Website Kuliah: Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Kamis, 31 Desember 2020

JALAN CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

AMALAN PALING CEPAT UNTUK MENJADI KEKASIH ALLAH SWT. 

Bersungguh-sungguhlah menjaga hati:

1. Menjaga hati dari was-was, seperti keragu-keraguan masalah rezeki, seperti keraguan di hati "kalau aku tidak berangkat bekerja, bisa tidak dapat duit, "kalau aku tidak berusaha bagaimana nanti aku makan dan manafkahi anak dan Istriku". Yakinlah di hati: "Besok nanti seandainya aku, anak dan Istriku ada umur, rezeki itu pasti ada, karena Allah Swt yang menentukan, memberi rezeki pada hamba-Nya, dengan cara dan jalan yang dikehendaki-Nya, Allah Swt juga yang menyampaikan kepadaku". 
Lebih parah lagi jika seseorang mengkwatirkan masalah rezeki orang lain, seperti anak dan cucunya. 

"ما قدر الله لك يصل إليك بسبب أوجده لك، وما لايقدرلك لايصل إليك"

"Sesuatu yang Allah Swt tentukan(seperti rezeki) untukmu, pasti sampai kepadamu dengan sebab yang Allah Swt.  ciptakannya untukmu. Adapun sesuatu yang tidak ditaqdirkan untukmu, tidak akan sampai kepadamu"

Yakinlah, rezeki kita sudah dijamin Allah Swt. Rejeki yang dijamin (الرزق المضمون) adalah Allah Swt. tidak menjamin punya rumah, kendaraan, toko, kebun, dan lainnya. Yang dijamin adalah kita pasti hidup berdasarkan umur yang ditetapkan, dijamin rezeki untuk bisa tegak beribadah kepada-Nya, baik melalui bekerja atau tidak, diam dimana saja, di hutan, pasar, kamar, dan tempat lainnya" 
Allah Swt. pasti memberikan kekuatan pada kita, kemampuan tegaknya tubuh hingga bisa beribadah. Sedikitpun kita tidak boleh ragu-ragu, tidak boleh bergolak, bergoncang di dalam hati terkait rezeki (yang dijamin)ini. (lihat: Al-Ghazali, Minhajul A'bidin, h. 64)

Keraguan masalah ini bisa membawa mati tidak membawa Iman.

2. Menjaga hati dari penyakit hati, seperti Iri, dengki, sombong, ujub, ria, tidak enak melihat orang lain bahagia/beruntung, dll.
3. Menjaga hati dari geritik hati yang jahat, seperti sangka buruk dengan Tuhan, atau sangka buruk dengan manusia-walau tidak tertentu orangnya. Misalnya: Seseorang sedang sakit dan  berobat sudah kemana-mana, namun tidak sembuh-sembuh sehingga muncul geritik hati "Aku bisa diperbuat orang, diparang maya orang, kenapa berobat tidak mau sembuh"(buruk sangka pada makhluk Allah Swt.); "Dulunya tokonya sangat laku dan banyak pelanggan, namun sekarang tidak laku lagi" kemudianvmuncul geritik hatinya: "Aku ini bisa diletakkan orang pembenci di toko ini,  dulunya rame berjualan, sekarang sepi sekali" atau "Aku ini boleh jadi diperbuat orang"

Semua itu harus  awasi dengan "muraqabah", seperti anda katakan :"Mungkin rezekiku berkurang di sini",  Jika belum berobat belum sembuh, janganlah anda berkesimpulan buruk sangka pada orang lain, tapi dimungkinkan obatnya belum pas, sehingga belum sembuh sakitnya" 

Janganlah buruk sangka pada makhluk Allah Swt, perkara ini tidak boleh, Allah  Swt. lah yang memperbuat semuanya. Manusia tidak memiliki daya upaya.

4. Pengawasan langsung "muraqabah" di hati, agar jangan sampai masuk sesuatu dari was-was, penyakit hati geritik jahat tersebut di atas. 
Karena jika sudah masuk was-was, penyakit hati, geritik jahat di atas-walaupun sebentar-maka jika sudah tertanam di hati akan sulit mengeluarkannya/membersihkannya, hingga dapat merusak hati.  Pikirannya  bisa berkembang berbagai macam sangka buruk dan penyakit hati. Dinasehati  tidak mempan dan keras kepala, karena sudah tertanam di hati.

