المستمع أحد المغتابين (أخرجه الطبراني)
Pendengar(umpatan) adalah salah seorang di antara orang-orang yang menggibah. (H.R. At-Thabrani)

إلا أن ينكر بلسانه أو بقلبه إن خاف
Kecuali dia mengingkarinya(umpatan itu) dengan lisan atau dengan hatinya jikalau dia takut. (Ihya Ulumiddin, h.1038.)
Share:

Selasa, 13 April 2021

AKHIR ZAMAN INI BAIKNYA PUNYA BANYAK UANG(BADUIT)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Di Akhir Zaman : Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Perlu Uang.

  ( إِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ؛ لَا بُدَّ لِلنَّاسِ فِيهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ ؛ يُقِيمُ الرَّجُلُ بِهَا دِينَهُ وَدُنْيَاهُ ). أخرجه الطبراني في " المعجم الكبير " (20/ 279/660) 

Hadis: "Di akhir zaman manusia tidak bisa lepas dari uang, dengan uang ia bisa menegakkan agamanya dan urusan dunianya" (HR Thabrani dalam Mu'jam Kabir)

Simpulan : Di akhir Zaman ini, baiknya kita punya banyak uang (baduit) untuk bisa menegakkan urusan kebaikan agama dan dunia. Tapi ingatlah Harta bukanlah untuk berfoya-foya atau meluluskan dan  memuaskan Hawa Nafsu dan kema'siatan, namun untuk perantara dalam melaksanakan  Ibadah/ketaatan kepada Allah Swt.
Share:

Minggu, 04 April 2021

AMALAN TASBIH BESAR PAHALANYA

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tasbih yang sangat Bagus dibaca, sangat besar pahalanya:

سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيْمِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Dalam sebuah hadits, dari Ummul Mukminin Juwairiyah binti al-Harits Radhiyallahu 'Anha, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  keluar dari sisinya pada shalat Shubuh di masjid, sementara Juwairiyah sudah di tempat shalatnya. Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kembali saat waktu sudah Dhuha dan ia masih duduk di tempat shalatnya tersebut, maka Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda, "Engkau masih di tempat ini sejak aku meninggalkanmu?" Ia menjawab, "ya." Lalu beliau bersabda,

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

"Sungguh aku membaca empat kalimat tiga kali seandainya ditimbang dengan apa yang kamu baca seharian niscaya menyamainya; yakni Subhanallah Wabihamdih 'Adada Khalqih, Wa Ridhaa Nafsih, Wazinata 'Arsyih, Wamidada Kalimatih. (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan jiwa-Nya, seberat timbangan 'Arasy-Nya, dan sebanyak jumlah kalimat-kalimat-Nya)." (HR. Muslim) Yakni; dibaca tiga kali setiap pagi.
Share:

AMALAN PEMADAM KEMARAHAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

أطفأت غضبك يا فلان بلاإله إلا الله واستجلبت رضاك عليه بلا إله إلا الله وأقضي حاجتي منك بلا إله إلا الله

الله ربنا وربكم لنا أعمالنا ولكم أعمالكم لاحجة بيننا وبينكم الله يجمع بيننا واليه المصير أطفأت غضبك بلا اله الا الله واستجلبت رضاك بلا اله الا الله واستقضيت حوائجى منك بلا اله الا الله

*لمن غضب عليه سلطان أو ذو جاه أن يقرأ عند دخوله عليه هذه الاية : ولما سكت عن موسى الغضب ( سورة يوسف 67) ثم يقول أطفأت غضبك ( ... غضب فلان/هذا الرجل)يافلان ابن فلان بلاإله إلا الله واستجلبت مودته بسيدنا محمد رسول الله صلى الله عليه وسلم*


وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلْغَضَبُ أَخَذَ ٱلْأَلْوَاحَ ۖ وَفِى نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ( الأعراف: 154)

Share:

AMALAN LUAS REZEKI

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Amalan Banyak Rizki

*سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله*

SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZhIIM(I) ASTAGhFIRULLAH (dibacanya 100x sesudah mengerjakan shalat sunnah subuh). 

Artinya : Maha Suci Allah denga segala pujiNya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Saya memohon ampun kepada Allah. 

وَأخرج الْخَطِيب فِي رُوَاة مَالك عَن ابْن عمر أَن رجلا قَالَ يَا رَسُول الله إِن الدُّنْيَا أَدْبَرت عني وتولت قَالَ لَهُ فَأَيْنَ أَنْت من صَلَاة الْمَلَائِكَة وتسبيح الْخَلَائق وَبِه يرْزقُونَ قل عِنْد طُلُوع الْفجْر سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظِيم اسْتغْفر الله مائَة مرّة تَأْتِيك الدُّنْيَا صاغرة فولى الرجل فَمَكثَ ثمَّ عَاد فَقَالَ يَا رَسُول الله لقد اقبلت عَليّ الدُّنْيَا فَمَا ادري أَيْن أضعها

أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال تولت عني الدنيا وقلت ذاتيدي فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فأين أنت من صلاة الملائكة وتسبيح الخلائق وبها يرزقون قال فقلت وماذا يا رسول الله قال قل سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم أستغفر الله مائة مرة ما بين طلوع الفجر إلى أن تصلى الصبح تأتيك الدنيا راغمة صاغرة ويخلق الله عز وجل من كل كلمة ملكا يسبح الله تعالى إلى يوم القيامة لك 

Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saww. lalu ia berkata: “Dunia berpaling dariku dan sedikit di tanganku (miskin)”, Lalu Rasulullah saww. bersabda: “Maka dimanakah kamu dari permohonan rahmat oleh para Malaikat dan tasbih para makhluk, dan dengannya mereka diberi rizki?” ia berkata: Lalu saya berkata: “Apakah itu wahai Rasulullah?”, Beliau bersabda: “Ucapkanlah: SUBHAANALLAAHI WABIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL ‘AZhIIMI ASTAGhFIRULLAH (Maha Suci Allah denga segala pujiNya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Saya memohon ampun kepada Allah)” seratus (100x) kali antara terbitnya fajar sampai shalat shubuh(setelah shalat sunnah subuh) maka dunia datang dengan hina dan kecil(tidak sombong) dan Allah ‘Azza Wa Jalla menciptakan dari setiap kata akan satu Malaikat yang mentasbihkan Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahalanya untukmu”. (Di dalam Kitab Ihya Ulumiddin - Al Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali) 

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat mengeluh kepada Rasulullah saww. dan berkata: 

"Ya Rasulallah, kenapa dunia seolah-olah tidak menginginkanku, semua usahaku bangkrut, peternakan dan pertaniankupun selalu gagal panen?"

Sambil tersenyum Nabi Muhammad saww. mengajarkan tentang tasbihnya para Malaikat, serta tasbihnya penghuni alam semesta yaitu kalimat:

سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم استغفر الله

SUBHAANALLAAHI WA BIHAMDIHI SUBHAANALLAAHIL 'AZhIIM(I) ASTAGhFIRULLAAH.

Lalu Nabi saww. bersabda:
"Bacalah seratus (100) kali sebelum terbit fajar (sehabis sholat Qobliyah Subuh), maka dunia akan memohon kepada Allah agar engkau miliki (mengejarmu tanpa kau mengejarnya)".

Selang beberapa bulan kemudian, sahabat tadi kembali lagi dan bercerita: 
"Ya Rasulallah sekarang aku bingung dengan hartaku kemana harus aku letakkan hasil usaha dan peternakanku karena banyaknya".

(Diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dari Imam Malik. Dikutip dari Kitab : أبواب الفرج oleh Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki)

SUMBER PENGAJIAN GURU BAKHIET KE 23 KITAB MINHAJUL ABIDIN
Share:

Senin, 29 Maret 2021

Tafwid, Pasrah kepada Allah Swt

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tama': yaitu mengharapkan sesuatu yang belum tentu baik,(Seperti mengharapkan :kekayaan, miskin, menjabat/berkedudukan),  tanpa menambahkan  "Insya Allah" atau  syarat "Jika itu baik", sesuai pengetahuan Allah Swt. Jadi, tama' adalah menentukan pilihan kepada sesuatu yang belum tentu membawa kebaikan baginya.