Seperti di hatinya berkata:"Siapa yang memperbuat aku ini? Bisa si pulan..., karena diundang tidak mau datang."(sangka buruk)
Tindaklah  segera dengan "muraqabah": Allahlah yang mengatur segalanya, manusia tidak berdaya upaya. 
Beberapa penyakit hati di atas adalah seperti suatu penyakit yang apabila ada gejala, segeralah diobati. Karena penyakit yang apabila sudah parah, maka akan sulit disembuhkan.

Bersungguh-sungguhlah membersihkan Hati, karena hati merupakan tempat pandangan Allah Swt. Oleh karena itu lakukanlah hal berikut.

1. Hindarilah cenderung kepada keinginan-keinginan dunia, yaitu keinginan-keinginan yang melalaikan kepada Allah Swt., sesuatu yang dapat merusak hati dan merusak agama, melengahkan, merepotkan dan lupa pada Allah Swt., tidak karuan dalam shalat/ibadah(seperti lupa rakaat, terlambat shalat, tidak khusu', contohnya adalah sahabat nabi mewaqafkan kebunnya kepada kaum muslimin, karena kebun itu melalaikannya tatkala shalat, terlambat/mengganggu dalam beribadah, seperti tegesa-gesa dalam shalat, membuat lengah pada ketaatan Allah swt. Demikian juga sesuatu yang membuat sengketa, permasalahan, dan ma'siat. 
Carilah dan inginilah  sesuatu hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Sungguh-sungguhlah membersihkan hati dari sifat dendam. Yaitu menyimpan kemarahan, yang biasanya dikarenakan ada orang yang pernah menyakiti, mengecewakan, menganiayanya, namun dia belum kesampaian untuk membalasnya. Mestinya akhlak mulia dianjurkan untuk memaafkan terhadap orang yang menyakiti dan mengganggunya itu , karena:
المؤمن ليس بحقود
"Orang mu'min bukanlah pendendam"

3. Khianat, yaitu dalam hati ada niatan tidak baik terhadap orang lain.  Diriwayatkan ada sahabat yang dikatakan nabi saw: akan datang ahli syurga(datanglah seorang laki-laki ikut majelis nabi , 3 kali berturut-turut itu saja orangnya). Abdullah bin Amr meneliti orang tersebut dan bermalam dirumahnya hingga tiga hari. Ternyata dia tidak banyak shalat dan ibadah. Orang tersebut memberitahukan amalannya satu hal yang pokok, yaitu: "Aku ini tidak ada di hati berniat jahat pada orang lain", yaitu tidak ada berkeinginan pada orang lain  terjadi keburukan, seperti kalah, rugi, celaka, jadi malu, dapat sengsara, dan keburukan lainnya.  Aku berhendak baik terhadap kaum muslimin, seperti: menginginkan mereka beruntung, mendapat kebaikan, menang, ahli ibadah" 
4. Menipu terhadap kaum muslimin; Sangka buruk terhadap sesama muslimin; hendaknya bermaksud baik; kasih sayang terhadap mereka; ber'itiqad baik terhadap mereka(lawan dari buruk sangka) misalnya kita berkeyakinan bahwa si Pulan itu baik(padahal orang itu jelek di sisi Allah Swt). Walaupun sangka baiknya itu keliru, tetaplah ia berpahala. Namun jika kita buruk sangka-walaupun benar yang disangkakannya itu(misal si Pulan itu maling)- tetaplah dia berdosa, bahkan lebih besar lagi dosanya jika sangkanya itu tidak benar.

5. Mencintai saudaranya muslimin seperti mencintai dirinya sendiri dari kebaikan, yaitu menginginkan kaum muslimin mendapat kebaikan sebagaimana dia dapat kebaikan, seperti: dapat rezeki, dapat ilmu, dan kebaikan lainnya. Dan dia benci/tidak suka bagi saudaranya muslimin tertimpa sesuatu yang dia tidak suka dari kejahatan/keburukan. Seperti: Tatkala dirinya tertimpa musibah(suatu keburukan), dia berharap agar musibah itu tidak ditimpakan terhadap saudaranya muslimin. Demikan juga jika terkena tipu, dibodohi, rugi. Ia berharap hal itu tidak ditimpakan kepada saudaranya muslimin. 
Hal sangat tercela adalah berkeinginan supaya orang lain tertimpa keburukan, seperti: celaka, rugi, bangkrut dan lainnya.

Nilai memperbaiki hati dengan sifat-sifat terpuji ini sangat tinggi nilai pahala dan kedudukannya di sisi Allah Swt. dibandingkan ibadah Dzahir anggota tubuh seperti baca Al-Qur'an, Shalat,  puasa. Ibadah Dzahir akan lenyap pahalanya, jika hatinya punya suatu penyakit, seperti sangka buruk, dendam, ria, ujub, kejam, bengis, karena sifat buruk ini akan menghapus dan menggugurkan pahala amal ibadahnya.

Sumber: Imam Abdullah  Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 12.

والله أعلم
Share:

Rabu, 30 Desember 2020

Umur sudah tua: Tetapi tidak ada muncul Dorongan Yang Kuat di Hati untuk lebih mendekat Kepada Allah Swt.

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Awal Pertama Mendapat Hidayah Allah Swt.

Seseorang hamba mendapatkan *dorongan yang kuat* yang dilontarkan ke hati hambaNya. Sehingga mengejutkan, menggoncangkan, dan mendorongnya untuk mendekat dan beribadah kepada Allah Swt. dan berpaling dari dunia, menjauh dari orang-orang yang disibukkan keduniaan dan kesenangannya serta menumpuk harta, dan jauh dari terpedaya dari dunia.

Berapa banyak orang umurnya sudah mencapai  60-80 an bahkan lebih, akan tetapi tidak ada muncul "dorongan yang kuat" untuk lebih dekat dengan Allah Swt.

Imam Abdullah Al-Haddad, Risalah Adab Suluk Murid, h. 7.

Share:

Selasa, 29 Desember 2020

ILMU PENANGKAL BUJUKAN SYAITAN

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Ilmu untuk melawan berbagai macam bujukan Syaitan.

Melawan syaitan perlu ilmu. Jika tidak berilmu, maka ia mudah tergoda, terbujuk dengan rayuan syaitan yang menyesatkan. Syaitan menjerumuskan manusia agar tidak taat kepada Allah Swt dan meninggalkan Ibadah(kebaikan).

Sejatinya setiap manusia itu ditempeli setan dari bangsa jin. Setan inilah yang membisikkan hawa jahat dan kemaksiatan kepada yang bersangkutan dan kerap disebut dengan qarin.   

Keberadaan qarin yang mengganggu manusia tersebut dengan pengecualian Rasulullah Saw. Tak ada satupun setan yang mampu mengganggu Rasul. Bahkan, dalam banyak riwayat disebutkan qarin yang mengikuti Rasul tersebut memeluk Islam.  
Riwayat Abdullah bin Mas’ud yang dinukilkan Imam Muslim menyatakan bahwa setiap orang mempunyai qarin dari bangsa jin. Sahabat menanyakan, "Termasuk engkau wahai Rasulullah? “ 
Rasul menjawab, "Iya hanya saja Allah Swt. melindungiku kemudian dia berislam dan tidak memengaruhiku kecuali kebaikan.” 

Riwayat lain dari Muslim juga menyebutkan qarin yang menempel ke manusia itu bukan saja dari bangsa jin tetapi juga ada yang berasal dari bangsa malaikat.
 
Syaitan membujuk manusia  dengan ungkapan yang dilontarkan ke hati manusia melalui geritik hati. Livel-livel bujukan itu adalah sebagai berikut.

1. Syaitan membisiki di hati manusia dengan ungkapan:
(لا تعبده)"Janganlah kamu beribadah; Janganlah kamu berbuat baik, Tidak perlu bersedekah; tidak usah berpuasa; Banyak orang yang meninggal dengan baik, padahal dia malas beribadah!; dan geritik jahat lainnya.

Bila ada bisikan syaitan seperti itu, maka lawanlah dengan Ilmu! Katakanlah di hatimu:
ومالي لا أعبد الذي فطرني وإليه ترجعون
"Buat apa aku tidak menyembah/beribadah kepada orang yang telah menciptakanku"

Aku perlu beribadah sebagai bekalku di akhirat kelak. Jika aku tidak berbuat baik, bagamana nanti aku di akhirat tanpa bekal!