Lawan dari tama' adalah Tafwid/pasrah(تفويض), yaitu menyerahkan kepada Allah Swt untuk memilihkan sesuatu terbaik untuk dirinya. Tafwid juga bermakna meninggalkan memilih sesuatu yang mengandung kekhwatiran(tidak tahu baik buruknya baginya, seperti luas rezeki, kaya, panjang umur, sehat, dll/perkara yang mubah ataupun sunnat. Meninggalkan memastikannya(tidak tama'), semua itu pilihan terbaik dipasrahkan kepada Allah Swt . Dengan demikian, tafwid/pasrah adalah menginginkan peliharaan kepada Allah Swt terhadap sesuatu yang menjadi kemaslahatan bagi dirinya.

الطمع : sangat ingin
Share:

Rabu, 17 Maret 2021

Beratnya Istiqamah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

فاستقم كما أمرت
"Istiqamahlah(dalam kebaikan) sebagaimana kamu diperintahkan" Inilah ayat huud yang berat untuk melaksakannya...

Telah membuat aku berhuban surat Huud dan kawan-kawannya.
شيبتي هود وأخواتها

Allah SWT berfirman: 

فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya, "Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS Hud: 112) 

Ayat di ataslah yang menurut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat berat untuk dilaksanakan.

Ibnu ‘Abbâs radhiallahu ‘anhu berkata:

مَا نُزِّلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ- آيَةً هِيَ أَشَدُّ وَلَا أَشَقُّ مِنْ هذِهِ الآيَةِ عَلَيْهِ، وَلِذلِكَ قَالَ لِأَصْحَابِه حِيْنَ قَالُوْا لَه: لَقَدْ أَسْرَعَ إِلَيْكَ الشَّيْبُ! فَقَالَ : (( شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ وَأَخْوَاتُهَا )).
Artinya: “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika beliau ditanya, ‘Betapa cepat engkau beruban?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya.”
(Lihat Tafsîr AL-Qurthubi 9/107 dan Tafsir Marah Labid, Akhir perkataan Ibnu ‘Abbâs semisal dengan apa yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3297 dan yang lainnya.)

عن ابنِ عبّاسٍ قالَ : قالَ أَبُو بَكْر رضي الله عنه: “يَا رَسُولَ الله قَدْ شِبْتَ. قالَ: شَيّبَتْنِي هُودٌ وَالْوَاقِعَةُ وَالمُرْسَلاَتُ و {عَمّ يَتَسَاءَلُونَ} و {إِذَا الشّمْسُ كُوّرَتْ}” 
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Abu Bakar RA berkata, 'Wahai Rasulullah! Engkau telah beruban'. Beliau SAW menjawab: 
'Telah membuatku beruban (surat) Huud, Al-Waaqiah, Al-Mursalaat, Amma yatasaa aluun, dan Idzasy Syamsu kuwwirat'"  (HR At-Tirmidzi, Al-Hakim, Abu'aim).

Hal ini karena di dalam surat-surat tersebut terdapat penjelasan tentang huru-hara hari kiamat dan kejadian-kejadian yang menimpa umat-umat terdahulu, sehingga membuat SAW beruban.
Share:

Jumat, 12 Maret 2021

Amalan Dua Ayat Terakhir QS. At Taubah: 128-129

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

* تفسير حاشية الصاوي / تفسير الجلالين (ت1241هـ) 

{ لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ } * { فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ ٱللَّهُ لاۤ إِلَـٰهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ }

Artinya: "Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka Berpaling (dari keimanan) maka katakanlah “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung." (QS. At Taubah: 128-129).

وهاتان الآيتان بهما الأمان من كل مكروه، وقد ورد: من قراهما، ويكرر الآية الثانية سبعاً صباحاً، وسبعاً مساءً، أمن من كل مكروه حتى الموت، فمن أراد الله موته أنساه قراءتهما.

"Orang yang membaca dua ayat di atas dan ayat yang kedua diulang tujuh kali, pagi dan sore, maka akan diselamatkan dari semua perkara yang tidak diinginkan(dibencinya, seperti diganggu/disakiti) sampai mati(hari itu tidak akan mati), jika orang orang itu dikehendaki mati hari itu oleh Allah Swt., dilupakan membacanya"
(حاشية العلامة الصاوي)
Perlu diketahui: dua ayat di atas, surat al-Taubah, maka tidak disunatkan membaca
بسم الله الرحمن الرحيم

[1] إحياء علوم الدين (1/ 335)

ذكر أبو القاسم الغافقي في فضائل القرآن في رغائب القرآن لعبد الملك بن حبيب من رواية محمد بن بكار أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال من لزم قراءة لقد جاءكم رسول من أنفسكم إلى آخر السورة لم يمت هدما ولا غرقا ولا حرقا ولا ضربا بحديدة

سنن أبي داود ت الأرنؤوط (7/ 415) [2]

عن أبي الدرداء، قال: من قال إذا أصبَحَ وإذا أمسى: حسبيَ اللهُ، لا إله إلا هو عليهِ توكلّتُ، وهو ربُّ العرشِ العظيمُ، سبعَ مراتٍ، كفاه اللهُ ما هَمَّهُ، صادقاً كان بها أو كاذباً

 (1) رجاله ثقات، وهو موقوف

وأخرجه ابن عساكر في “تاريخ دمشق” 36/ 149 من طريق أبي زرعة الدمشقي و 36/ 149 – 150 من طريق إبراهيم بن عبد الله بن صفوان، كلاهما عن عبد الرزاق ابن عمر بن مسلم، بهذا الإسناد.

وأورده ابن كثير في “التفسير” 4/ 181 عن “تاريخ دمشق” لابن عساكر من طريق أبي زرعة
وقد روى أبو داود ، عن يزيد بن محمد ، عن عبد الرزاق بن عمر - وقال : كان من ثقات المسلمين من المتعبدين ، عن مدرك بن سعد - قال يزيد : شيخ ثقة - عن يونس بن ميسرة ، عن أم الدرداء ، عن أبي الدرداء قال : من قال إذا أصبح وإذا أمسى : حسبي الله لا إله إلا هو ، عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ، سبع مرات ، إلا كفاه الله ما أهمه .
وقد رواه ابن عساكر في ترجمة " عبد الرزاق بن عمر " هذا ، من رواية أبى زرعة الدمشقي ، عنه ، عن أبي سعد مدرك بن أبي سعد الفزاري ، عن يونس بن ميسرة بن حليس ، عن أم الدرداء ، سمعت أبا الدرداء يقول : ما من عبد يقول : حسبي الله ، لا إله إلا هو ، عليه توكلت ، وهو رب العرش العظيم ، سبع مرات ، صادقا كان بها أو كاذبا ، إلا كفاه الله ما همه .

وانظر “نتائج الأفكار” 2/ 400.

تنبيه: هذا الحديث أثبتناه من (هـ). وذكر المزي في “التحفة” (11004)، والحافظ في “نتائج الأفكار” 2/ 400 أنه في رواية أبي بكر ابن داسه! قلنا: كذا قال مع أن أبا بكر ابن داسه قد أشار كما في الورقة 183 من (هـ) إلى أن عدة أحاديث ومن جملتها هذا الحديث قد سقط من كتابه وأنه يرويها تعليقاً عن أبي داود.

شرح سنن أبي داود للعباد (577/ 3، بترقيم الشاملة آليا)

هذا أثر عن أبي الدرداء رضي الله تعالى عنه ومثله لا يقال بالرأي؛ لأن تحديد هذا الأجر لهذا العدد الذي هو سبع مرات لا يقال من قبل الرأي.