Kemudian jika ia mampu menangkal bujukan itu.  Syaitan akan menggoda dengan bujukan selanjutnya. 
"Benar perlu beribadah dan bekal untuk di akhirat kelak, tapi:
2. Beribadahlah pada akhir hayatmu, nanti saja kalau kamu sudah tua, karena yang dipandang tuhan adalah beribadah diakhir nanti.(اعبده في آخر حياتك، لأن الأعمال بالخواتم)
Nanti saja kamu beribadah, nanti bila umur sudah 60 an baru kamu beribadah. Karena amal itu yang dipandang di akhir. 

Tidak mengapa biar banakal(jadi orang jahat/fasik), nanti hendak mati baru kamu Insyaf(taubat). Nanti saja kamu beribadah, kamu masih muda dan umurmu baru 30 tahun. Orang mati ada yang umurnya mencapai 70 an, bila umurmu 65 an baru kamu mulai beribadah, mulai mengaji, mulai baca al-Qur'an, dan mulai shalat malam/tahajjud.

Banyak manusia yang terjerumus denganbbujukan ini. 

Jawablah dengan Ilmu: "Wahai syaitan, umurku tidak tahu, panjangkah atau pendek!" 
 (الأمر لا أدري، أ طويل أم قصير؟)
Benar saja ada orang yang meninggal dunia umurnya mencapai 70 an tahun, tapi kawanku ada yang meninggal waktu muda, padahal umurnya baru 30, 25 an tahun. Kalau aku menunggu umur 60, boleh jadi aku mati umur 50 tahun, atau besok sudah mati, bagaimana nantinya tanpa bekal?

Kemudian, jika manusia itu tetap bersikeras untuk beribadah, maka syaitan membisikinya lagi:

3. Segeralah beribadah!(عجل بالعبادة!). Bisikan ini bukannya perkara baik. Karena ibadah yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya ibadah itu tidak sah atau tidak benar. 

Ibadah itu diperlulan, tapi mesti dengan pemikiran. Pertimbangkanlah ibadah mana yang lebih utama dan lebih prioritas untuk dikerjakan. Ibadah itu punya martabat, sehingga perlu dipilih&dipilah mana yang perlu disegerakan/didahulukan.

Jawablah: Aku menyembah Allah  Swt. dengan perlahan, karena tergesa-gesa itu dari Syaitan
(أعبده بالتأني، لأن العجلة من الشيطان). 
Misal: Ada uang seratus ribu, ayo segeralah sedekahkan! Mestinya dipikirkan dulu, diberikan kemana? Tidak sembarangan untuk memberikannya. Apakah dia punya hutang?(hutang mestinya dulu dibayarkan). Siapa yang paling berhak menerimanya? Yang paling utama dan urutannya yang mestinya didahulukan misalnya terkait penyerahan infak atau sedekah adalah: 1. Harta diberikan untuk kewajiban nafkah; kemudian 2. Memberikan kepada orang tua kita. dst.

Adapun syaitan memerintahkan yang penting bersedekah dan cepat-cepat. Akhirnya sedekahnya tidak diterima Allah Swt., karena dia meninggalkan yang lebih utama. misalkan bersedekah, tapi hutang tidak dibayar.
 
Jika hal itu bisa diatasi. Kemudian syaitan berbisik di hatinya:

4. "Ayo silahkan beribadah sekuat tenagamu!, Kalau takdirmu keneraka, pasti kamu keneraka juga nantinya.  Bilanya kamu beruntung, pasti ke syurga, bilamana taqdirmu celaka, walau bagaimanapun kamu pasti ke neraka".
Hal ini agar melemahkan semangatnya untuk beribadah dan dia hanya berpegang pada taqdir saja (padahal tidak ada yang tahu takdir seseorang, kecuali Allah Swt). 
Inti bujukan syaitan itu adalah agar manusia tidak beribadah.

Jawablah dengan Ilmu: "Benar saja itu wahai syaitan, orang yang taqdirnya keneraka, pasti nantinya masuk neraka.  Akan tetapi Nabi saw. mengatakan "Taat itu adalah tanda keberuntungan/kesyurga
(الطاعة دليل السعادة). Demikian juga informasi Nabi saw.:"Tiap-tiap orang itu, dimudahkan berbuat sesuatu yang dia ditakdirkan umtuk sesuatu itu(syurga/neraka)(كل ميسر لما خلق له). Jika seseorang ditaqdirkan ke Neraka, maka ia mudah berbuat ma'siat, dosa, berarti taqdir orang ini adalah ke Neraka. Jika ia ditaqdirkan ke Syurga, tentu ia mudah berbuat taat/kebaikan dan beramal ibadah untuk mati ke syurga. 

Urusan perkara takdir, hanya diketahui Allah, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Swt. Jadi aku mesti taat kepada Allah Swt. "Wahai syaitan, urusan aku ini apakah ahli neraka atau ahli syurga, itu merupakan perkara gaib yang ditakdirkan Allah terdahulu. Tidak ada seseorangpun yang mengetahuinya kecuali Allah Swt. Pokoknya aku beribadah, karena taat itu adalah tanda terdahulunya taqdir keberuntungan, sedangkan ma'siat tanda kecelakaan.

Taat merupakan tanda yang sangat menunjukkan atas terdahulunya taqdir keberuntungan. Tidak ada jarak antara orang yang taat dan syurga, melainkan ia mati atas ketaatan. 
Ma'siat merupakan tanda yang paling menunjukkan atas terdahunya taqdir celaka
 "Kalau aku ma'siat, berarti aku ini taqdirnya celaka!" Tidak ada jarak antara orang yang ma'siat dan neraka, kecuali dia mati dalam ma'siatnya.

Setelah 4 livel di atas dapat dilaluinya, usaha syaitan gagal untuk menjauhkan manusia untuk beribadah(taat). Syaitan akan berusaha dan membujuk agar ibadah yang dilakukan manusia itu tidak berpahala. Melakukan hal yang bisa menggugurkan pahala ibadahnya, ataupun agar ibadah itu tidak diterima Allah Swt. 

5. Syaitan berbisik:"Kamu sudah ahli ibadah, kamu berilmu, kamu agung dan dimuliakan orang. Semakin banyak beribadah, tentu kamu dihormati orang-orang dan diagungkan mereka. Rajin-rajin beribadah dan perlahan, kamu sangat bagus. dst.

Semua itu merupakan bujukan syaitan agar ibadahnya tidak ikhlas, karena manusia atau pujian makhluk. 
Jika Ia mengakui/menyetujui atau mengiyakan bisikan syaitan itu, maka ibadahnya tidak ikhlas, sehingga ibadahnya tidak berpahala, dikarenakan selain Allah Swt.

Bilamana ada bujukan syaitan seperti itu, maka jawablah: (أعبده بالله ولله وإلى الله)Aku beribadah itu dengan taufik/pertolongan Allah(بالله), Aku beribadah karena Allah, bukan karena ingin disanjung, dihormati, karna makhluk selain Allah(لله), Aku beribadah kuserahkan kepada Allah(إلى الله), terserah Allah menilainya.

Bila ia sudah mampu mengatasi demikian, berarti dia mengalahkan syaitan. Sehingga Ibadah yang dilakukan dengan benar dan mendatangkan manfaat baginya. 
Dengan demikian melawan syaitan  diperlukan Ilmu pengetahuan. Jika tidak berilmu, tentu akan terbujuk dengan tipu daya syaitan.

والله أعلم

Sumber: Risalah Adab suluk murid.

Share:

Senin, 28 Desember 2020

Ibadah Tafakkur tentang kehidupan dunia dan akhirat

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

Tafakkur(memikirkan)Tentang keadaan  Dunia dan Akhirat

A. Tafakkur tentang Dunia (yaitu sesuatu sebelum mati (ما قبل الموت)):

1. Tentang susah payahnya dalam kehidupan dunia; 

الدنيا دار كد وهم وتعب ولا راحة إلا في الجنة 
Dunia ini adalah negeri yang susah payah

2. Dunia tidak akan dibawa ke akhirat;
3. Dunia itu Tidak ada tempat/sesuatu yang 100 % nyaman,  karena itu pasti susah, cacat dan celanya