 

الترغيب والترهيب للمنذري (1/ 255)

وَعَن أم الدَّرْدَاء عَن أبي الدَّرْدَاء رَضِي الله عَنهُ قَالَ من قَالَ إِذا أصبح وَإِذا أَمْسَى حسبي الله لَا إِلَه إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ توكلت وَهُوَ رب الْعَرْش الْعَظِيم سبع مَرَّات كَفاهُ الله مَا أهمه صَادِقا كَانَ أَو كَاذِبًا

رَوَاهُ أَبُو دَاوُد هَكَذَا مَوْقُوفا
Share:

Rabu, 10 Maret 2021

DO'A DAN SHOLAWAT MALAM 27 RAJAB

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

DO'A DAN SHOLAWAT MALAM 27 RAJAB

Barang siapa yg membaca doa ini di malam 27 Rajab dan meminta kepada Allah apa yg diinginkan, maka Allah akan mengabulkan doanya. 

اللهُمَّ اِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ، حِيْنَ أَسْرَيْتَ بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ، أَن ترْحَم قَلْبِي الْحَزِيْنَ، وَتُجِيْبَ دَعْوَتِي يَا أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ.

Artinya : Ya Allah, aku memohon kepadaMu dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia para ahlul mahabbah dengan kemuliaan khalwat (pertemuan tersembunyi) yang hanya Engkau berikan kepada Nabi Muhammad pemimpin para rasul ketika Engkau berikan kesempatan kepada Beliau pada malam 27 Rajab, berikanlah hatiku yang sedang galau akan kasih sayangMu serta kabulkanlah doa-doaku wahai yang Maha memiliki kedermawanan. 3x

Sholawat Isra' Mi'raj Malam 27 Rajab:

 اَللّٰهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على طَيّبِ الْأَرَجْ ، أَفْضَلِ مَنْ أُسْرِيَ وعَرَجْ ، عَبْدِك وحَبِيْبِك سيّدنا محمد صلى الله عليه وسلم صَلاَةً نَنَالُ ببَرَكَتِها عَاجِلَ الفَرج ، مِنْ هَمٍّ وغَمٍّ وبَلاءٍ و وَبَاءٍ وحَرَج ، وعلى آله وصحبه وسلمْ " 

Ya Allah  Yang Maha Agung, sampaikanlah sholawat dan salam pada sosok yang harum semerbak, paling utamanya manusia yang telah diisra'kan dan dimi'rajkan, hamba-Mu dan kekasih-Mu, penghulu kami, Baginda Nabi Muhammad Saw., beserta keluarga dan shabatnya. Shalawat yang dengan barkahnya dapat memberi kami lekasnya kemudahan dari semua kesusahan dan kesedihan, bala', wabah dan kesulitan. 
(Aamiin)3x.

Semoga Bermanfaat. Amiin.
Share:

Kamis, 25 Februari 2021

Tafsir: Harta dan Anak Merupakan Fitnah/Cobaan dari Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tafsir: Harta dan Anak adalah Cobaan Allah Swt.

QS. Al-Anfal Ayat 28:

وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ  ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

Tafsir:

Salah satu bentuk motivasi mengkhianati amanat Allah dan RasulNya adalah cinta kepada harta dan anak yang berlebihan. Maka pada ayat ini Allah menyatakan, "Dan ketahuilah bahwa hartamu yang merupakan titipan Allah kepadamu dan anak-anakmu yang merupakan anugerah Allah itu hanyalah sebagai cobaan. Maka, janganlah berlebihan dalam mencintai harta dan anak melebihi cinta pada Allah. Cinta harta dan anak yang berlebihan membuat seseorang enggan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya karena takut atau kikir, sebab panggilan tersebut menuntut tanggung jawab dan pengorbanan. Dan ketahuilah, sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar, jauh lebih besar daripada harta dunia dan anak keturunan."
Allah memperingatkan kaum Muslimin agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak-anak mereka itu adalah cobaan. Maksudnya ialah bahwa Allah menganugerahkan harta benda dan anak-anak kepada kaum Muslimin sebagai ujian bagi mereka itu apakah harta dan anak-anak banyak itu menambah ketakwaan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya serta melaksanakan hak dan kewajiban seperti yang telah ditentukan Allah. Apabila seorang muslim diberi harta kekayaan oleh Allah, kemudian ia bersyukur atas kekayaan itu dengan membelanjakannya menurut ketentuan-ketentuan Allah berarti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Allah terhadap mereka. Tetapi apabila dengan kekayaan yang mereka peroleh kemudian mereka bertambah tamak dan berusaha menambah kekayaannya dengan jalan yang tidak halal serta enggan menafkahkan hartanya, berarti orang yang demikian ini adalah orang yang mengingkari nikmat Allah. 

Dalam kehidupan manusia di masyarakat, harta benda adalah merupakan kebanggaan dalam kehidupan dunia. Sering orang lupa bahwa harta benda itu hanyalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada mereka, sehingga mereka kebanyakan tertarik kepada harta kekayaan itu dan melupakan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan.

Demikian juga anak adalah salah satu kesenangan hidup dan menjadi kebanggaan seseorang. Hal ini adalah merupakan cobaan pula terhadap kaum Muslimin. Anak itu harus dididik dengan pendidikan yang baik sehingga menjadi anak yang saleh. Apabila seseorang berhasil mendidik anak-anaknya menurut tuntutan agama, berarti anak itu menjadi rahmat yang tak ternilai harganya. Akan tetapi apabila anak itu dibiarkan sehingga menjadi anak yang menuruti hawa nafsunya, tidak mau melaksanakan perintah-perintah agama, maka hal ini menjadi bencana, tidak saja kepada kedua orang tuanya, bahkan kepada masyarakat seluruhnya. Oleh sebab itu, wajiblah bagi seorang muslim memelihara diri dari kedua cobaan tersebut. Hendaklah dia mengendalikan harta dan anak untuk dipergunakan dan dididik sesuai dengan tuntutan agama serta menjauhkan diri dari bencana yang ditimbulkan oleh harta dan anak tadi.

Allah menegaskan bahwa sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. Maksudnya ialah barang siapa yang mengutamakan keridaan Allah dari pada mencintai harta dan anak-anaknya, maka ia akan mendapat pahala yang besar dari sisi Allah. Peringatan Allah agar manusia tidak lupa kepada ketentuan agama lantaran harta yang banyak dan anak yang banyak disebutkan pula dalam ayat yang lain.

Firman Allah:

Wahai orang-orang yang beriman! janganlah harta-bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (al-Munafiqun/63: 9)

sumber: kemenag.go.id
Share:

Selasa, 23 Februari 2021

HADIS : Jangan menginformasikan suatu hal yang dibeci/bisa merusak hati

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

ADAB BERGAUL: HADIS AKHLAK NABI

Jangan Menginformasikan suatu hal pada orang lain/teman yang membuat hatinya menjadi terkotori(menjadi marah, hati tidak selamat)

وقسم رسول الله ﷺ قسمة فقال رجل من الأنصار: هذه قسمة ما أريد بها وجه الله? فذكر ذلك للنبي ﷺ فاحمر وجهه وقال: "رحم الله أخي موسى قد أوذي بأكثر من هذا فصبر" وكان ﷺ يقول: "لا يبلغن أحد منكم من أصحابي شيئاً فإني أحب أن أخرج إليكم وأنا سليم الصدر".

عن عبد الله بن مسعود -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((لا يُبَلِّغُنِي أحدٌ من أصحابي عن أحدٍ شيئًا، فإنِّي أحبُّ أن أخرج إليكم وأنا سَلِيم الصَّدر"

Ketika Rasulullah Saw. membagikan harta-kekayaan, seorang laki-laki Anshar berkata, "Allah Swt. tidak ridha dengan pembagian harta ini." Ketika hal ini diberitahukan kepada beliau, merahlah wajah
beliau, dan bersabda, "Semoga Allah Swt. tetap menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya kepada saudaraku -Nabi Musa as. - dimana beliau digunjing lebih pedih daripada ini, namun beliau tetap sabar." Sabda Rasulullah Saw.: “Tiada perlu seseorang dari sahabatku menyampaikan sebuah hal tentang orang lain. (Yakni sebuah hal yang aku tak suka, dan aku bisa jadi marah). Sebab sungguh Aku senang keluar kepada kalian dengan kondisi hati yang selamat (dari keburukan kalian).” (إحياء علوم الدين) (HR Abu Daud dan Tirmidzi) no.1546.