B. Tafakkur Akhirat(sesudah kematian/ما بعد الموت):

1. Berpikir semakin hari, kita semakin dekat dengan Akhirat/kematian; 
2. Berfikir Tubuh semakin dekat dengan akhirat, hendaknya hatipun demikian,  semakin dekat dengan kubur/kematian/akhirat. Kubur adalah bagian dari akhirat. Semakin hari dunia semakin ditinggalkan, sehingga dekat dengan ajal kematian. Hendaknya  tubuh dan hati berbarengan menuju dan mendekati akhirat, jangan sampai HATI ditinggalkan karena terikat kuat dan terperdaya oleh dunia yang fana ini(sangat rugi, kesusahan diakhirat), sementara tubuhnya saja berangsur-angsur menuju kematian. Tubuh kita semakin hari, semakin menjauhi dunia demikian juga seharusnya hatipun semakin menjauhi dunia. Pikirkankan agar hatinya agar semakin fokus pada bekal akhirat, memikirkan apa yang akan disiapkan untuk akhirat.

"Manusia yang paling rugi(celaka) adalah Manusia yang tubuhnya semakin dekat dengan kubur/kematian, namun hatinya semakin menjauh dari kubur"

"Sejahat-jahat orang yang tua, adalah orang tua yang masih merasa muda. Umurnya sudah tua, misal umurnya sudah berumur 50 tahunan, tapi hatinya masih seperti umur 30 tahunan, menginginkan ini dan itu seperti anak muda. Paling baik pemuda adalah pemuda yang  hatinya seperti orang tua- hatinya seperti orang yang berumur 60 an, hatinya selalu mengingat kematian dan akhirat"

3. Keadaan Akhirat kelak, bagaimana huru hara hari pembalasan. 

Merasa hidup masih lama tinggal di dunia ini (طول الآمل) merupakan penyakit hati yang membinasakan, merasa umur masih panjang(lawas lagi hanyar mati), hidup masih kira-kira masih  5/10/15 tahun lagi, atau bersiap-siap untuk umur di hari tua nanti hingga lupa hal yang paling penting yang semestinya disiapkannya dengan serius(bekal untuk akhiratnya) , PADAHAL  belum tentu dia akan menemui  hari TUA NANTI. Hal ini yang banyak memperdaya kehidupan manusia.

Manfaat dari berfikir tentang dunia dan akhirat itu adalah menimbulkan sifat terpuji, yaitu berpaling dari dunia dan berhadap kenegeri akhirat. 

Dunia semakin jauh berpaling kepadanya  dan akhirat pasti ditemui.

Hendaklah berfikir apa yang sudah anda siapkan untuk bekal akhirat, karena kematian Nyata dan Pasti. 

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr: 18).

Tentang ayat di atas, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, 

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسوا

artinya: hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Lihatlah amalan shalih apa yang telah kalian persiapkan sebagai bekal untuk hari akhirat dan menghadap Allah Rabb kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 235).

Hendaklah anda perhatikan kebaikan dan keburukan yang anda akan peroleh kelak. Hendaklah memikirkan apa buah yang diperoleh dari amalan kelak di hari kiamat. Apakah akan menuai hasil yang baik ataukah malah akan membahayakan karena kejelekan yang dilakukan.

Jika seseorang menjadikan akhirat sebagai tujuan di hadapannya dan jadi tambatan hati, terus bersungguh-sungguh untuk menempuh jalan menuju akhirat. Bersungguh-sungguhlah dengan melakukan banyak amalan yang dapat mengantarkan pada kesamatan di akhirat kelak.

Pelajaran penting yang bisa kita ambil adalah jadikan akhirat sebagai tujuan. Begitu pula jika kita diberi karunia materi dan rezeki yang melimpah, jadikanlah itu sebagaimana perantara menuju kebaikan dan bekal menuju alam akhirat. 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Saw. bersabda,

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ

Barangsiapa yang niatnya untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya hanya untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2465.)

Berpikir tentang dunia dan  akhirat ini, berfaedah agar dapat berpaling pada dunia dan menghadap kenegeri akhirat. Maka seyogyanya untuk bersemangat menyiapkan bekal akhirat, karena seseorang Nyata akan  menghadapi Akhirat itu. 

Semoga kita semakin memperhatikan amalan kita sebagai bekal di akhirat kelak.

والله أعلم


HINANYA CINTA DUNIA

Rasulullah ﷺ bersabda :

إِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا ، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ. رواه مسلم

"Dunia bagaikan sesuatu yang manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berkuasa didalamnya, maka perhatikanlah apa yang kalian perbuat, berhati-hatilah terhadap dunia, dan waspadailah para wanita."
📚{ HR. Muslim }

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ. رواه مسلم

"Demi Allah bukanlah kemiskinan yang aku takutkan atas kalian, sesungguhnya aku takut dibentangkannya dunia bagi kalian sebagaimana telah dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, kalian saling berlomba didalamnya sebagaimana mereka berlomba untuk mendapatkannya, hingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka.” 
📚{ HR. Muslim }

إنَّ مِمَّا أخافُ عليكم مِن بعدي ما يُفتَحُ عليكم مِن زهرةِ الدُّنيا وزينتِه. متفق عليه

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas kalian sepeninggalku adalah ketika ditampakkan kepada kalian keindahan kehidupan dunia, dan kemewahannya.” 
📚{ Muttafaqun 'Alaih }

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ ، وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ ، فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى . أخرجه الحاكم

“Barangsiapa yang mencintai akhirat-nya niscaya ia mengorbankan dunianya, dan barangsiapa yang mencintai dunianya niscaya ia mengorbankan akhiratnya, maka utamakanlah sesuatu yang kekal (akhirat) daripada yang bakal sirna(dunia).” 
📚{ HR. Hakim }

حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الْآخِرَةِ ، وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الْآخِرَةِ. رواه أحمد

“Pahitnya dunia adalah manisnya akhirat, dan manisnya dunia adalah pahitnya akhirat." 
📚{ HR. Ahmad }

الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا . رواه مسلم

Orang-orang yang kaya di dunia mereka adalah orang-orang yang miskin di hari kiamat kecuali orang yang berpesan: Keluarkan ini sekian, keluarkan itu sekian.”
📚 { HR. Muslim } 

مَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الْآخِرَةَ جَعَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْغِنَى فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَنَزَعَ الْفَقْرَ مِنْ بَيْنِ عَيْنَيْهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا غَنِيًّا ، وَلَا يُمْسِي إِلَّا غَنِيًّا . وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُّنْيَا جَعَلَ اللَّهُ الْفَقْرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ، فَلَا يُصْبِحُ إِلَّا فَقِيرًا وَلَا يُمْسِي إِلَّا فَقِيرًا . وَرَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ

“Barangsiapa yang niatnya untuk akhirat, pastilah Allah menjadikan kepuasan di hatinya, mengurus segala urusannya, dan mencabut kefakiran darinya, dan didatangkan dunia untuknya secara paksa, dan tidak lewat kepadanya waktu pagi kecuali dia dalam keadaan kaya, dan waktu sore kecuali dia dalam keadaan kaya. Dan barangsiapa yang niatnya ditujukan untuk dunia, pastilah Allah menjadikan kemiskinan selalu berada di depan matanya, dan tidak lewat kepadanya waktu pagi kecuali dia dalam keadaan miskin, dan waktu sore kecuali dia dalam keadaan miskin. .”
📚{ HR. Thabrani }

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ. رواه ابن ماجه

"Tinggalkan kemewahan dunia, Allah akan mencintaimu, dan tinggalkan (serakah) pada sesuatu yang dimiliki manusia, engkau akan dicintai manusia.”
📚{ HR. Ibn Majah }


الدُّنْيَا دَارُ مَنْ لا دَارَ لَهُ ، وَمَالُ مَنْ لا مَالَ لَهُ ، فَلَهَا يَجْمَعُ مَنْ لا عَقْلَ لَهُ وعليها يحزن من لا علم له وعليها يحسد من لا فقه له وبها يفرح من لا يقين له. رواه أحمد

"Dunia adalah tempat tinggal bagi orang yang tidak memiliki tempat tinggal, & harta bagi orang yang tak memiliki harta, orang yang mengumpulkannya adalah orang yang tak memiliki akal, orang yang bersedih atasnya adalah orang yang tidak memiliki ilmu, orang yang iri atas barang duniawi adalah orang yang tidak memiliki pemahaman, & orang yang gembira terhadap nya adalah orang yang tidak memiliki keyakinan."
📚{ HR. Ahmad }


Share:

Minggu, 27 Desember 2020

Jika belum, laksanakanlah sekarang Juga! Niat ketika Balig (Awal Dewasa umur +- 15 Tahun)

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

JANGAN LUPA NIAT KETIKA BALIG

"Segala amalan diberikan ganjaran mengikuti Niatnya"