Share:

Minggu, 21 Februari 2021

Seperti apa FANA? Pengalaman Personal Para Sufi

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu yang di alami dari pengalaman personal Para Sufi

Awal Jalan Pengalaman Sufi:(Ujung yang bisa diUsahakan)
1. Mengosongkan diri dari selain Allah Swt.(Wudhu/Thaharah)
2. Menenggelamkan diri dalam Zikirullah.(takbiratul Ihram)
3.Fana, lebur tenggelam di dalam Allah Swt.(salam). 

Fana secara mendalam merupakan awal jalan. Tenggelam di samudra tentu tidak terbatas dan tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata.

Sebelum fana seperti beranda atau arena transisi yang mengantar kepada Fana. 

Masuk dalam fana seperti samudera. Secara berurutan:
1. Fana(Awal jalan/Thariqah)
2. Mukasyafah(ketersingkapan)
3. Musyahadah(penglihatan), hingga mereka dalam terjaga melihat malaikat, dan roh-roh para nabi. Serta mendengar suara malaikat dan para nabi dan mengambil menfaat dari mereka.
4. Menyaksikan gambar-gambar dan misal(contoh-contoh/ideal type). Dan sampai pada derajat yang tidak bisa diungkapkan.

Pengaruh Filsafat Plato: Neo Platonisme : Alam Suwar dan Misal. 
Semua hal di dunia yang dapat kita indera di dunia ini, adalah Sebenarnya  tiruan dari alam misal(alam sejati). Tempat ada bentuk yang lebih murni, yang di dunia merupakan tiruannya. Seperti seorang arsitek merancang gedung. Gedung itu sebenarnya berasal dari sebuah ide dari seorang arsitek. Wujud materi adalah rendah, adapun wujud non materi(gagasan arsitek) tidak akan hancur. Wujud yang ada dipikiran adalah lebih mulia dibanding wujud materi yang bisa rusak.
Suwar dan amstal-Gambar yang murni dari wujud yang ada di dunia. Para Sufi Masuk kedalam diri Tuhan melihat gambar dalam pikiran Tuhan(Tidak ada seumpamanya ليس كمثله شيء).  Jika diungkapkan pasti akan menimbulkan kesalahpahaman. Seperti yang telah diungkapan oleh Hallaj, Al-Ghazali, Abu Hamid Abulung, Syaik Siti Jenar; yang banyak disalah pahami orang-orang.

Lihat sumber: Al-Ghazali, Al-Munqidz Min Ad-Dhalal, h.106.
Share:

Sabtu, 20 Februari 2021

Bagaimana Cara Bernazar? Jangan Beramal Tanpa Ilmu

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Syarat Sah Nazar:

1. Harus dilafadzkan/dituturkan/diucapkan, Contoh: "Aku wajibkan atasku Shalat Dhuha", kalau di dalam Hati, maka  TIDAK SAH Nazarnya
2. Sesuatu yang diNazarkan adalah Perkara Sunnah. Seperti puasa/shalat sunnah, Sadakah, dll. Nazar Tidak Sah kalau ditunjukkan pada perkara MUBAH(seperti:"Kalau aku lulus kuliah, Aku baGundul(kepala)", "Kalau  nilaiku A, aku Makan Soto Banjar", dll), demikian juga tidak Sah Nazar pada hal-hal yang Wajib; Makruh; apalagi pada perkara yang Haram.

Nazar ada 2 macam:

1. Nazar Muallaq/Bergantung, contohnya: "Apabila lulus Ujian, aku akan mentraktir kawan sekelasan(bersedekah)"
2. Nazar Munajjas/Muthlak/Secara Langsung/tanpa persyaratan,  Contohnya:" Aku Wajibkan atas diriku Sembahyang Tahajjud"

-Orang-orang Shaleh(Suluk perjalanan mendekatkan diri kepada Allah), mereka  banyak menazarkan perkara sunnah, agar mereka dapat membiasakan, tidak lemah, perhatian, disiplin, rajin untuk beribadah kepada Allah Swt., Seperti menazarkan untuk selalu shalat berjama'ah, shalat rawatib qabliyah&ba'diyah, puasa/shalat/sedakah sunnah lainnya...

Sumber : Pengajian ke 5  Kitab Taqrirat Sadidah  Al-Mukarram Guru K.H. Muhammad Bakhiet.A.M.

Semoga bermanfaat...Aamiin.
Share:

Kamis, 11 Februari 2021

PERUMPAMAAN KEHIDUPAN DUNIA

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

PERUMPAMAAN KEHIDUPAN DUNIA


وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا (45) الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا (46) 
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, ke­mudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering dan diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, teta­pi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pa­halanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harap­an.


Ayat 45 Surah Al-Kahfi memaparkan perumpamaan yang berlaku umum. Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw. memberi perumpamaan kepada manusia seluruhnya tentang masa wujud, daya tarik, dan keindahan kehidupan dunia, yakni bahwa dunia adalah serupa dengan air hujan yang Allah turunkan dari langit dan menyirami tumbuh-tumbuhan, lalu air itu bercampur dengan tanah yang mengandung benih tumbuh-tumbuhan yang berada dalam tanah sehingga benih itu tumbuh subur menghijau dan matang, lalu dengan amat cepat tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering kerontang, diterbangkan oleh angin. Demikian Allah Mahakuasa menghidupkan dan mematikan, menyuburkan tumbuhan dan melayukannya, dan demikian juga sifat dan kesudahan kenikmatan hidup duniawi. Memang Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ayat 46 menyebut dua dari hiasan dunia yang sering kali dibanggakan manusia dan mengantarnya lengah dan angkuh. Di sini dinyatakan bahwa: Harta, yakni segala sesuatu yang memiliki nilai material, baik uang, bangunan, binatang, sawah ladang, kendaraan, dan lain-lain, demikian juga anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Kesemuanya tidak abadi dan bisa memperdaya manusia, tetapi amalan-amalan yang kekal karena dilakukan demi karena Allah lagi saleh, yakni sesuai dengan tuntunan agama dan bermanfaat, adalah lebih baik di sisi Allah serta lebih dapat diandalkan untuk menjadi harapan. (M. Quraish Shihab, Al-Lubab: 299-300)
Share:

Jumat, 05 Februari 2021

PAKAIAN ATRIBUT KEAGAMAAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Padahal Penduduk Indonesia Mayoritas menganut agama Islam,  sedikit tertahan untuk menjalankan ajaran agama yang dianutnya

Kalau menjalankan syariat, seperti menutup aurat, diwajibkan oleh Agama. Termasuk amar ma'ruf bagi yang memerintahkannya. Jika misalkan membiarkan si anak  yang muslim membuka aurat(misalkan tanpa pakaian Islami yang menutup aurat) berarti membiarkan kemungkaran. Apa jadinya nanti kemungkaran dibiarkan secara struktur? 

 نعوذ بالله من ذلك

Kalau pendidikan tak boleh melarang dan tak boleh mewajibkan soal pakaian atribut keagamaan(berdasarkan keyakinan agamanya masing-masing), ini tak lagi mencerminkan pendidikan. Memang usia sekolah(sebenarnya termasuk orang dewasa) itu perlu dibiasakan bahkan dipaksa melakukan yang baik(مجاهدة النفس)dari perintah agama karena untuk pembiasaan karakter mulia. 
Sebagaimana konsep pendidikan Imam Al-Ghazali, dalam pendidikan diperlukan muzahadatunnafsi (مجاهدة النفس), kesungguhan dalam melatih diri. Setiap diri manusia perlu membiasakan sifat-sifat ataupun perbuatan-perbuatan terpuji, seperti menutup aurat, berpakaian sesuai anjuran agama. Walapun pada awal pembiasaan agak berat melakukan perbuatan kebaikan. Namun dengan kesungguhan hati, berjuang melawan hawa nafsu, akhirnya perbuatan baik itu menjadi jadi diri akhlak mulia.

Share:

Selasa, 02 Februari 2021

Mencintai saudara kita, sama seperti cinta pada diri sendiri

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Mencintai saudara kita,  Seperti Mencintai Diri Sendiri
 
عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, pembantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)



فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ (رواه مسلم)

"Barangsiapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya ketika ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dam hari akhir, dan hendaknya ia berperilaku kepada orang lain sebagaimana ia senang diperlakukan oleh orang lain.” 


Contoh: 
-Ketika dibeli sesuatu dia cerewet, batawar banar, namun begitu dia menjual(pedagang) mendapat keuntungan yang berlipat ganda.(Celaka, tidak mencintai saudaranya-Imannya lemah)
-Contoh lain: Menjual sepeda dengan keuntungan 100 ribu. Apakah kita senang seandainya dia yang membelinya? Jika tidak senang, berarti dia tidak mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

-Kitalah yang menjadi ukuran, bukan ukuran Si Pembeli (APAKAH SENANG ATAU TIDAK): Contoh: modal 10 ribu, dijual menjadi 100 ribu. Hal ini dipertimbangkan bagaimana seandainya dia yang membelinya 100 ribu, sedangkan dia tahu modalnya hanya 10 ribu. Senang atau tidak?
Share:

Sabtu, 30 Januari 2021

Fudhail bin Iyadh, Bekas Perampok yang Jadi Gurunya Imam Syafi'i

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Fudhail bin Iyadh Bertaubat karena mendengar Bacaan Al-Qur'an

Fudhail bin Iyadh adalah salah seorang guru Imam Syafi'i. Sebelum dikenal sebagai ulama besar pernah menjadi perampok. 

Di wilayah Khurasan (Asia Tengah), pada abad kedelapan hiduplah seorang perampok, Fudhail bin Iyadh. Sosok yang biasa melakukan kejahatan di rute antara Abu Warda dan Sirjis itu amat ditakuti. Jangankan bertemu muka. Siapapun pengelana jalur itu bila mendengar namanya disebut saja sudah merinding ketakutan.

Pada suatu malam ketika ia hendak mencuri di rumah seseorang, ia mendengar pemilik rumah sedang membaca Alquran. Ayat yang dibaca adalah surat Al-Hadid 16: 

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ.

Artinya, “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk menundukkan hatinya  mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.”


Mendengar bacaan ayat itu, Fudhail bin Iyadh terkesima, membekas di hatinya, dan hatiinya seakan luruh dan benar-benar tunduk pada peringatan Allah SWT. Dari lidahnya terlontar kata-kata yang berasal dari batinnya, ''Ya Allah, sudah tiba waktunya bagi kalbuku ini untuk tunduk dan bersimpuh di bawah ridha dan karunia-Mu.''  Akhirnya Fudail bin Iyadh  bertaubat dan menuntut ilmu, hingga menjadi Ulama besar di zaman itu.
Share:

Jumat, 29 Januari 2021

KH. Muhammad Muhsin (Ulama Kota Palangka Raya)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

KH. Muhammad Muhsin (Ulama Kota Palangka Raya)


KH. Muhammad Muhsin dilahirkan di Taniran Kandangan pada tanggal 9 september 1967. Beliau berasal dari keluarga yang latar belakangnya adalah alim ulama. Ayah beliau bernama KH. Jamaluddin.
KH. Muhammad Muhsin dibesarkan di lingkungan pendidikan agama dan  sangat kuat dan patuh dalam menjalankan syariat Allah SWT.
KH. Muhammad Muhsin dalam perjalanan beliau menuntut ilmu agama dimulai  sejak kecil berada pada asuhan orang tua sendiri. Sehingga orang tua beliau yang pertama kali mengajarkan agama kepada KH.Muhammad Muhsin secara langsung. 
Dalam menuntut ilmu beliau berguru pada KH. Zaini bin Abdul Ghani(Guru Sekumpul) dan beliau juga melanjutkan sekolahnya di pondok pesantren terkenal di Kalimantan Selatan yaitu  Pondok Pesantren Darussalam Martapura Kabupaten Banjar. Guru Muhsin berhijarah di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah sejak tahun 1994.
Awal mulanya beliau berhijrah di Kota Palangka Raya yaitu, sebagai Ta'mir/kaum Masjid Sabilal Muhtadin selama lima tahun dan KH. Muhammad Muhsin juga orang pertama yang menjadi kaum Masjid Sabilal muhtadin. Disitu juga KH. Muhammad Muhsin ikut membantu memeriahkan masjid dengan cara membawa anak-anak dan remaja disekitar Masjid untuk sama-sama belajar seni habsy, dan juga mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak atau remaja Masjid Sabilal Muhtadin. 
KH. Muhammad Muhsin mulai dakwahnya di Kota Palangka Raya sejak tahun 1995, sejak itu masyarakat disekitar Kota Palangka Raya mulai  mengundang beliau untuk mengisi acara-acara keagamaan seperti acara Maulid Nabi, Isra’ mi'raz, Nuzulul Qur’an dan acara-acara keagamaan lainnya. Dengan berjalannya waktu beliau mendapatkan banyak usulan dari masyarakat Kota Palangka Raya lebih-lebih masyarakat di sekitar Masjid Sabilal Muhtadin untuk membangun sebuah majelis ilmu yaitu majelis taklim, nama majelis taklim yang ditetapkan adalah Majelis Ta'lim Ar-Raudhah, usulan tersebut bisa direalisasikan pada tahun 2005 namun kendalanya adalah terkait dengan dana sehingga majelis taklim Ar-Raudah yang dirintis belum bisa berjalan dengan baik, sehingga di tahun 2006 Majelis Taklim Ar-Raudhah tersebut bisa berjalan dengan baik. Beliau wafat , 18 Januari 2021, 5 Jumadil Akhir 1442 H. Pukul 14.40 WIB dan dimakamkan di Kubah Taniran Kandangan Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Tengah.
                                 
Share:

Sabtu, 23 Januari 2021

Kategori orang yang mampu berhaji

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Kategori orang yang mampu berhaji (wajib):

Seseorang memiliki rumah(ataupun harta lainnya, seperti mobil, tanah, barang jualan, dan kebun), seandainya rumah/harta itu dijual, maka dia punya biaya dan mampu melaksanakan kewajiban haji. Walaupun ketika ia pulang, tidak memiliki rumah/menyewa. 

Tidak termasuk harta untuk dia  berusaha seperti memiliki toko. Karena Toko untuk berusaha diwajibkan dalam agama untuk nafkah keluarga, sedangkan memiliki rumah tidak diwajibkan.
  
Menurut Ulama :

لو تعارض الحج و شراء المسكن، قال الشيخ أبو حميد من أئمة  الشافعية يصرفه للحج

Kalau punya uang, namun hanya cukup beli rumah saja atau berhaji saja. Sehingga terjadi delimatis, antara berangkat melaksanakan Haji atau Beli Rumah, menurut Abu Hamid Ulama Syafi'iiyah :"Gunakanlah uang itu untuk berhaji"

Begitu juga punya Rumah, jika dijual rumah itu,  maka dengan uang hasil penjualannya  ia bisa melaksanakan Haji. Maka dia wajib menjual Rumah itu untuk Naik Haji. Demikian juga delimatis antara memilih kawin atau Naik Haji, maka pilihlah Berhaji.

Orang yang sebenarnya mampu melaksanakan Haji, namun ia enggan melaksanakannya, maka dia diancam oleh Allah Swt dengan Mati Su'ul Khatimah(dicabut Iman)/mati Yahudi atau Nasrani(Berpotensi akan keluar dari Islam).