-Berbuat kebaikan secara spontan, tidak sempat niat "seperti menjawab salam, menolong secara spontan, menutup aurat(menjunjung perintah Allah)dll perkara kebaikan(wajib/sunnah)" Menurut mazhab Syafi'i : tidak dapat pahala(harus ada niat,muqaranah  Niat), dan Menurut Mazhab Hanafi : Berpahala, karena sudah termasuk menjunjung perintah Allah dan RasulNya, namun perlu niat pokok secara global ketika Ia Memasuki/tatkala Balig(dewasa)

-Oleh karena itu, Sangat penting Tatkala Balig berniat(Niat Pokok) dgn sungguh-sunguh dalam hati(karna mengundang pertolongan Allah, serta pahala), Contoh: "Mulai hari ini aku berniat sengajaku menjunjung  perintah Allah dan Rasul-Nya  dan Menjauhi segala yang Dilarang Allah dan Rasul-Nya" kalau belum berniat??? dari sekarang niatkan sungguh-sungguh

- Setiap perkara Mubah agar menjadi kebajikan/pahala harus disertai niat yang baik(semua mazhab, tanpa niat baik tidak mendapatkan pahala), Contohnya:
1. Makan niatnya: memperkuat diri untuk mengabdi kepada Allah, Mensyukuri NikmatNya, Menunaikan Hak Badan perlu diberi makan, Menjunjung perintah Allah(كلوا واشربوا...)
2. Tidur niatnya: Supaya enak kuat beribadah tatkala bangun, Menunaikan hak tubuh untuk Istirahat, Menjujung perintah Allah "setiap sesuatu ada hak yang harus dipenuhi"hak tubuh/mata

-Dalam Thariqah ada bimbingan Guru, mewajibkan berniat setiap pagi(bukan hanya waktu balig)selesai shalat subuh meniatkan mensyaratkan diri"Musyaratah/مشارطة": Berjanji dengan diri sendiri "Wahai diriku, kita bersyarat berjanji bahwa kita hari ini akan melaksanakan apa-apa yang disuruh Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah"  niscaya Ia akan ditolong Allah, dimudahkan untuk berbuat baik.

-Niat kebaikan harus dilatih oleh setiap Muslim, agar menjadi kebiasaan(mendarah daging), kalau tidak dibiasakan akan menjadi sulit..

Semoga bermanfaat,...

Sumber Pengajian Ke-18 Guru Muhammad Bakhiet, Kitab Bustanul Arifin, Imam Nawawi, h. 65-66.
Share:

Sabtu, 26 Desember 2020

TATA CARA MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIRATUL IHRAM

Website Kuliah : Studi Islam; Pendidikan Islam; Pendidikan Agama Islam; IAIN Palangka Raya

TATA CARA SHALAT/MENGANGKAT TANGAN KETIKA TAKBIRATUL IHRAM DAN MELETAKKANNYA

(Mengangkat Tangan Bermakna pertanda menyerah di hadapan Allah/Menyisihkan hal-hal yang mengganggu di hadapan Allah Swt), di antaranya:

1. Mulai Membaca "الله أكبر" ketika tangan sejajar dengan bahu, hingga bacaan takbir berakhir hingga turun(tangan di atas pusat di bawah dada);
2. Membaca "الله أكبر" hanya ketika tangan sejajar dengan bahu;
3. Membaca "الله أكبر" dimulai ketika mengangkat tangan sampai tangan sejajar bahu;
4. Membaca "الله أكبر" ketika mengangkat tangan sampai tangan berjuntai rata, kemudian baru meletakkan tangan sedikt kekiri di atas pusat di bawah dada).
5. Membaca "الله أكبر" dimulai ketika mengangkat tangan hingga bacaan berakhir sampai meletakkan di atas pusat di bawah dada.

Sumber lihat:

1. Pengajian Kitab Shalat dari  Ihya Ulumiddin ke-7,menit 30 s.d. 32.30. Guru  Bakhiet

https://youtu.be/M6Hnq9nHz

2 . Pengajian ke-18, Bidayatul Hidayah, Al-Ghazali, Guru Bakhiet.

Semoga Bermanfaat... Aamiin
Share:
Copyright © Web Kuliah Abdullah | Powered by Blogger | Design by ronangelo Theme Editor: Abdullah Jejangkit | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com