Rasulullah sendiri memandang haji sebagai ibadah mulia yang sangat penting. Rasulullah dalam sebuah hadits mempersilakan umatnya yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji tetapi tidak melaksanakannya untuk mati sebagai non-Muslim.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا)


Artinya, “Rasulullah SAW bersabda:"Siapa saja yang memiliki bekal dan kendaraan yang dapat mengantarkannya ke Baitullah dan ia tidak juga berhaji, maka ia boleh pilih mati sebagai Yahudi atau Nasrani. Allah berfirman dalam Al-Quran, ‘Kewajiban manusia dari Allah adalah mengunjungi Ka’bah bagi mereka yang mampu menempuh perjalanan,’’” (HR A-Tirmidzi dan Al-Baihaqi).

هذا الحديث رواه الترمذي (812) ، والبزار (861) ، والطبري في "تفسيره" (6/ 41) ، وابن أبي حاتم في "تفسيره" (3/713) ، والبيهقي في "الشعب" (3692) من طريق هِلَال بْن عَبْدِ اللَّهِ ، مَوْلَى رَبِيعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ البَاهِلِيِّ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الهَمْدَانِيُّ ، عَنْ الحَارِثِ، عَنْ عَلِيٍّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ يَحُجَّ ، فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ : (وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا) .


Besarnya Pahala Haji Mabrur(Haji yang diterima Allah Swt):

"Haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali syurga dan dia seperti terlahir dari perut ibunya bersih tanpa dosa" Do'anya dikabulkan selama 40 hari sejak datang dari tanah suci.

Syarat untuk memperoleh Haji yang mabrur diperlukan:

1. Niat yang ikhlas (tanpa campuran lain, seperti sambil berdagang, menjenguk keluarga, agar dipandang orang lain);
2. Dana haji dari harta yang halal;
3. Melaksanakan tata cara haji dengan benar.

Syarat wajib haji ada lima macam, yaitu: Islam, balig, berakal, dan mampu. Mampu tidak hanya segi biaya tapi mencakup keamanan dan kesehatan, sehingga ia bisa menunaikan haji dengan sebaik-baiknya.


والله أعلم
Share:

BIMBINGAN AMALAN RUTIN MEMBACA AL-QUR'AN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN WIRID BACA AL-QUR'AN

Hendaklah seseorang yang ingin dicintai dan dikasihi oleh Allah Swt. memperbanyak membaca Al-Qur'an, merenungi maknanya, dan membacanya dengan tartil serta membesarkan kalam Allah Swt.

A. Amalan harian 7 Surah yang menyelamatkan(السبع المنجيات) yang dibaca tiap malam:

1. Alif Lam Mim As-Sajadah

Siapa yang mengamalkan membaca tiap malam "Surah Alif Lam Min As-Sajadah", maka  dia mendapatkan  : 1. Ilmu yang Yakin; 2. Diberikan kekuatan Islam, Iman, dan Tauhid.

2. Yasin
3. Ad Dhukhan
4. Al-Waqiah
5. Al-Mulk
6. Al-Insan
7. Al-Buruj

Jika tidak bisa baca semuanya, ambil lima surah:

1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Yasin
3. Ad Dhukhan
4. Waqiah
5. Al-Mulk

Atau ambil empat surah:

1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Yasin
3. Al-Waqiah
4. Al-Mulk

Tidak mampu juga, ambil tiga surah:
1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Yasin
3. Al-Mulk

Atau tidak mampu juga, ambilah dua surah:
1. Alif Lam Mim As-Sajadah
2. Al-Mulk

Terakhir paling minimal membaca tiap malam surah :
1. Al-Mulk

Kalau mampu mengamalkan tujuh surah, maka bacalah semua surah itu.  Atau ia hanya bisa membaca ketujuh surah itu secara rutin pada setiap malam Jum'at dan tidak  mengapa untuk di malam lainnya, ia hanya membaca empat surah. Yang penting adalah mengamalkan surah tersebut secara rutin. 
Seperti perkataan para Aulia Allah Swt:

"ما وصلنا إلا ما وصلنا بكثرة الأوراد، ولكن بمداومتها"
"Tidaklah kami sampai-kepada derajat/kedudukan yang kami telah sampai kepada derajat itu- dengan memperbanyak Wirid(amalan rutin), tetapi dengan mengekalkannya". 
Sedikit saja amalan, tapi kekal-rutin Istiqamah-, sehingga mengantarkan mereka pada derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

B. Bacalah Al-Qur'an tiap hari secara tertib(batarus) dari Surah Al-Fatihah hingga Surah An Naas. 

Kita bisa menargetkan sekali khatam keseluruhan Al-Qur'an per tiga bulan. Atau ia jika tidak mampu khatam dalam tiga bulan bisa saja enam bulan atau paling minimal satu kali  dalam setahun untuk mengkhatamkannya. Semakin banyak khatam dalam setahun, maka akan semakin bagus. 
Kemudian bacalah Al-Qur'an  sambil merenungkan maknanya dan menjalankan adab-adabnya.

C. Adab bathin dalam membaca Al-Qur'an:

1. Hadir Hati(حضور القلب)/khusu' dia sedang baca Al-Qur'an. Apa yang di mulut begitu juga di hati.
2. Memahami kandungan maknanya(التفهم), walaupun sambil membaca terjemah Al-Qur'an atau bisa juga langsung paham dengan penguasaan Bahasa Arab(bagi orang yang berilmu);
3. Perasaan membesarkan/Ta'dzim Ayat Al-Qur'an yang dibaca(التعظيم), rasa mengagungkan terhadap kalam Allah Swt. Sebagiamana dapat dianalogikan-yang tentunya berbeda-, ketika seseorang membaca al-Qur'an dibanding dengan dengan membaca Surat Kabar;
4. Khauf(الخوف)/perasaan takut pada Allah Swt di saat membaca Ayat Al-Qur'an yang bercerita tentang siksa, kesengsaraan, ancaman, dan keburukan;
5. Berharap(الرجاء) kepada Allah Swt, yaitu mengharap termasuk golongan orang-orang yang diceritakan Allah Swt. dalam Ayat yang bercerita tentang rahmat, kasih sayang, nikmatbakherat, dan syurga; 
Sebagai contoh: ketika membaca ayat yang paling nikmat dalam Surah Al-Fatihah: (الرحمن الرحيم), tentu hati kita berbunga-bunga, hati merasa senang karena Allah maha pengasih dan maha penyayang. Kemudian kembali rasa takut ketika membaca (مالك يوم الدين), Raja pada hari kiamat. dst.
6. Niat menjunjung/akan melaksanakan perintah (نية الامتثال)Allah Swt. dari Ayat yang sifatnya memerintahkan; dan
7. Niat akan menjauhi larangan Allah Swt(نية الاجتناب) jika yang dibaca itu adalah ayat yang sifatnya melarang. 

Walaupun hanya membaca beberapa ayat, namun dilakukannya dengan adab/cara demikian, maka pahalanya lebih besar dari pada membaca Al-Qur'an keseluruhan yang tanpa mengetahui maknanya. Kita akan mendapatkan pahala yang tidak terhingga.

Membaca Al-Qur'an tiap satu huruf adalah 10 pahala, bagi orang yang membaca Al-Qur'an tidak tahu apa-apa, tidak paham apa yang dibaca, tidak paham maknanya. Bisa dilipatgandakan sampai 700 hingga tak terhingga. 
Adapun kebaikan orang yang membaca Al-Qur'an beserta dengan adab batin tersebut, maka pahala tiap satu huruf Al-Quran tidak ada yang tahu bilangan berlipat gandanya pahala itu, kecuali Allah Swt(Tidak 10 atau 700 lagi).
Membaca al-Qur'an satu ayat dengan paham maknanya beserta melaksanakan adab dhahir dan bathinnya, maka pahalanya lebih besar dari pada membaca Al-Qur'an satu khatam(berlalu tanpa mengetahui maknanya dan adab sempurna). Seperti perbandingan seseorang yang memiliki uang cuma 10 lembar saja tetapi seratus ribuan, dengan orang  punya uang satu kabat(satu ikat)yang hanya ribuan saja.

Janganlah membaca Al-Qur'an seperti orang-orang yang lalai. Mereka membaca Al-Qur'an dengan lisan yang fasih dan nyaring, sementara hatinya kosong dari mengagungkan Allah Swt dan khusu'(adab-adab bathin). Mereka tidak mengetahui maknanya serta tidak paham. Jika mereka mengerti maknanya tentu mereka mengamalkan, karena Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat. Sebaliknya apabila ia mengetahui  dan tidak mengamalkannya, maka tidak ada perpedaan antara orang Jahil dan orang berilmu(mengetahui) itu perpedaan, melainkan bahwa hujjah Allah Swt. lebih kuat(lebih berat) atas orang alim yang tidak mengamalkan ilmunya itu. Dalam hal ini, tentu orang jahil lebih baik keadaan dari orang tersebut. Dapat dikatakan :
"كل علم لا يعود عليك نفعه، فالجهل أعود عليك منه"
"Tiap-tiap ilmu yang tidak kembali manfaatnya kepadamu, maka kejahilan lebih berguna bagimu dari pada ilmu itu"

والله أعلم

Sumber:  Risalah adab sulukil murid, h. 23.
Share:

Selasa, 19 Januari 2021

WASPADA: MERASA UMUR MASIH PANJANG

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

WASPADA MERASA UMUR MASIH PANJANG

Sifat terpuji: Merasa Hidup tidak akan lama lagi(قصر الأمل), Umur di dunia sangat pendek, Usia tidak diketahui, Bisa Saja kapanpun Allah Swt bisa memanggilnya, mencabut nyawanya . Sehingga ia bisa Istiqamah dalam kebaikan dan rutin dalam beramal ibadah.

Sifat Tercela: Merasa hidup masih panjang(طول الأمل), Hidup masih lama jauh dari kematian, masih lambat meninggal dunia, umur masih panjang 2/3/5/10/15  tahun lagi atau bahkan lebih panjang lagi umurnya. Hal ini mengakibatkannya tidak bisa rutin dalam beribadah,  tidak bisa istiqamah dalam kebaikan, tidak bisa meninggalkan dan mengendalikan syahwat dunia , tidak bisa lurus menuju jalan akhirat,dan merasa berat dalam melakukan kebaikan. (Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah adab suluk murid, 34-35)

Share:

Minggu, 17 Januari 2021

Ma'rifat Adalah Sesuatu yang paling Berharga

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

MA'RIFAT KEPADA ALLAH SWT ADALAH PALING BERHARGA

Ma'rifah kepada Allah seperti mutiara yang mahal, tidak akan diberikan kepada sembarang orang, kecuali kepada orang mampu menjaganya. 
Seperti pula ma'rifat itu minuman lezat yang tentu tidak akan dituangkan kecangkir yang masih kotor/bau tidak enak, kecuali dibersihkan terlebih dahulu.

Demikianlah  ma'rifat kepada Allah Swt, tidak bisa dicapainya dengan Ilmu. Setinggi apapun ilmu kita pelajari, tidak akan membuahkan hasil ma'rifat, tanpa diiringi dengan pembersihan diri/hati dari hal-hal yang dianggap Allah Swt marusak ma'rifah itu sendiri.

Allah Swt. tidak akan menaruh ma'rifat kepada hati orang yang tidak punya akhlak, hati orang yang kotor, hati org yang masih suka dendam, iri dengki yang sangat jauh dari ma'rifat kepada-Nya.

Catatan: Abdullah Jejangkit
Share:

Nabi Sang Pemilik Sifat Kesetiaan

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

محمد صلى الله عليه وسلم *صاحب الوفاء*
Nabi Muhammad Saw adalah *Shahibul Wafa= Orang yang punya sifat Kesetiaan* artinya: *Beliau Mencintai seseorang beserta mencintai segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang beliau cintai itu*
Sebagai contoh adalah Nabi Muhammad Saw. mencintai Istrinya Siti Khadijah Ra. beserta mencintai apa yang dicintai Siti Khadijah Ra, sehingga walaupun Siti Khadijah telah meninggal dunia, beliau tetap ingat dan berbuat baik terhadap orang-orang yang dicintai oleh Siti Khadijah. Begitu juga jika kita mencintai orangtua, walaupun mereka telah meninggal dunia, semestinya kita mencintai sahabat maupun orang-orang yang mereka cintai di diwaktu masih hidup.
Share:

Minggu, 03 Januari 2021

Wasiat Nabi Khidir As. kepada Nabi Musa As. tatkala mereka akan berpisah

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Wasiat Nabi Khidir kepada Nabi Musa As. tatkala berpisah:


*لا تطلب العلم لتحدث به، واطلبه لتعمل به*
Janganlah kamu mencari Ilmu, karena untuk membicarakannya
(berpidato/ceramah). Tuntutlah ilmu itu karena untuk mengamalkannya.

Wasiat Nabi Khidir As lainnya kepada  Nabi Musa As.:
1. Jadilah engkau manis muka, janganlah sering tertawa (pananawa);
2. Janganlah suka bercanda(bagayaan);
3. Janganlah berjalan pada sesuatu yang tidak perlu; dan
4.Janganlah terlalu menyalahkan orang yang telah bersalah, tapi tangisilah atas kesalahan dirimu.

Nama Nabi Khidir As. adalah Abul Abbas, Balya  Bin Malkan, Khidir As. Beliau merupakan keturunan Nabi Nuh As. Ayahnya adalah Raja-raja yang Zuhud.

مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 659)
روي أن موسى عليه السلام لما أراد أن يفارق الخضر قال له: أوصني، قال: لا تطلب العلم لتحدث به، واطلبه لتعمل به. وقيل: إن الخضر لما أراد أن يفارق موسى قال له موسى:
أوصيني، قال: كن بساما ولا تكن ضحاكا، ودع اللجاجة ولا تمش في غير حاجة، ولا تعب على الخطائين خطاياهم، وابك على خطيئتك با ابن عمران

فَوَجَدا عَبْداً مِنْ عِبادِنا وهو الخضر واسمه: بليا بن ملكان، وكنيته أبو العباس وهو من نسل نوح، وكان أبوه من الملوك الذين تزهدوا وتركوا الدنيا.
مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد (1/ 655)

Lihat Sumber: Tafsir Marah Labid, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Surah Al-Kahfi : 82
Share:

Kamis, 31 Desember 2020

JALAN CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN PALING CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT. 

Bersungguh-sungguhlah menjaga hati:

1. Menjaga hati dari was-was, seperti keragu-keraguan masalah rezeki, seperti keraguan di hati "kalau aku tidak berangkat bekerja, bisa tidak dapat duit, "kalau aku tidak berusaha bagaimana nanti aku makan dan manafkahi anak dan Istriku". Yakinlah di hati: "Besok nanti seandainya aku, anak dan Istriku ada umur, rezeki itu pasti ada, karena Allah Swt yang menentukan, memberi rezeki pada hamba-Nya, dengan cara dan jalan yang dikehendaki-Nya, Allah Swt juga yang menyampaikan kepadaku". 
Lebih parah lagi jika seseorang mengkwatirkan masalah rezeki orang lain, seperti anak dan cucunya. 

"ما قدر الله لك يصل إليك بسبب أوجده لك، وما لايقدرلك لايصل إليك"

"Sesuatu yang Allah Swt tentukan(seperti rezeki) untukmu, pasti sampai kepadamu dengan sebab yang Allah Swt.  ciptakannya untukmu. Adapun sesuatu yang tidak ditaqdirkan untukmu, tidak akan sampai kepadamu"

Yakinlah, rezeki kita sudah dijamin Allah Swt. Rejeki yang dijamin (الرزق المضمون) adalah Allah Swt. tidak menjamin punya rumah, kendaraan, toko, kebun, dan lainnya. Yang dijamin adalah kita pasti hidup berdasarkan umur yang ditetapkan, dijamin rezeki untuk bisa tegak beribadah kepada-Nya, baik melalui bekerja atau tidak, diam dimana saja, di hutan, pasar, kamar, dan tempat lainnya" 
Allah Swt. pasti memberikan kekuatan pada kita, kemampuan tegaknya tubuh hingga bisa beribadah. Sedikitpun kita tidak boleh ragu-ragu, tidak boleh bergolak, bergoncang di dalam hati terkait rezeki (yang dijamin)ini. (lihat: Al-Ghazali, Minhajul A'bidin, h. 64)

Keraguan masalah ini bisa membawa mati tidak membawa Iman.

2. Menjaga hati dari penyakit hati, seperti Iri, dengki, sombong, ujub, ria, tidak enak melihat orang lain bahagia/beruntung, dll.
3. Menjaga hati dari geritik hati yang jahat, seperti sangka buruk dengan Tuhan, atau sangka buruk dengan manusia-walau tidak tertentu orangnya. Misalnya: Seseorang sedang sakit dan  berobat sudah kemana-mana, namun tidak sembuh-sembuh sehingga muncul geritik hati "Aku bisa diperbuat orang, diparang maya orang, kenapa berobat tidak mau sembuh"(buruk sangka pada makhluk Allah Swt.); "Dulunya tokonya sangat laku dan banyak pelanggan, namun sekarang tidak laku lagi" kemudianvmuncul geritik hatinya: "Aku ini bisa diletakkan orang pembenci di toko ini,  dulunya rame berjualan, sekarang sepi sekali" atau "Aku ini boleh jadi diperbuat orang"

Semua itu harus  awasi dengan "muraqabah", seperti anda katakan :"Mungkin rezekiku berkurang di sini",  Jika belum berobat belum sembuh, janganlah anda berkesimpulan buruk sangka pada orang lain, tapi dimungkinkan obatnya belum pas, sehingga belum sembuh sakitnya" 

Janganlah buruk sangka pada makhluk Allah Swt, perkara ini tidak boleh, Allah  Swt. lah yang memperbuat semuanya. Manusia tidak memiliki daya upaya.

4. Pengawasan langsung "muraqabah" di hati, agar jangan sampai masuk sesuatu dari was-was, penyakit hati geritik jahat tersebut di atas. 
Karena jika sudah masuk was-was, penyakit hati, geritik jahat di atas-walaupun sebentar-maka jika sudah tertanam di hati akan sulit mengeluarkannya/membersihkannya, hingga dapat merusak hati.  Pikirannya  bisa berkembang berbagai macam sangka buruk dan penyakit hati. Dinasehati  tidak mempan dan keras kepala, karena sudah tertanam di hati.

Seperti di hatinya berkata:"Siapa yang memperbuat aku ini? Bisa si pulan..., karena diundang tidak mau datang."(sangka buruk)
Tindaklah  segera dengan "muraqabah": Allahlah yang mengatur segalanya, manusia tidak berdaya upaya. 
Beberapa penyakit hati di atas adalah seperti suatu penyakit yang apabila ada gejala, segeralah diobati. Karena penyakit yang apabila sudah parah, maka akan sulit disembuhkan.

Bersungguh-sungguhlah membersihkan Hati, karena hati merupakan tempat pandangan Allah Swt. Oleh karena itu lakukanlah hal berikut.

1. Hindarilah cenderung kepada keinginan-keinginan dunia, yaitu keinginan-keinginan yang melalaikan kepada Allah Swt., sesuatu yang dapat merusak hati dan merusak agama, melengahkan, merepotkan dan lupa pada Allah Swt., tidak karuan dalam shalat/ibadah(seperti lupa rakaat, terlambat shalat, tidak khusu', contohnya adalah sahabat nabi mewaqafkan kebunnya kepada kaum muslimin, karena kebun itu melalaikannya tatkala shalat, terlambat/mengganggu dalam beribadah, seperti tegesa-gesa dalam shalat, membuat lengah pada ketaatan Allah swt. Demikian juga sesuatu yang membuat sengketa, permasalahan, dan ma'siat. 
Carilah dan inginilah  sesuatu hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Sungguh-sungguhlah membersihkan hati dari sifat dendam. Yaitu menyimpan kemarahan, yang biasanya dikarenakan ada orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, menganiayanya, namun dia belum kesampaian untuk membalasnya. Mestinya akhlak mulia dianjurkan untuk memaafkan terhadap orang yang menyakiti dan mengganggunya itu , karena:
المؤمن ليس بحقود
"Orang mu'min bukanlah pendendam"

3. Khianat, yaitu dalam hati ada niatan tidak baik terhadap orang lain.  Diriwayatkan ada sahabat yang dikatakan nabi saw: akan datang ahli syurga(datanglah seorang laki-laki ikut majelis nabi , 3 kali berturut-turut itu saja orangnya). Abdullah bin Amr meneliti orang tersebut dan bermalam dirumahnya hingga tiga hari. Ternyata dia tidak banyak shalat dan ibadah. Orang tersebut memberitahukan amalannya satu hal yang pokok, yaitu: "Aku ini tidak ada di hati berniat jahat pada orang lain", yaitu tidak ada berkeinginan pada orang lain  terjadi keburukan, seperti kalah, rugi, celaka, jadi malu, dapat sengsara, dan keburukan lainnya.  Aku berhendak baik terhadap kaum muslimin, seperti: menginginkan mereka beruntung, mendapat kebaikan, menang, ahli ibadah" 
4. Menipu terhadap kaum muslimin; Sangka buruk terhadap sesama muslimin; hendaknya bermaksud baik; kasih sayang terhadap mereka; ber'itiqad baik terhadap mereka(lawan dari buruk sangka) misalnya kita berkeyakinan bahwa si Pulan itu baik(padahal orang itu jelek di sisi Allah Swt). Walaupun sangka baiknya itu keliru, tetaplah ia berpahala. Namun jika kita buruk sangka-walaupun benar yang disangkakannya itu(misal si Pulan itu maling)- tetaplah dia berdosa, bahkan lebih besar lagi dosanya jika sangkanya itu tidak benar.

5. Mencintai saudaranya muslimin seperti mencintai dirinya sendiri dari kebaikan, yaitu menginginkan kaum muslimin mendapat kebaikan sebagaimana dia dapat kebaikan, seperti: dapat rezeki, dapat ilmu, dan kebaikan lainnya. Dan dia benci/tidak suka bagi saudaranya muslimin tertimpa sesuatu yang dia tidak suka dari kejahatan/keburukan. Seperti: Tatkala dirinya tertimpa musibah(suatu keburukan), dia berharap agar musibah itu tidak ditimpakan terhadap saudaranya muslimin. Demikan juga jika terkena tipu, dibodohi, rugi. Ia berharap hal itu tidak ditimpakan kepada saudaranya muslimin. 
Hal sangat tercela adalah berkeinginan supaya orang lain tertimpa keburukan, seperti: celaka, rugi, bangkrut dan lainnya.

Nilai memperbaiki hati dengan sifat-sifat terpuji ini sangat tinggi nilai pahala dan kedudukannya di sisi Allah Swt. dibandingkan ibadah Dzahir anggota tubuh seperti baca Al-Qur'an, Shalat,  puasa. Ibadah Dzahir akan lenyap pahalanya, jika hatinya punya suatu penyakit, seperti sangka buruk, dendam, ria, ujub, kejam, bengis, karena sifat buruk ini akan menghapus dan menggugurkan pahala amal ibadahnya.

Sumber: Imam Abdullah  Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 12.

والله أعلم
Share:
Copyright © Web Kuliah Abdullah | Powered by Blogger | Design by ronangelo Theme Editor: Abdullah Jejangkit | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com